
Terhitung sejak test tertulis kemarin, Gara dan Bening pun sudah tinggal di rumah Gara tiga hari. Revi belum juga pulang, kesibukannya di dunia permodelan dan syuting film sedang padat-padatnya. Namun, perempuan itu sekarang jadi lebih sering menghubungi Gara, hanya untuk menanyakan sedang apa Gara sekarang, sudah makan atau belum dan hal lain yang menunjukkan rasa perhatian perempuan itu kepada suaminya.
Namun, Gara bukannya senang mendapat perhatian itu, dia malah jadi geli sendiri. Aneh. Sebab selama ini Revi tidak pernah menanyakan hal semacam itu, bahkan ketika dulu Gara merindukan hal kecil semacam itu dari Revi, perempuan itu seolah tidak pernah peduli bahkan menganggap hal semacam itu seperti lelucon di pagi hari.
Semenjak itu hati Gara jadinya kebas. Pun ketika pagi buta ia mendapat telepon dari Revi yang bertanya apa yang sedang dilakukannya, Gara hanya menyahut dengan malas.
"Kamu seperti gak semangat setiap aku telepon, Gar."
"Memang tidak, Sela." Gara berkata dengan jujur.
Di ujung telepon, Revi terdengar menghembuskan nafasnya kasar.
"Padahal aku berusaha membuat kamu menggali lagi kenangan indah kita berdua di masa lalu."
Gara kontan tertawa keras. "Kenangan ya kenangan saja, Sela. Buat apa diulang. Lagipula, kenangan antara aku dan kau memang tak banyak, apanya yang harus aku ingat? Kalau hanya mengingatkan aku untuk makan dan lain-lain, maka mama lebih sering melakukannya daripada kau."
"Kok kamu gitu sih, Gar. Aku udah berusaha baik-baik loh memperbaiki hubungan kita. Kamu gak hargai aku sedikit pun."
"Apa juga yang mesti diperbaiki? Semua sudah terlambat, aku pun tetap toleransi dengan keberadaanmu yang masih ada buatku. Sudahlah, kau urus saja semua urusanmu ya. Aku sedang tidak berminat ntuk membuka ruang nostalgia sepagi begini. Banyak hal yang bisa dilakukan ketimbang hanya berusaha menggali memori lama yang bahkan bagiku sudah tak bisa ku ingat sepenuhnya. Jujur, Sela, ini sungguh membuang waktu."
Revi terdiam di ujung telepon saat ini. Ia tak mampu untuk membalas kata-kata Gara. Hatinya jadi koyak mendengar Gara yang tidak terkesan sama sekali dengan apa yang saat ini sedang dilakukannya.
"Sudah ya, nikmati harimu di luar sana. Banyak temanmu yang menghibur, jadi kehilangan aku tidak akan berdampak buruk pada kebahagiaanmu. Jangan meminta aku mengubah perasaanku lagi, sebab yang mati tidak bisa tumbuh lagi. Yang kenangan juga cukup hanya sebagai kenangan, tak perlu lagi diulang."
Lalu Gara menutup teleponnya pagi itu dengan Revi yang belum sempat membalas kata-kata terakhir Gara barusan. Gara sendiri tak ambil pusing.
"Apanya yang mesti dikenang coba?" tanya Gara heran kepada ponsel yang masih hidup layarnya.
Gara lebih tertarik untuk menuju dapur, melihat Bening sedang berkutat dengan segala macam bumbu dapur dengan lingerie yang Gara beli untuknya kemarin. Bening tampak begitu cantik dan menggoda saat ini. Ia juga masih ingat, ketika semalam Gara memintanya memakai lingerie hitam berenda itu, istri mudanya yang memang masih sangat muda itu dengan polos menatap bingung dirinya sendiri di cermin.
"Apa terlihat aneh Bening memakainya, Mas Gara?" tanya Bening malam tadi di depan cermin sambil mengusap tengkuknya pertanda dia sedang gusar.
"Ya memang aneh, Bening. Sebab aku sekarang jadi tidak bisa menahan gejolak dari diriku sendiri saat melihat kau dengan tampilan seperti ini," jawab Gara sembari mendekat lalu merengkuh Bening.
Sekarang, Bening masih memakai lingerie itu. Gara memeluknya dari belakang dengan Bening yang sibuk dengan masakannya.
"Aku bau bawang, Mas." Bening nampak berusaha menghindar karena tidak percaya diri dengan dirinya yang berbau bumbu masakan saat ini.
Bening hanya menggeleng kecil melihat kelakuan Gara yang manja betul kepadanya itu. Sesekali ia akan mengusap lengan Gara yang melingkari sepanjang pinggang rampingnya. Gara menikmati sekali kebersamaannya dengan Bening.
"Sebentar lagi masakannya mateng, Mas Gara tunggu di meja makan ya."
Gara mengangguk lalu mengecup sekilas tengkuk Bening hingga membuat Bening terasa merinding sendiri saat ini. Ia mulai menuangkan masakannya. Gara juga sudah menunggunya dengan tak sabar di meja makan itu.
"Masakanmu selalu berbau enak, Bening. Mas Gara bisa gendut kalau selalu disajikan makanan enak terus begini," gurau lelaki itu kepada Bening yang hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Gak papa Mas Gara jadi gendut, Bening akan tetap memiliki perasaan yang sama buat Mas Gara," jawab Bening jujur.
"Perasaan apa, Bening?" pancing Gara.
Bening menghentikan sesaat gerakan tangannya lalu dia menggeleng.
"Katakanlah, Mas Gara ingin sekali mendengarnya langsung dari mulutmu."
Bening diam lagi. Pandangannya bertemu dengan Gara untuk kesekian pagi ini. Namun, ketika akan mengungkapkan sejujurnya perasaannya kepada Gara, Bening malah jadi tersipu sendiri.
"Makanannya enak, Mas Gara?" Bening berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Selalu enak, Sayang. Pasti akan semakin enak jika ditambahi bumbu kejujuran perasaanmu."
Bening tertunduk sesaat sebelum mengangkat wajahnya yang sudah merona.
"Sebenarnya malu mau bilang, tapi Bening juga tidak mau memendamnya."
"Katakan yang sejujurnya, Bening."
"Ehmmmm ... Kalau perasaan Bening buat Mas Gara, seperti apa yang suami dan istri rasakan. Ada sayang juga cinta di dalamnya."
"Jadi, sudah ada cinta di hatimu, Bening?" tanya Gara sembari meraih jemari Bening lalu mengusapnya perlahan dalam genggaman. Bening mengangguk.
"Love you more, Cinta," balas Gara membuat Bening tersenyum.
Keduanya kemudian melanjutkan makan mereka dengan suka cita. Gara juga punya kejutan untuk Bening, sore nanti dia akan mengajak Bening untuk melihatnya.