
Malam itu, ketika sudah sangat larut, Bening mendengar bel berbunyi entah sudah berapa kali. Berbeda dengan rumah nyonya besar yang memiliki staff keamanan, rumah minimalis milik Gara tidak memilikinya. Jadi, jika ada yang pulang, maka harus ada yang membukakan pintu.
Bening segera berlari ke depan. Saat ia membuka pintu, bau alkohol menyeruak dari mulut Revi yang sudah meracau. Bening segera memapah istri tuan Gara itu. Revi yang sudah mabuk berat itu memandang Bening dengan penuh kebencian.
"Harusnya kau tak ada, Bening!" desisnya penuh kekecewaan. Namun, tenaganya sendiri lemah. Dia masih kuat meracau, tapi tak kuat berjalan jika tak Bening bantu.
"Kita ke sana dulu sebentar ya, Nyonya muda." Bening tak menghiraukan Revi yang terus meracau dan mengumpat kepadanya. Ia tetap mendudukkan Revi di atas sofa lalu mulai membungkuk dan membuka sepatu hak tinggi di kaki jenjang perempuan itu. Setelah itu, Revi malah muntah. Muntahannya tepat mengenai baju kaus tidur yang Bening kenakan.
Bening tidak jijik sama sekali, ia tetap melayani nyonya muda itu dengan baik. Bening kemudian membantu Revi naik ke atas. Rupanya, hal itu terdengar oleh Gara yang terbangun. Dia berdecak dan menggeleng lalu mengambil alih Revi dari Bening yang sedang memapahnya. Revi kemudian meraih wajah Gara, menciumnya dengan rakus di depan Bening yang lantas segera menunduk lalu berbalik.
Gara melepaskan perempuan itu dengan susah payah. Ia menyempatkan diri menoleh kepada Bening yang sudah menuruni anak tangga.
"Bening, bersihkan dirimu ya. Bajumu jadi kotor begitu. Setelah ini, tidurlah."
"Baik, Tuan."
Pintu kamar itu kemudian tertutup. Bening segera turun dan pergi ke kamar mandi. Dia membuka kaus yang sudah kotor karena muntahan Revi. Bening juga langsung mencucinya, lalu segera menjemurnya tak jauh dari kamar mandi itu pula.
Revi mungkin stress berat karena harus menerima pernikahan Gara dan Bening tak lama lagi. Ia selalu lari kepada alkohol. Di dalam kamar, Gara sudah berbaring di seberang ranjang, di atas sofa. Ia melihat Revi yang sudah tertidur pulas.
"Tidak ada yang salah dari keputusan ini, Sela. Kau sendiri yang membuat aku lelah denganmu," desis Gara lirih sebelum akhirnya dia memejamkan mata.
Besok pagi sekali, Bening sudah menyiapkan sarapan untuk kedua majikannya. Revi masih diam membisu sedang Gara pun begitu. Suasana hening hanya diwarnai dengan denting sendok dan garpu yang beradu.
"Aku pergi, Gara. Hari ini, pemotretanku di lakukan di Bogor."
"Pergilah." Gara menyahut ringan.
Revi merasa hatinya sakit. Kalau dulu, Gara akan meminta kepadanya dengan sangat, untuk tidak melakukan pemotretan agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua. Kini, lelaki itu mengizinkannya dengan begitu ringan. Namun, Revi tidak mengatakan apapun lagi selain berbalik lalu melangkah dengan hati yang mulai hancur. Baru ia sadari, betapa berharganya sebuah perhatian yang kini tak lagi didapatkannya dari Gara.
"Bening, aku sudah selesai. Aku akan ke perusahaan. Hari ini, ada pertemuan dengan perusahaan asing. Mungkin, aku akan pulang terlambat. Kau jangan lupa makan," kata Gara sembari meraih jasnya lalu menyampirkannya di bahu.
Gara menoleh, lalu mengangguk. Bening membiarkan Gara keluar dari rumah itu sementara ia sendiri membereskan meja makan lalu mengerjakan tugas lainnya. Hari ini, Bening punya agenda untuk mengisi waktu luang setelah pekerjaannya beres dengan menanam sayuran di belakang rumah itu.
Gara sudah sampai di perusahaannya beberapa saat kemudian. Ia melangkah penuh wibawa tapi tak langsung menuju ke ruangannya. Ia masuk ke dalam ruangan HRD dimana kepala HRD sedang memeriksa berkas-berkas mahasiswa magang yang akan segera menyelesaikan magang mereka di sana.
Ada satu wajah yang Gara lihat, sosok yang sempat ia lihat ketika di supermarket waktu itu. Dani juga melihat Gara, sekian detik, keduanya saling melihat.
"Pak Gara, kenapa repot kemari? Padahal biarkan saya yang menemui Bapak." Kepala HRD segera meletakkan berkas-berkas itu, juga meninggalkan sementara para mahasiswa mahasiswi magang.
"Tak apa, Rudi. Aku memang sengaja ingin ke sini. Aku hanya ingin mengatakan, beberapa hari ke depan aku tidak akan berada di perusahaan."
"Baiklah, Pak Gara. Apa Bapak akan ke Banjar lagi untuk melihat proyek kita di sana?" tanya Rudi.
"Kau benar, aku akan ke Banjar, tapi bukan untuk meninjau proyek itu. Aku akan menikah lagi."
Rudi nampak diam sesaat tapi kemudian dia tercengang. Menikah? Bukannya hubungan atasannya dengan istri yang seorang model terkenal itu sangat harmonis?
"Baik, Pak Gara, saya hanya bisa mendoakan kelancaran acaranya nanti."
Gara mengangguk lalu segera kembali ke ruangannya sendiri. Rudi kembali fokus dengan para mahasiswa magang di ruangannya itu. Namun, satu orang di antara para mahasiswa itu tidak fokus sama sekali. Dia malah sibuk memikirkan informasi tadi. Bos perusahaan itu akan menikah dengan orang Banjar? Lalu, ia terkesiap. Apakah Bening? Beningkah yang akan dinikahi oleh lelaki kaya yang sudah beristri itu?
Maka selepas ia selesai dengan kegiatan di perusahaan yang tak lagi banyak di hari-hari terakhir ia magang, pemuda itu langsung bergegas pergi dengan motor besarnya menuju sebuah alamat. Alamat yang diperolehnya susah payah dari security perusahaan itu dengan sogokan rokok tiga bungkus.
Bel berbunyi beberapa kali, Bening yang baru saja hendak pergi ke taman belakang mengurungkan langkah dan membalik arah menuju ke depan. Saat ia membuka pintu, ia tersentak kaget.
"Bang Dani?" tanya Bening berusaha tenang.
"Bening," ujar Dani lirih lalu ia meraih Bening yang belum sempat menghindar itu masuk ke dalam pelukannya. "Aku menyesal, Bening. Aku sudah bilang kepada kedua orang tuaku, aku ingin meminangmu. Apa aku terlambat?"
Bening tak mampu menjawab, namun dia melepaskan pelukan Dani perlahan. Bening tidak berkata apapun. Namun, kemudian dia mengangguk pelan, menjawab pertanyaan Dani yang hatinya sudah sesak karena penyesalan.