Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Perkenalan


"Lihat ke sini, Pak Gara, oke Bu Bening senyumnya jangan lupa."


Sang fotografer mengarahkan pose yang bagus untuk Gara juga Bening. Mereka berpose berdua dulu. Keduanya tampak serasi dengan Bening yang mudah diarahkan oleh fotografer. Berbagai posisi sudah mereka dapatkan, angel terbaik saat Gara dan Bening saling bertatapan. Di sini, vibe Bening tak hanya seperti seorang istri tapi juga seperti sekretaris pribadi Gara karena Bening memang mengenakan kemeja yang pas di tubuhnya dengan setelan rok hitam selutut.


"Nah, boleh anak-anak sekarang ikut berfoto juga."


Para pengasuh begitu antusias, Abi dan Mentari sudah dipersiapkan dengan begitu lucu. Bening dan Gara terlihat kompak menjalani sesi pemotretan ini. Setelah beberapa waktu, kegiatan pemotretan selesai juga.


Gara melihat hasil jepretan fotografer dan nampak puas dengan hasilnya, begitu juga dengan Bening. Bahkan Gara sudah memasang salah satu foto mereka sebagai display picture di salah satu aplikasi chatnya.


"Pak Gara," panggil Safira yang tergopoh-gopoh datang ke ruang pemotretan. Gara mengerutkan kening melihat sekretarisnya yang tampak ngos-ngosan itu. Memang jarak ruangan dan tempat pemotretan cukup jauh karena Gara memakai aula gedung untuk kepentingan foto.


"Kenapa kau, Safira?" tanya Gara.


"Itu, Pak, Bu Syifa datang lagi, memaksa mau ketemu Pak Gara. Saya sudah bilang Bapak sedang sibuk, tapi dia ngotot mau tetap bertemu bahkan sudah menunggu di ruangan Bapak." Safira menjelaskan sembari mengatur nafasnya.


Gara menatap Bening, Bening membalasnya dengan tatapan yang tenang pula.


"Tak apa, Mas Gara temui saja, mungkin ada hal penting yang mau disampaikan oleh mbak Syifa."


Gara nampak berpikir sesaat tapi kemudian dia kembali melihat Bening. "Baiklah, anak-anak biarkan bersama pengasuh, biarkan mereka pulang dulu bersama supir. Nah, Bening temani Mas ya."


Bening dengan senang hati mengangguk pula. Ia menggamit mesra lengan Gara sementara Safira mengekor di belakang mereka.


"Padahal saya sudah melarangnya, Pak Gara, tapi Bu Syifa tetap saja ngotot," kata Safira berusaha menjelaskan tanpa diminta oleh Gara.


"Biarkan saja, susah memang bicara dengan batu," sahut Gara sama kesalnya.


Bening mengelus lengan suaminya itu, berusaha memberi ketenangan agar emosi Gara tidak meledak-ledak. Gara sendiri hanya bisa tersenyum kepada Bening. Dia sengaja membawa Bening serta untuk menemui Syifa yang nampaknya tidak mengerti dengan penolakan yang sudah diberikannya walau tak secara langsung itu.


"Harusnya kerja profesional, tapi kalau mencampur adukkan urusan pribadi, aku sudah sangat malas. Tidak akan rugi perusahaan ini kehilangan kontrak kerjasama dengan perusahaan mereka." Gara berkata dengan tegas, Bening dan Safira hanya mendengarkan saja dengan seksama.


Ia tahu, Gara sangat menjunjung tinggi kesetiaan, meski dia pun akhirnya tahu bahwa Bening bukanlah istri pertama Gara tapi perempuan muda nan ayu itulah pelabuhan terakhir seorang Anggara Dewa.


Jadi memang mustahil bagi perempuan lain jika ingin mendekati Gara dan meraih hati pria itu. Dulu juga kepada Revi dia setia, hanya saja, mantan istri atasannya itu yang tidak tahu diuntung. Pada akhirnya, Gara pun menemukan cinta sebenarnya yang hanya ada pada sosok Bening, si gadis desa waktu itu.


Sampai di ruangan, Safira tidak ikut masuk. Gara masih menggandeng Bening, melihat Syifa yang duduk dengan tenang bersama asistennya. Perempuan itu berbalik, senyumnya hilang ketika melihat Gara tak datang sendirian.


"Sudah lama menunggu?" Gara profesional, berbasa basi kepada tamu yang datang, meski kedatangannya sama sekali tidak dia harapkan.


"Ya, cukup lama." Syifa menjawab dengan menatap Bening sedikit angkuh.


"Perkenalkan, ini istriku."


Syifa mengangguk, berlagak profesional dengan mengulurkan jemari kepada Bening.


"Bening, Mbak Syifa."


"Dia sudah tahu namaku rupanya." Syifa tampak tertawa dan itu terdengar menyebalkan.


Bening menanggapinya dengan senyuman.


"Tentu, semua hal selalu Mas Gara ceritakan kepadaku, Mbak. Apa saja, dimulai dari tentang perusahaan, atau orang-orang baru yang datang."


Kali ini Syifa merasa sedikit tersindir. Ia menatap Bening tak suka tapi Bening menanggapinya dengan santai.


"Duduklah, aku pesankan kopi lagi agar pembicaraan kita semakin lancar."


Perbincangan kali ini sama sekali tidak menyenangkan, Syifa menahan gondok di hatinya karena Gara seperti sengaja mempertontonkan kemesraannya dengan Bening. Tinggal lah Maya yang malu, lebih baik dia menjadi asisten ayah Syifa saja karena ternyata anak atasannya itu tidak bisa profesional sama sekali. Ia akan mengusulkan agar Syifa dikembalikan saja ke Surabaya.