Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Gara's Baby Inside!


Subuh menjelang. Bening seperti biasa akan menuntaskan ritualnya menghadap sang pemilik kehidupan ketika banyak penghuni rumah bahkan belum terbangun. Hanya ada beberapa pembantu yang sudah siap dengan tugas masing-masing. Mushola di bawah menjadi tempat Bening bersama bu Tuti untuk mengadu segala keluh.


"Bu Tuti, nanti biarkan Bening memasak sarapan. Biarkan yang lain mengerjakan tugas lainnya juga ya," pinta Bening kepada kepala pelayan yang segera mengangguk, setelah mereka selesai meletakkan kembali mukena di tempatnya.


"Bening, kau itukan sudah jadi istri tuan muda, kau istirahat saja. Sekarang artinya kau sama saja dengan majikan kami," sahut bu Tuti.


Bening tersenyum lalu menggamit lengan kepala pelayan yang sudah hampir separuh hidupnya itu mengabdi kepada keluarga besar tuan Wibowo.


"Bening adalah isti, itu benar, Bu. Namun, Bening tidak lupa darimana berasal. Kalau mengerjakan tugas rumah adalah kegemaran Bening semenjak dulu. Jadi jangan jadikan alasab tidak enak atau apa, kita sama saja, Bu. Hanya saja sekarang, status Bening yang berubah, sebagai istri tuan muda bukan sebagai majikan."


Bu Tuti hanya menggeleng pelan sambil tersenyum lantas mengangguk. Bening memang pribadi yang rendah diri, dia tidak segan membantu para pelayan lain untuk mengerjakan tugas rumah meski kini statusnya sudah berubah.


"Bagaimana Asih, Ning? Apa masih suka mengganggumu?" tanya bu Tuti dengan Bening yang sudah menuju dapur.


"Sudah tidak lagi, Bu. Kadang bertemu Bening dia menunduk. Padahal Bening biasa saja. Bening sudah melupakan semuanya."


"Dia dari dulu memang suka ngospek pembantu baru. Mungkin sekaranglah dia kena batunya. Padahal saya sudah sering nasehati dia. Tapi anaknya ngeyel."


"Sudahlah, Bu, Bening sudah melupakannya. Oh iya, aku hampir lupa. Aku ke atas dulu ya, Bu. Nanti aku turun lagi."


Bening buru-buru pergi ke kamarnya dan Gara di lantai atas. Ada hal yang harus dilakukannya pagi ini. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa tiga alat tespack dari merk yang berbeda-beda.


Bening menadah urinnya dengan wadah penampung yang sudah disiapkan di kemasan. Iya mulai mencelupkan tiga benda pipih itu bersamaan. Beberapa menit kemudian ia mulai mengangkatnya. Bening memejamkan mata, takut-takut membukanya kemudian, takut kenyataan tak sesuai harapan.


Namun, setelah ketika benda itu terangkat Bening jadi sedikit bersedih dilihatnya tak ada garis apa-apa.


"Yah ...." Bening mengeluh.


"Mas Gara ... Ayo angkat." Bening menggigit kukunya, harap-harap cemas menanti sambungan itu segera dijawab.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Gara mengangkat telepon. Bening berbinar-binar.


"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Gara sembari mengucek matanya sendiri.


"Sudah, Mas Gara. Mas Gara aku udah positif." Bening mengatakannya dengan malu-malu.


"Positif?" Gara tampak berpikir sejenak tapi kemudian matanya membulat sempurna. Ia mengalihkan panggilan telepon itu menjadi video call.


"Ini, Mas Gara." Bening menunjukkan tiga benda pipih di depan Gara. Gara hampir tidak kuasa menahan haru. Air matanya hampir menetes. Setelah bertahun-tahun menantikan kehadiran seorang anak, benihnya kini hadir melalui rahim Bening.


"Mas Gara kenapa nangis." Bening ikut menitikkan airmata pula melihat Gara yang sudah tidak kuasa membendung airmata bahagianya. Persetan orang mau bilang dia lelaki cengeng! Mereka tidak tahu saja, airmata yang tumpah saat ini adalah airmata bahagia.


"Mas Gara sangat bahagia, Bening. Terima kasih sudah memberikan hadiah paling indah dalam hidupku. Mas Gara akan menjagamu, menjaga anak kita dengan segenap jiwa raga Mas Gara."


"Bening juga akan menjaga bayi kita untuk Mas Gara juga nyonya muda."


Hati Bening bergetar hebat ketika mengatakan kalimat itu. Airmatanya mengalir lagi tanpa bisa dicegah. Gara hanya bisa mengangguk meski kata terakhir Bening telah mengoyak lukanya sendiri.


Gara kemudian menoleh ke ranjang ICU dimana Revi masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri.


"Bening, kita akan menjaganya. Mas Gara akan menjagamu juga."


Bening hanya mengangguk pasrah. Dia menyadari satu hal, setelah semua ini terlewati dan kini ada benih Gara bersemayam di perutnya, cinta juga semakin bermekaran dan sempurna melingkupi dirinya. Mahligai perkawinan ini semata-mata bukan tentang perjanjian semata jika sudah ada rasa di dalamnya. Namun, Bening tak mau egois. Ia sudah meneguhkan hati untuk komitmen dengan semua kesepakatan yang sudah tercipta. Sisa mencintai Gara mungkin hanya akan dibatasi sampai satu tahun ke depan. Setelah itu, entah Bening bisa memastikan hatinya akan lega atau malah patah karena perpisahan.