Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Home Sweet Home


Menempuh kurang lebih empat perjalanan dengan Bening yang beberapa kali tertidur, akhirnya tepat pukul delapan malam, Bening dan Gara sampai di rumah mereka. Rencananya mau sekalian jemput Abi dulu tadinya tetapi kedua orangtua Gara melarang. Merekalah yang berinisiatif nanti akan mengantar Abi ke rumah.


Gara turun dari mobil, membuka pintu bagi istrinya yang sedang menggendong puteri mereka sedang ia sendiri lalu membuka bagasi dan menurunkan koper. Seorang pelayan juga pengasuh langsung bergerak cepat mengambil alih koper itu dari tangan Gara dengan sopan.


"Biar Mas yang gendong Mentari," tawar Gara dengan Bening yang tersenyum lantas mengangguk. Ia segera memberikan anak mereka ke Gara yang menerimanya dengan antusias.


"Terasa lama sekali, Nyonya," ujar pembantu mereka membuat Gara tertawa.


"Si Mbok saja bilang lama, Sayang, apalagi suamimu ini."


"Mas dan Mbok bisa saja. Padahal Bening hanya empat puluh hari di desa Ibu."


"Empat puluh hari rasanya seperti setahun, Sayangku. Kau tak tahu bagaimana sakitnya ditikam rindu setiap hari."


Bening memeluk pinggang suaminya itu, berjalan bersisian. Ia tahu bahwa Gara memang sudah rindu setengah mati. Bening juga mesti menyiapkan tenaga dan waktu agar mereka bisa merajut kemesraan di ranjang mereka nanti.


Setelah menyerahkan anak mereka yang masih tertidur itu kepada pengasuh, Gara dan Bening tidak langsung pergi ke kamar. Mereka sedang menunggu nyonya dan tuan besar yang katanya mau datang.


"Kalau Mas capek, tak apa, istirahat saja, biar nanti Bening yang menyambut mama dan papa."


Gara menggeleng, dia tidak ada lelahnya. Kalaupun lelah, sudah terobati dengan kehadiran Bening di sisinya sekarang. Beninglah obat segala penat Gara.


Air kolam itu memantulkan bayangan cahaya rembulan juga bayangan Gara dan Bening. Mereka sedang duduk tak jauh dari tepi kolam renang. Suasana kompleks perumahan elit itu memang sudah terlihat sepi di jam seperti ini. Maklum, para penghuninya memang kebanyakan pengusaha yang lebih butuh ketenangan setelah pulang dari perusahaan mereka masing-masing, ketimbang bersantai atau sekadar menyapa tetangga.


Agak jarang menyaksikan pemandangan tetangga saling mengunjungi di area kompleks elit itu. Paling mereka bisa saling bertegur sapa ketika hari minggu, dimana banyak pengusaha yang libur dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya, memulai aktivitas pagi dengan jogging di sekitaran kompleks hingga mau tak mau akan mempertemukan mereka dengan tetangga sekitar.


"Ponsel Mas berbunyi."


Gara bergegas ke dalam, memang tadi ponselnya tak sengaja tertinggal di ruang tengah. Ternyata yang menelepon adalah nyonya besar.


"Baiklah, Ma, kalau begitu besok saja aku dan Bening jemput."


Sekelebat pembicaraan Gara dan ibunya terdengar setelah Gara semakin dekat dengan Bening. Bening menatap suaminya itu dengan kening berkerut.


"Sayang, ayo kita ke kamar saja. Mama tadi telepon, Abi sudah tertidur. Jadi kasihan kalau akan membawanya malam begini."


Gara mengangguk, membawa istrinya ke kamar mereka. Selepas empat puluh hari, Bening sudah pulih betul. Jadi mereka sudah mulai kembali melakukan aktivitas intim lagi meski Gara memasuki Bening dengan sangat hati-hati.


Gara sendiri meminta Bening untuk tak banyak bergerak dulu, biar dia yang bergerak. Ia ingin membuat Bening senyaman mungkin. Meski Bening sudah mengatakan bahwa ia tak lagi merasa sakit. Tetap saja Gara tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ini elastis kok, Mas,"


Gara tertawa mendengarnya. Setelah mereka selesai dengan Gara yang menyelimuti Bening lalu ia sendiri berbaring di sisi istrinya itu, mereka memulai perbincangan malam sebelum tertidur.


"Apa yang terjadi selama empat puluh hari Bening tak di sisimu, Mas?" tanya Bening sembari memainkan bulu-bulu dada Gara dengan jemarinya.


"Ehmmmm ... Tak ada."


"Sepertinya Bening melewatkan sesuatu. Entah ini hanya perasaan saja."


Gara tampak berpikir, tak ada yang penting seingatnya. Namun, ia terkenang dengan perempuan yang sedang berusaha mencuri perhatiannya saat ini.


"Ada, hampir luput dari ingatanku, Bening."


Bening mengangkat wajahnya sesaat lalu memandang suaminya dengan serius.


"Katakan saja, Mas, terbuka lebih baik."


"Tentu, Mas juga tidak berniat untuk menyimpannya dari mu. Meski hal ini tidak penting, tapi sepertinya kau harus tahu." Gara menghentikan sesaat kalimatnya. "Di Surabaya kemarin, ada seorang perempuan yang dikenalkan oleh teman Mas. Sepertinya, dia sedang berusaha menarik perhatianku. Namanya Syifa. Tapi sungguh, Mas tidak pernah menggubrisnya."


Bening mengangguk lantas tersenyum kecil.


"Bening paham, suami Bening bukan pria biasa. Pantas banyak yang suka. Bening percaya kepada Mas Gara. Sekalipun banyak yang menyukai, tapi Mas Gara tetap setia."


Gara mengangguk lantas mengecup kening istrinya mesra.


"Kau benar, untuk apa Mas bermain api, Bening. Bermain api berarti Mas harus siap kehilanganmu dan Mas Gara tidak mau itu."


Bening membalas pelukan itu. Dia percaya suaminya takkan mudah goyah oleh godaan perempuan lain.