
"Perjalanan kita akan cukup lama, Sayangku. Jadi nanti kalau mengantuk, maka tidurlah."
Sembari menyeret koper, Gara membetulkan syal yang sedang Bening pakai. Gara sudah menyewa pesawat pribadi yang akan mengantar mereka ke Bolivia. Perjalanan menuju Bolivia akan memakan waktu kurang lebih dua puluh jam perjalanan, jadi dipastikan mungkin Bening pasti akan sering tertidur di dalam pesawat. Namun, Gara sudah mempersiapkan semua hal dengan baik. Ia juga tidak lupa membawa vitamin yang harus dikonsumsi oleh dirinya dan Bening selama berada di perjalanan dan juga ketika sampai nanti di Bolivia.
Pilot dan juga pelayan di pesawat telah menunggu Gara dan juga Bening. Sungguh Bening sudah tak sabar lagi ingin segera tiba di Bolivia dan sepertinya istri Gara itu tidak tahu kalau perjalanan mereka akan memakan waktu yang cukup lama.
"Sayang, kau tahu perjalanan kita menuju Bolivia akan memakan waktu berapa lama?" tanya Gara kepada istrinya itu kemudian ia melihat Bening menggeleng perlahan. Bening lupa pula, dia harusnya membuka internet dulu tadinya, jadi kalau ditanya seperti itu oleh suaminya maka dia bisa menjawabnya.
"Bening tidak tahu Mas Gara," jawab Bening malu-malu dan Gara tersenyum melihat istrinya yang merona pipinya itu.
"Perjalananan kita menuju Bolivia akan sangat lama, Sayang, kurang lebih dua puluh jam perjalanan."
"Ternyat lama sekali ya, Mas Gara, Bening kira akan cepat paling lama mungkin hanya beberapa jam, ternyata lama sekali ya. Tapi tidak apa-apa, Bening bahagia dengan perjalanan ini dan sudah tidak sabar lagi untuk segera tiba di Bolivia."
"Good, Mas Gara suka Bening yang begitu bersemangat."
Bening kemudian bersama Gara masuk ke dalam pesawat yang telah menunggu mereka. Selama di dalam pesawat, mereka dilayani dengan baik. Beberapa kali pula Bening nampak tertidur di bahu Gara.
"Sayang, makan dulu ya."
Gara membangunkan Bening yang sedang tertidur karena sudah saatnya makan dan minum vitamin. Bening tersenyum sembari mengucek matanya. Ia kemudian mulai makan bersama Gara, mereka makan dengan tenang dengan sesekali mereka bercanda.
"Mas gara, apakah nanti setibanya di Bolivia, kita akan langsung pergi ke cermin dunia yang besar itu?" tanya Bening sembari mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
"Tidak, Sayang. Sementara setelah kita sampai di Bolivia nanti, kita harus beristirahat. Nah, besoknya baru kita melanjutkan perjalanan ke Salar De Uyuni."
"Kita harus terbang lagi?" tanya bening antusias dan Gara langsung mengangguk.
"Ya, karena jarak antara ibukota Bolivia dengan Salar De Uyuni cukup jauh, Sayangku, jadi tentu saja kita harus menggunakan dua jalur. Nanti kau pilih saja, ingin melalui jalur darat atau jalur udara. Kalau melalui jalur darat ya kemungkinan kita datang akan cukup lama lagi sekitar tujuh sampai delapan jam tetapi Mas Gara pikir, lebih baik kita memakai pesawat saja ya agar segera sampai di cermin dunia."
"Pintar, Mas Gara suka sekali Bening yang menurut."
Bening tersenyum mendengarnya, lalu selama di perjalanan, mereka pun beberapa kali tertidur bersama dan ketika mereka sampai dua puluh jam kemudian di Bolivia, Bening tidak henti-hentinya berdecak kagum.
Bolivia mungkin tidak seindah tempat-tempat lain tetapi Bolivia memiliki keindahan tersendiri bagi orang-orang yang datang ke tempat itu. Salah satunya adalah cermin dunia atau cermin raksasa yang terbentuk karena lapisan garam yang terbentang luas. Itu adalah aset paling berharga di Bolivia.
Setibanya mereka di Bolivia, Gara dan Bening langsung mencari hotel untuk mereka menginap. Segera beristirahat Gara dan Bening di sana, menunggu hari esok, dimana mereka akan menjelajahi Bolivia hingga sampai ke Salar De Uyuni.
"Apa Abi sudah tidur ya, Mas Gara?" tanya Bening kepada suaminya itu sementara jemarinya sedang memainkan bulu dada Gara, membuat gerakan melingkar.
"Perbedaan waktu Bolivia dan Indonesia juga cukup jauh, Sayang, mungkin Abi saat ini sedang bermain."
"Iya, Bening lupa lagi, maaf ya, Mas Gara, karena Bening baru pertama kali pergi ke luar negeri," ujar Bening dengan polosnya dan malu-malu.
"Mas Gara akan membawami ke negeri-negeri yang indah dimana kita akan meninggalkan cinta kita di sana. Kita akan menjelajahi tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang indah, karena mas Gara akan selalu membahagiakanmu, Sayang."
"Bagi Bening, kebahagiaan itu adalah ketika Bening bisa melihat Mas Gara setiap hari. Bening bisa melayani Mas Gara setiap hari, itu sudah cukup untuk mas Gara. Mas Gara mengajak Bening ke Bolivia adalah hal yang benar-benar luar biasa."
"Kau pantas bahagia, Sayangku. Kau adalah wanita yang sangat baik dan Mas Gara bertanggung jawab untuk membahagiakanmu, karena kau sekarang bukan hanya seorang perempuan, tapi Bening Anjani adalah istri dari Anggara Dewa."
"Terimakasih ya, Mas Gara, Bening tidak pernah menyangka, Bening yang hanya orang desa, yang dulu hidupnya serba pas-pasan dan sangat berbanding terbalik dengan keluarga Mas sekarang bisa merasakan kebahagiaan sesempurna ini dengan lelaki yang begitu bertanggungjawab dan juga sangat baik hati. Bening mendapatkan mertua yang juga luar biasa baiknya, Bening berjanji tidak akan mengecewakan kalian semua."
"Mas Gara selalu percaya apapun itu, Bening, asalkan itu tentangmu."
Bening tersenyum senang kemudian menerima kecupan bertubi-tubi dari Gara suaminya, dan kembali, malam itu mereka lalui dengan penyatuan yang kesekian kalinya.