Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Ini Mengejutkan!


Perjalanan ke rumah nyonya besar terasa sangat lama saat ini, mungkin karena di dalam mobil, Gara dan Bening menghabiskan waktu hanya dalam keheningan. Tidak ada di antara mereka yang berbicara saat ini, situasi tiba-tiba saja menjadi canggung lagi. Gara paham betul, Bening sedang mengatur ketenangan untuk dirinya sendiri. Beberapa kali ia melirik Bening yang nampak meremas tangannya sendiri, ia tahu bahwa perempuan itu sangat gugup saat ini.


"Kau pasti gugup, Bening," ungkap Gara memecah keheningan di antara keduanya. Bening menoleh, ia tak menampik hal itu jadi ia segera mengangguk. "Jangan gugup, ada aku yang akan menjelaskan semuanya kepada mama," sambung Gara dengan tenang.


"Aku juga sedang memikirkan kedua orang tuaku, Tuan Gara. Aku belum mengatakan apapun kepada mereka tentang rencana pernikahan ini, mereka nanti akan sangat terkejut," keluh Bening


"Ya, aku juga tahu pasti hal itu, karena itu kita lebih baik terlebih dulu menemui kedua orang tuaku. Nanti jika sudah ada persetujuan dari mama dan papa, kami pasti juga akan datang ke rumahmu untuk melamar kau, Bening."


Melamar. Tiba-tiba saja satu kata itu begitu akrab dengan Bening. Ia menggali lagi ingatan ketika datang ke Jakarta yang akhirnya bukan hanya akan membuatnya mendapatkan pekerjaan walau hanya sebagai seorang pembantu, tapi juga hal yang lebih daripada itu, ia akan segera menikah dengan lelaki sempurna bernama Gara, yang menikahinya hanya karena ingin memiliki anak.


Tetapi tetap saja, Bening tidak bisa memastikan jika nanti apakah tidak akan ada perasaan di antara keduanya. Sekarang saja, Bening bisa merasakan jantungnya berdebar-debar keras, meskipun ia tidak ingin mengatakan bahwa dirinya mungkin sudah nyaman dengan lelaki itu, tetapi tetap saja Gara adalah seorang yang telah mengusik hati Bening tanpa diduga, yang selama ini tidak pernah terisi oleh pria manapun. Bening kira, setelah kemarin sempat mengagumi Dani dan kecewa karena lelaki itu, ia tidak akan pernah jatuh cinta lagi kepada laki-laki tetapi sekarang hatinya terasa berbeda. Namun, Bening tak mau besar kepala, dia sadar niat Gara menikahinya jelas karena ingin punya keturunan yang tidak bisa dia dapatkan dari Revi, istrinya.


"Tuan Gara, bagaimana kalau nyonya besar menolakku? Ia menerima aku sebagai pembantu bukan sebagai menantu."


"Kau harus tahu satu hal, Bening, mama bahkan telah meminta aku untuk menceraikan Revi karena sampai sekarang dia tidak kunjung mau memberikan aku keturunan, walaupun ia sebenarnya bisa memberikannya. Jadi mana mungkin mama menolak jika aku menikahimu ini dengan alasan yang jelas karena aku ingin mendapatkan anak dan memberikan mereka cucu. Mereka pasti akan menerimanya, Bening."


"Tapi kita semua tahu, Tuan, bahwa Bening bukanlah orang yang sepadan dengan keluarga besar Tuan Gara. Saya hanya orang kampung yang datang dari desa untuk mencari pekerjaan di Jakarta, bukan untuk menikah apalagi dengan Tuan Gara yang sangat berbanding terbalik kehidupannya dengan saya."


Mendengar itu, Gara hanya tersenyum kecil. Ia tahu saat ini Bening sedang merasa rendah diri dan merasa tidak pantas bersanding dengannya, tetapi Gara tidak memperdulikan itu, ia hanya menenangkan Bening melalui sorot matanya.


Deru mobil yang semakin mengarah ke arah rumah megah milik nyonya besar semakin membuat hati Bening jadi berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang nanti akan dikatakannya kepada nyonya besar yang sudah begitu baik kepadanya itu. Security yang membukakan pintu gerbang pertama sedikit tercengang melihat Bening yang berada di dalam mobil tuan Gara. Pun ketika mereka telah sampai di depan halaman luas milik nyonya besar, saat Asih melihat Bening turun bersama Gara, ia lantas membelalakan mata. Ia memicingkan matanya dan segera mendekat ke arah Bening yang sempat ditinggalkan oleh Gara sebentar.


"Bagaimana bisa kau duduk bersama tuan Gara?! Kau benar-benar tidak tahu malu," sentak gadis itu dengan penuh rasa iri juga dengki di dalam hatinya.


"Belagu sekali kau ya, mentang-mentang kau bisa mengambil hati tuan Gara, jadi kau berlagak seperti nyonya besar saat ini!" Asih masih meledek dan menyerang Bening dengan kata-kata pedasnya juga dengan selang masih berada di tangannya.


"Bening, ayo masuk! Kenapa kau masih di luar saja?" Gara kembali muncul lalu meraih jemari Bening dan membawanya ke dalam diikuti tatapan tercengang Asih.


Asih segera kembali ke pekerjaannya, ia tidak ingin nanti ia betulan dipecat karena sudah mengusik Bening. Walau ia masih sangat penasaran. Sedang Bening, melangkah dengan gontai ke dalam rumah nyonya besar.


"Nyonya besar sedang di ruangannya?" tanya Bening. Gara mengangguk.


Langkah bening rasanya semakin berat, saat ia masuk ke dalam lift bersama Gara yang sedari tadi memandang dirinya begitu lekat. Bening semakin gugup bukan main. Bagaimana jika nanti ia betulan mendapat penolakan dari nyonya besar? Lebih gawat kalau ia sampai dipecat. Walaupun nyonya besar menunjukkan ketertarikan kepadanya saat ia masih bekerja kepada perempuan itu, tetapi ia sadar diri, dia hanya orang miskin yang kebetulan diterima bekerja sebagai pembantu di rumah itu. Dia tidak sepadan dengan keluarga besar yang terhormat itu.


"Masuklah, Bening, aku sudah menunggumu. Kata putra bungsu ku, ia datang bersamamu hari ini."


Nyonya besar terdengar tenang menyambut Bening ketika pintu telah terbuka. Bening dan Gara masuk ke dalam ruangan itu. Bening tak henti meremas tangannya, ia gugup sekali, hingga tanpa terasa keringatnya pun terasa di telapak tangannya dan menjadi basah.


"Oke, Gara, jelaskan kepada Mama maksud kedatangan kalian berdua dan Mama akan mulai mendengarnya darimu."


Gara segera menoleh sebentar kepada Bening yang juga refleks menoleh kepada lelaki itu. Lewat sorot matanya, ia meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Ma, aku akan menikahi Bening, aku akan segera memberikan Mama dan papa cucu."


Terlihat sorot mata tenang dari nyonya besar yang saat ini sedang menatap keduanya dengan lekat secara bergantian. Bening sungguh jadi gugup lagi, nafasnya nyaris terhenti menunggu respon dari nyonya besar yang saat ini masih diam membisu. Ini Mengejutkan? Tentu saja.