Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Minta Restu Mama


Tepat beberapa hari sebelum rencana kepergian Gara dan Bening ke desa mereka, Gara membawa Bening beserta Abi untuk pergi mengunjungi nyonya besar yang saat itu baru saja selesai melihat para pelayan di rumah itu membersihkan kolam renang.


Lalu nyonya besar kembali ke ruang makan, membantu para pelayan lain menyiapkan apa-apa yang akan dibawa untuk pergi ke panti asuhan tempat ia biasa beramal bersama suaminya.


Kedatangan mereka tentu saja disambut oleh nyonyabesar dengan sukacita, apalagi saat itu ia sedang menyiapkan banyak sekali makanan yang akan dibagikan ke anak-anak yatim di panti asuhan. Dengan senang hati Bening membantu nyonya besar untuk menyiapkan itu semua.


"Selain ini kegiatan rutin Mama dan papa, ini juga sekalian untuk mensyukuri rahmat dari yang maha kuasa bahwa sebentar lagi kami akan diberikan cucu lagi," begitu kata mama dengan ceria kepada Bening yang hanya tersenyum menanggapinya. Padahal hari itu, dalam hati Bening saat ini dia sedang bingung harus mengutarakan rencana kepergian mereka ke desa nanti bagaimana kepada mertuanya.


"Nanti Bening ikut ya, Ma, pergi ke panti asuhannya. Bening juga mau lihat anak-anak di sana," kata Bening kepada ibu mertuanya yang segera mengangguk.


"Tadinya Mama tidak mau merepotkanmu, Bening, karena kau kan sedang hamil. Apalagi sekarang kandunganmu itu sudah sangat besar sekali jadi Mama tidak mau kau kecapean. Tapi kalau kau memang memaksa mau ikut ya sudah, tak apa-apa, yang penting vitamin dan susu sudah diminum dan juga istirahatmu sudah cukup karena panti asuhan yang akan kita temui ini jaraknya cukup jauh dari sini," kata ibu mertuanya.


"Tak apa, Ma, Bening sekarang sehat-sehat saja. Bayi Bening juga kuat."


Mereka melanjutkan mengepak beberapa makanan yang sudah dimasukkan ke dalam box dan menyusunnya rapi ke dalam kantong plastik dengan ukuran yang cukup besar.


"Oh iya, Ma, itu amplop-amplop yang bakal kita isi sama uang ya?" tanya Bening sembari menunjuk beberapa tumpukan amplop yang sangat banyak di atas meja makan. Ibu mertuanya itu mengangguk cepat.


"Iya, Bening, nanti itu akan kita isi beberapa lembar setiap amplopnya." Nyonya besar menjelaskan.


Kemudian nyonya besar pergi ke atas di mana kamarnya berada dan kembali dengan membawa setumpuk uang. Selagi para pelayan meneruskan kegiatan mengepak makanan dan memasukkannya ke dalam kantong plastik dalam ukuran besar, Bening dan nyonya besar saat ini sedang memasukkan uang itu ke dalam amplop yang sudah disusun rapi.


"Oh iya, tumben sekali kalian berdua pergi ke sini karena kata Gara, beberapa hari ini dia cukup sibuk. Tapi kalian bisa kesini hari ini?" tanya nyonya besar setelah menyadari bahwa kedatangan Bening dan Gara memang tidak seperti biasanya, bukan di hari santai. Apalagi dia tahu saat ini di perusahaan, Gara sedang sibuk sekali. Ia juga sebelumnya mengira bahwa Gara tidak akan sempat untuk pergi mengunjungi rumahnya yang megah itu dalam beberapa hari ini.


Bening tak langsung menjawab, ia malah ragu untuk mengatakan rencana kepergiannya itu kepada ibu mertuanya. Beberapa kali dia melirik Gara yang saat ini sedang mengobrol santai bersama dengan ayah mertuanya.


Akhirnya, setelah mengetahui kode dari lirikan mata Bening, Gara mendekat ke arah ibunya dan Bening yang saat ini sedang sibuk mengisi amplop dengan uang.


Seakan mengerti dengan hal itu, akhirnya Bening bernapas lega. Ia pergi menemui papa mertuanya dan mulai asyik mengobrol seputar kehamilannya juga kegiatannya sehari-hari di rumah jika Gara tak sedang berada di sisinya. Sementara itu, Gara mulai membantu nyonya besar


"Ma, aku ingin ngomong sesuatu sama Mama dan mungkin Mama aku sedikit keberatan, tapi aku berharap Mama bisa mengerti."


"Ada apa, Gara, sepertinya serius sekali?" tanya mamanya


"Tiga hari lagi kami akan pulang ke desa ..."


"Loh-loh, pulang ke desa? Kau kan sudah tahu Bening itu kehamilannya sudah tua, Gara. Sebentar lagi akan segera melahirkanz kok bisa-bisanya sih kalian mau pulang kampung di saat seperti ini?"


Nyonya besar memotong perkataan Gara yang bahkan belum selesai. Hal itu memang sudah diduga oleh Gara sebelumnya bahwa ibunya pasti akan sedikit keberatan melepas kepergian mereka saat ini, tetapi Gara berusaha untuk memberikan pengertian kepada ibunya itu.


"Bening rindu sekali ibu dan ayahnya, Ma, kasihan. Aku sering sekali melihatnya mengigau setiap kali dia tertidur. Mungkin di kehamilan kedua ini, dia memang lebih ingin berkumpul bersama keluarganya di desa."


"Tapi ini sudah dekat tanggal perkiraan lahir loh Gara, bukannya Mama tidak mengizinkan. Hanya saja akan beresiko kalau Bening pergi keluar dari kota Jakarta seperti ini."


"Gara sudah mempersiapkan semuanya dengan baik kok, Ma, tidak apa-apa. Mama mengizinkan bukan?" tanya Gara kepada nyonya besar dengan penuh harap.


Nyonya besar tak langsung menjawab, beberapa kali dia melirik Gara dan juga Bening bergantian, tapi kemudian dia menarik nafas panjang menghelanya berat kemudian. Yang ada dalam pikirannya adalah keselamatan dan kesehatan Bening juga cucu keduanya.


"Ya sudah, Mama tidak bisa menahan kalian kalau memang itu sudah menjadi keinginan kalian. Tetapi kalian harus berhati-hati ya Gara," putus nyonya besar akhirnya.


"Kami tidak lama kok, Ma, paling semingguanlah berada di sana, setelah itu kan langsung kembali," ujar Gara kemudian.


Akhirnya ibu mertua Bening itu menyetujui dan Bening yang di beri tahu hal itu oleh Gara sangat bersyukur. Bersama ibu mertuanya kemudian mereka pergi menggunakan satu mobil ke panti asuhan tempat dimana keluarga Gara memang sudah lama menjadi donatur di sana. Tapi nyonya besar malah punya keyakinan bahwa Bening pasti akan lebih dulu melahirkan di desa nantinya.