
"Baik-baik ya, Nak, Ibu dan Bapak pulang ya."
Ibu memeluk Bening erat, bergantian dengan bapak yang tak henti mengusap punggung Bening. Bening menghapus airmata yang mengalir. Kebersamaan bersama kedua orangtuanya terasa begitu singkat.
Dewi tidak datang, sebab ada terapi yang akan dilakukan dokter beberapa hari belakangan ini untuknya. Bening harus melepaskan lagi kepulangan kedua orangtuanya ke desa. Gara juga setia menemani Bening, beberapa kali bapak melayangkan tatapan hangat kepada menantunya itu.
"Titip Bening ya, Nak Gara. Bapak dan Ibu suka kepikiran karena jauh." Begitu kata bapak sembari memeluk Gara yang membalasnya.
"Bening aman bersama saya, Pak, Bu, nanti kalau kegiatan di perusahaan tidak lagi terlalu sibuk, saya akan mengajak Bening untuk pulang ke desa dan menginap barang beberapa hari."
Bapak tersenyum menyambut kata-kata itu. Ia mengangguk lantas Gara membantu memasukkan koper bapak dan ibu ke dalam bagasi mobil. Bapak dan ibu kemudian masuk ke dalam mobil, melambai mereka kepada Bening yang rasanya belum selesai melepas rasa kangen.
"Benarkah nanti kita akan pulang ke desa, Mas Gara?" tanya Bening penuh harap.
Gara mengangguk. "Ya, tapi belum dalam waktu dekat ini ya, Sayang. Mas Gara juga akan berangkat ke luar negeri beberapa hari lagi."
"Hmmmmm ... Bening pasti menanti kepulangan Mas Gara kelak. Rasanya sedikit aneh karena harus berjauhan."
Mendengarnya, Gara tersenyum. Ia jadi teringat ketika dulu ada urusan bisnis keluar negeri. Revi tidak pernah berkata seperti Bening, malah itu dimanfaatkan Revi untuk pergi bersenang-senang bersama teman-temannya. Kepulangan Gara tak pernah dinantikan, jadi ketika Bening mengatakan hal manis yang mengisyaratkan rindu seperti itu, Gara jadi sangat tersanjung.
Di hadapan Bening, Gara seperti lelaki yang haus kasih dan sayang. Mungkin karena selama menikah dengan Revi kemarin, Gara tidak pernah mendapatkan perhatian selayaknya diberikan istri kepada suami. Ketika bertemu dengan Revi, hanya kegiatan ranjang yang mereka lakukan dan sayangnya itu hanya untuk menuntaskan hasrat sebagai dua orang dewasa. Jarang sekali Gara mendengar Revi mengatakan tentang cinta.
"Mas Gara akan secepatnya kembali, kalau saja kau libur kuliah, tentu aku akan membawamu."
"Tak apa, Mas Gara, di zaman serba canggih begini, pertemuan pun bisa dilakukan dengan media ponsel. Mas Gara fokus saja dengan pekerjaan selama di luar negeri kelak, Bening juga pasti akan menjaga kehormatan sebagai istri di sini."
Gara mengusak rambut Bening lalu mengecup puncak kepala istrinya itu. Ia beruntung mendapatkan Bening sebagai istrinya meski harus jadi yang kedua.
"Bening, apa di kampus, pemuda itu masih sering mengganggumu?" tanya Gara setelah ia teringat dengan Dani.
"Tapi apa dia masih sering melihatmu?"
Bening tertawa kecil lalu menangkup kedua pipi Gara dengan telapak tangannya.
"Sayang, apa kita bisa memaksa orang lain untuk menghentikan haknya melihat apa yang ingin dilihatnya?"
Gara menggeleng.
"Karena itu, Bening tidak punya hak untuk menutup mata bang Dani untuk tidak melihat Bening. Tapi, Bening tidak pernah menanggapinya sebagai hal yang patut membuat Mas Gara curiga. Bening akan senantiasa menjaga kehormatan sebagai istri Mas Gara, dimana pun Bening tengah berada."
Gara merengkuh pinggang Bening lalu menatap dalam mata istrinya yang masih segar di usia yang baru menginjak delapan belas tahun itu. Ia terkesima, pikiran Bening seperti orang terdidik dan begitu rapi dalam berkata-kata.
"Kau selalu bisa menenangkan aku, Bening."
Bening tak menyahut, hanya tersenyum menanggapinya. Lalu Gara membawa Bening masuk ke dalam rumah mereka. Untuk beberapa hari ini, mereka tak lagi melihat Revi. Kata Nilam, Revi sedang ada pemotretan di luar negeri.
"Aku sudah memikirkannya dengan matang, Bening. Aku akan segera menceraikan Sela."
Bening tertegun. Meski ia kerap mendapat penghinaan dari Revi juga sering mendapat ancaman dari perempuan itu, tetapi ia tetap tak ingin menyakiti Revi dengan membiarkan Gara menceraikannya. Apalagi Revi hanya paham bahwa Gara menikahi Bening hanya karena anak.
"Mas Gara, bukankah mbak Revi akan semakin terluka dan berpikir macam-macam jika mas melakukan itu. Sungguh, Bening tidak ingi menyakitinya, karena bagaimanapun, Bening adalah orang di antara pernikahan Mas Gara dan mbak Revi selama ini."
Gara menyibak rambut Bening. "Bening, seandainya niatku hanya menginginkan anak saja, mungkin aku tidak akan sesering ini berada di dekatmu. Tapi, yang aku rasakan lebih daripada itu. Kehadiranmu menyentuh hatiku sampai ke dasarnya. Aku memang tak lagi mencintai Sela. Aku kehilangan rasa dengannya, bukan karena semata-mata ada kau sekarang, tapi dialah yang menyebabkan aku letih dan memilih mengubur dalam semua perasaan."
Bening tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk lembut Gara yang membalasnya dengan erat. Gara bisa merasakan cinta kepada Revi sudah bergeser sempurna dan terganti oleh Bening. Dengan Bening, Gara seperti sedang ditancapkan panah asmara yang tak akan pernah bisa ia cabut.