Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Menunda Selamanya


Banjar begitu indah dengan dua insan yang sudah halal, Bening dan Gara menikmati romantisme pasangan pengantin baru. Terhitung sejak kemarin hingga hari ini, entah sudah berapa kali Bening dan Gara melakukannya. Bening juga mulai belajar untuk mengambil alih permainan. Gara tidak bisa menahan gejolak lain dari hatinya kini. Ada yang lebih dari sekedar nafsu juga keinginan untuk segera memperoleh keturunan. Ada yang hangat menjalar ke hatinya setiap kali ia menatap Bening. Ada yang terbangun dari tidur panjangnya. Perasaan. Ya, sebuah perasaan.


"Mas Gara, terima kasih karena sudah mengembalikan sawah, membuatkan rumah juga membeli lahan perkebunan untuk keluargaku." Bening tersenyum menatap Gara yang sedang menatapnya pula. Mereka sedang duduk di kaki bukit, ada pedagang jagung bakar yang akhirnya menggoda mereka untuk mampir.


Bening ingat, hampir satu minggu mereka di Banjar sampai hari ini, Gara sudah mewujudkan cita-citanya untuk membuat bapak dan ibu bahagia. Lahan perkebunan yang nanti akan ditanami segala macam tumbuhan yang utama adalah sayur mayur itu juga telah ada pegawai. Sawah yang akan digarap oleh beberapa petani, semuanya warga Banjar. Semua atas nama Bening yang dihibahkan kepada keluarganya tercinta. Bapak mendadak jadi juragan, membuatnya begitu rendah hati agar tak lupa pada kehidupan di masa silam. Rumah yang besar dengan lahan yang luas juga sudah mulai dibangun. Bapak dan ibu tidak berhenti sujud syukur, begitu juga Dewi yang merasa sangat terharu atas pengorbanan kakaknya itu.


"Semua tidak sebanding dengan pengorbananmu, Bening. Kau sudah merelakan hidup dan dirimu sendiri, maka semua yang kuberikan pasti tidak akan ada bandingannya," jawab Gara sambil mengusap puncak kepala Bening.


Bening tersenyum kecil menerima perlakuan itu. Gara terlihat begitu menyayanginya. Walau Bening tak mau kepedean juga sadar bahwa pernikahan mereka berawal dari kesepakatan, tetapi Bening bisa melihat ketulusan lelaki itu untuknya. Perlakuan Gara jauh dari kata dingin. Lelaki itu menyenangkan, sosok yang mudah diterima oleh wanita mana saja. Hati Bening tersentuh, betapa berdosanya Revi yang sudah menyia-nyiakan lelaki sebaik Gara, meski kata nyonya besar, Gara itu brengsek sekali di masa lalu.


"Kau keberatan jika besok kita kembali ke Jakarta?" tanya Gara sembari mengigit jagung bakar yang masih hangat itu.


"Tidak apa, Mas. Bening ikut semua kata Mas Gara."


Mendengar itu, Gara jadi terlena. Beginilah maksudnya selama ini, dihargai sebagai suami, istri yang menurut seperti Bening yang memang dia cari. Gara dan Bening saling melempar tatapan lagi dengan masih menggigit jagung masing-masing.


"Bening, nanti malam lagi ya," kata Gara sambil tersenyum. Bening menunduk malu, tapi kemudian dia mengangguk.


Sementara Bening dan Gara sedang menikmati menjadi pengantin baru, Revi duduk termenung di salah satu bangku taman rumah sakit. Di tangannya tergenggam surat dari rumah sakit. Mata perempuan itu sedari tadi berembun, basah kemudian.


Revi beberapa hari yang lalu sudah begitu mantap untuk membuka ikat rahimnya. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, hari ini ia mendapatkan kabar tak sedap. Ada masalah di rahimnya, rahimnya melemah. Revi ingat, beberapa tahun belakangan ini begitu rutin mengkonsumsi obat-obatan keras yang berefek untuk membentuk tubuhnya. Sayang, hal iu ternyata mempengaruhi kondisi rahim.


"Jadi, maksud dokter, saya tidak bisa lagi mengandung?" tanya Revi dengan airmata sudah keluar.


"Kemungkinannya akan sangat kecil, Nona. Ada beberapa obat hormon yang menjadi terapi rutin Nona selama ini, yang akhirnya berimbas pada kondisi rahim. Rahim Nona sangat lemah sekarang."


Revi kembali lagi ke alam sadarnya. Tadinya dia pikir, bisa kembali meraih cinta Gara dengan ia yang bersedia hamil. Ia bahkan tak peduli lagi bila harus kehilangan karirnya demi Gara. Sayang, semua sudah terlambat.


"Revi, menunda boleh saja. Tapi kalau sudah bertahun-tahun, bukan tak mungkin Tuhan akan murka dengan tidak lagi memercayakan rahim kita untuk bisa mengandung."


"Revi sehat, Ma. Nanti saatnya tiba, pasti akan mengandung juga buat Gara."


Dan sekarang semuanya terbukti. Niat hati ingin menunda sementara, ternyata Tuhan telah mencabut nikmat mengandung itu dari Revi. Revi menelungkup telapak tangan di wajahnya. Bahunya terguncang hebat. Dia tidak akan bisa lagi memberikan Gara anak.


"Gara, aku gak mau kamu sampai jatuh cinta sama pembantu itu." Revi terisak-isak. "Kamu milikku, Gara. Aku satu-satunya kesayanganmu," lanjut Revi dengan bahu masih terguncang hebat.


Revi mengangkat wajahnya lagi, dia bertekad akan kembali merebut Gara. Ia beranjak dari duduknya, lalu berjalan gontai menuju mobilnya. Revi kembali menangis tersedu-sedu dengan tangan memeluk setir.


Ketika besok sorenya saat Revi baru saja pulang dari syuting, ia melihat mobil Gara sudah terparkir di depan rumah. Ia berlari, masuk ke dalam dan hendak menerjang Gara dengan pelukan, tetapi pemandangan yang dilihatnya sungguh menyesakkan dada. Di dalam kamar Bening, Revi melihat Gara merapatkan tubuhnya dengan Bening dekat tembok, mereka sedang berci*man mesra.


Revi berang, ia masuk ke dalam, menyentak Gara membuat Gara terpaksa menjauh dari Bening. Revi mencengkram bahu Bening kuat lalu menamparnya berkali-kali di depan Gara yang seketika berang melihatnya.


"Berhenti! Kalau tidak, aku pastikan kau akan aku talak sekarang juga!"


Revi menghentikan kebrutalannya menyiksa Bening. Ia menatap nanar Gara lalu berlari menjauh. Gara segera meraih Bening ke dalam pelukannya.


"Maaf, Bening. Aku akan memberi perhitungan kepadanya," desis Gara.


"Jangan, Mas. Biarkan. Nyonya muda sedang terluka dan saat ini, aku lah penyebabnya."


Gara menggeleng, ia kembali memeluk Bening erat. Revi sendiri meringkuk di kamarnya, memukul perutnya sendiri dengan geram karena merasa gagal menjadi perempuan yang sempurna. Tuhan mengabulkannya, Revi tidak akan bisa mengandung selamanya.