Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Rahimmu, Bukan Hatimu!


Revi kembali dari luar kota setelah beberapa hari dari kejadian Bening ospek waktu itu. Sekarang, Bening sudah resmi jadi mahasiswi jurusan bisnis. Ia pergi dan pulang kuliah diantar jemput Gara. Malam ini pula, nyonya besar datang mengunjungi Bening ke rumah barunya. Ia berdecak kagum melihat rumah pilihan Gara untuk Bening.


"Tapi harusnya, Bening itu tinggal saja dulu dengan Mama. Kan kau sedang hamil, bagaimana Mama bisa memantaumu kalau berjauhan begini. Kemarin Mama menelepon ibumu di desa, beliau selalu khawatir dengan keadaanmu yang berjauhan dengan kami," ungkap nyonya besar sambil mencomot tempe mendoan yang baru saja di angkat dari minyak panas oleh Bening.


Bening hanya tertawa kecil mendengar celotehan ibu mertuanya itu. Ia juga akan menelepon keluarganya nanti dan memberi pengertian kepada mereka. Bening tahu, bapak dan ibu pasti khawatir dengannya yang masih sangat muda dan tengah hamil muda pula. Tingkah kehamilan dengan ibu berusia di bawah dua puluh tahun memang beresiko sekali.


"Nanti Bening telepon ibu dan bapak ya, Ma, biar mereka bisa tenang."


Nyonya besar mengangguk sembari membawa piring yang sudah berisi tempe mendoan itu ke depan. Gara belum pulang dari perusahaan karena kebetulan ada beberapa koleganya datang untuk bersantai di sana. Dia juga sudah memberitahu Bening di telepon tadi bahwa dia akan pulang terlambat.


Pas pula, nyonya besar datang, jadi Bening tidak kesepian. Perihal kejadian di kampus waktu itu, nyonya besar sama sekali tidak tahu. Bening dan Gara sengaja menutupi agar nyonya besar tidak murka dan datang ke kampus. Gara paling paham watak mamanya itu.


Ketika sedang bersenda gurau sembari menikmati camilan ringan itu, bel rumah Bening berbunyi. Bening bergegas ke depan sementara nyonya besar tetap di tempatnya. Bening mengerutkan dahi, entah siapa yang akan berkunjung ke rumah itu karena setahunya yang tahu kediaman barunya bersama Gara hanya dia, Gara, nyonya dan tuan besar. Oh, mungkin security yang bertugas jaga malam, pikir Bening di dalam hatinya.


Namun, setelah membuka pintu yang ditemukannya bukanlah lelaki berseragam keamanan, tetapi perempuan cantik dengan dress ketat yang tengah membelakanginya. Perempuan itu berbalik, Bening memaksa seulas senyum yang dibalas tatapan sengit hendak membunuh.


Terlebih setelah itu, bahu Bening terasa didorong ke belakang, membuat Bening mundur beberapa langkah.


"Mbak Revi sudah pulang?"


"Jangan banyak basa basi!" Revi memandang sinis dirinya. Lalu merangsek masuk dan memandang sekeliling dengan tangan terkepal. "Hebat kamu ya, cuma dengan meminta kau bisa dapat semuanya!" desis Revi penuh kemarahan.


Bening menarik nafas panjang, ia sudah menduga, rumah ini akan membawa perpecahan lagi di antara dirinya dan istri pertama Gara.


"Maaf, Mbak, tapi ini memang mas Gara yang membelikan, aku tidak pernah memintanya."


"Kau kira aku percaya?" Revi mendekat lalu mencengkram dagu Bening dan menghempaskannya ke samping kemudian.


"Muak aku melihatmu! Aku sudah cukup bersabar melihat membiarkan kau merebut semua yang harusnya menjadi milikku! Gara! Mertuaku! Sekarang kau ingin menguasai perlahan hartanya?!" Suara melengking Revi memancing nyonya besar yang tadinya tidak tahu ada perempuan itu, keluar.


"Hentikan, Revi. Bening tidak bersalah," kata nyonya besar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia berdiri tak jauh dari mereka.


"Mama juga membelanya sekarang?" tanya Revi dengan pandangan marah dan terluka.


"Mama tidak membela siapa-siapa. Tapi kenyataan memang mengharuskan Mama mengatakan hal itu. Kau harusnya merenung, mengapa sekarang semua ini bisa terjadi. Gara tidak mungkin berpaling kalau kau menghargai dia sebagai suami. Sekarang, Gara sudah membebaskanmu untuk berkarir, mencari popularitas setinggi angkasa seperti cita-citamu dahulu."


Revi terdiam, ia tidak bisa membantah sebab apa yang dikatakan oleh mertuanya memang benar.


"Tapi dia merebutnya, Ma! Lihat, sekarang Gara membelikannya rumah sebagus ini! Gara bahkan tak meminta izinku!"


"Sudah, Gara tahu apa yang harus dilakukannya. Jangan membandingkan kau dengan Bening, jangan membandingkan apa yang kau dapat dengan apa yang Bening punya sekarang. Ini hanya sebagian kecil dari semua kebaikan yang pernah Gara beri kepadamu."


Revi menatap Bening semakin sengit.


"Ingat, Gara hanya menginginkan rahimmu, bukan hatimu. Aku pastikan kau akan berpisah dari suamiku setelah anak itu lahir! Aku tidak sudi melihat kau terlalu lama berada dalam keluarga ini!" bisik Revi saat dia akan melangkah keluar tepat di samping Bening.


Bening hanya diam saja, membiarkan Revi berlalu dan segera mendekat kepada nyonya besar yang malas membahas tentang menantu pertamanya itu.


"Abaikan saja, Bening. Fokus saja dengan kuliah dan kehamilanmu. Jangan memikirkan yang seharusnya tak perlu dipikirkan."


Bening mengangguk, dia juga tidak tahu harus menanggapi kedatangan Revi hari bagaimana. Juga sebaiknya tak menceritakannya kepada Gara.