Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Gelisah!


Bening masih berada di dalam pelukan Gara setibanya mereka di bandara. Lama sekali Gara membiarkan Bening di dalam pelukannya, seolah tak ingin lepas, seolah tak ingin jauh. Mereka diantar pak Diman ke bandara itu.


"Baik-baik selama Mas Gara di luar negeri ya."


Bening mengangguk, perlahan melepaskan pelukan Gara yang kini sedikit menunduk dan mengecup perut Bening yang mulai membuncit.


"Baik-baik di perut Mama ya, Jagoan!" katanya kepada perut Bening. Bening tersenyum mendengarnya. Suaminya begitu tampan dengan kemeja yang membungkus sempurna tubuhnya yang atletis dan berotot. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung.


Gagah! Kesan itulah yang selalu Bening tangkap setiap kali ia melihat Gara. Masih pula Bening ingat, saat mereka melangsungkan perkawinan di desa kemarin, para gadis desa memandang Gara dengan tatapan begitu memuja.


"Mas Gara juga baik-baik ya selama di sana. Usahakan jangan telat makan, istirahat yang cukup dan jangan minum alkohol ya."


Gara mengangguk, ia sendiri sudah lama menghindari alkohol. Setelah suara di bandara mengatakan bahwa pesawat yang akan membawa Gara ke Paris hari ini akan segera berangkat, Gara dan Bening betulan berpisah.


Gara melambaikan tangannya, Bening membalas. Hingga Gara telah masuk ke dalam pesawat Bening pun membalikkan tubuh dan menuju ke parkiran. Ia akan bertolak ke rumah mertuanya.


Di dalam mobil, Bening diam, memikirkan Gara yang akan jauh darinya barang beberapa hari. Entah mengapa hatinya jadi tak enak. Firasat Bening mengatakan hal yang tidak baik. Bening berusaha mengenyahkan segala prasangka yang muncul karena mereka harus berjauhan.


"Kita langsung ke rumah nyonya besar, Nona Bening?" tanya pak Diman.


"Singgah dulu ke supermarket ya, Pak Diman. Bening mau membeli bahan untuk membuat nasi bakar."


"Baik, Non."


Dan Bening pun melupakan kegelisahan yang tiba-tiba muncul saat ini. Hari ini ia ada mata kuliah sore, jadi bisa menghabiskan sisa pagi dan siang bersama mertuanya di rumah.


Bening mulai sibuk memilih bahan masakannya hari ini. Tak menyangka pula di sana dia bertemu Yuki.


"Hai, Bening." Yuki menyapa Bening ramah. Ia tahu Bening adalah istri kedua Gara.


"Halo Mbak Yuki, sedang berbelanja?" tanya Bening sama ramahnya.


"Ya ... Aku bisa sedikit bersantai karena Revi sedang di luar negeri sekarang," kata Yuki sambil mendorong troli belanjaan bersama Bening, mereka bersisian.


"Memangnya, Mbak tidak ikut?" tanya Bening penasaran. Setahunya, dimana ada artis maka di sana akan ada managernya pula.


"Aku ikut, tapi akan menyusul dua hari lagi sebab ada sanak keluarga yang meninggal kemarin, Bening."


"Oh ... Bening turut berdukacita ya, Mbak Yuki."


"Terimakasih, Bening. Oh, iya, Nilam itu katanya adalah sahabatmu?" tanya Yuki penasaran.


"Ya, Mbak, kita berdua sahabat sejak kecil."


"Ya, betul, Mbak. Teman dari kecil, satu sekolahan hingga lulus dari SMA."


"Hmmmmm ... Dia sepertinya berbakat jadi artis, aku sering melihatnya berlagak casting di depan kaca ketika Revi sedang pemotretan. Mungkin, aku akan membantunya berkenalan dengan orang-orang dari dunia entertainment."


Bening menoleh, menatap Yuki berbinar-binar.


"Alhamdulillah, memang itu cita-cita Nilam dari kecil, Mbak. Semoga jalannya menjadi selebriti dimudahkan melalui, Mbak. Tapi, apa mbak Revi tidak keberatan?"


Kali ini, Yuki diam sesaat.


"Kau tentu tahu watak Revi, dia tak suka dikalahkan. Tentu aku akan melakukannya diam-diam."


Bening menarik nafas panjang kemudian dia mengangguk, merasa ide dari Yuki sepertinya bagus.


"Oh iya, Gara mana?" tanya Yuki setelah mereka sama-sama tiba di depan kasir dan mengantri.


"Mas Gara baru saja berangkat ke luar negeri, Mbak."


"Ehmmmm ... Aku kira hanya Revi yang ada perjalanan ke luar negeri. Kemana memangnya Gara pergi?"


"Mas gara pergi ke Paris, Mbak."


Kali ini, Yuki diam. Dia menggigit bibirnya, meski Revi adalah artisnya, ia tahu persis sifat Revi.


"Bening, tujuan Gara sama dengan Revi. Revi saat ini juga sedang di Paris. Apa Gara tahu?" tanya Yuki tiba-tiba menjadi tidak enak kepada Bening.


Bening menggeleng perlahan.


"Bening tidak tahu, Mas Gara tahu tidaknya kalau mbak Revi juga sedang di Paris sekarang. Ehmmmm ... tapi biarkan saja, Mbak. Bagaimanapun, mbak Revi juga istri mas Gara." Bening mencoba tersenyum meski hatinya gelisah.


"Begitukah, Bening? Ehmmmm ... Kau tenang saja, aku akan segera bertolak ke Paris besok dan aku pasti bisa memantau Revi takutnya dia berulah lagi."


Bening tersenyum kaku. "Ah, Mbak jangan begitu. Bagaimanapun, mbak Revi punya hak kok."


Lalu Yuki diam, ia juga menyesal kenapa tidak membiarkan Nilam ikut bersama Revi ke Paris, setidaknya, ada Nilam yang mengawasi artisnya yang keras kepala itu.


Bening bergegas membayar belanjaannya, entah mengapa ia jadi berdebar sendiri mengingat informasi yang baru saja dikatakan oleh Yuki barusan. Namun, kalaupun terjadi sesuatu pada Gara di sana, bukannya itu tidak jadi masalah? Mereka masih sah sebagai suami istri. Namun, jujur saja, Bening agak cemburu, apalagi Gara bilang akan menceraikan Revi secepatnya.


"Ya Allah, jangan egois, Ning." Bening mengusap dadanya sendiri yang kini dilanda kegelisahan tak bertepi.