Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Entah Cinta Entah Obsesi


"Oke miring sedikit, tuan Gara deketan lagi dengan istrinya, oke sip. Keren!"


Fotografer yang sedari tadi mengarahkan gaya dan konsep maternity Bening dan Gara tersenyum puas sambil mengacungkan jempolnya kepada Gara dan Bening yang tengah berdiri di pinggir pantai dengan suasana senja yang berkilauan karena sunset.


Gara tersenyum menatap Bening yang begitu cantik dengan dress putih juga hiasan bunga bulat di kepala bak bidadari. Gara sendiri memakai kemeja putih dan celana senada. Konsep foto maternity yang sangat lembut dan emosional.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Gara kepada fotografer yang langsung menunjukkan hasil jepretannya kepada Gara.


"Nice. Nanti akan sedikit diedit agar kontrasnya lebih natural."


Gara tersenyum puas menatap foto-foto dalam kamera mahal itu. Mereka saat ini tengah berada di Bali. Selain untuk keperluan pengambilan gambar, Gara memang mengajak Bening untuk babymoon.


Menikmati semilir angin yang berhembus, kemudian Gara menggenggam jemari Bening lalu membawanya menyusuri pesisir pantai. Sesekali, kecipak air laut mengenai mereka.


Sementara Bening dan Gara menikmati kebersamaan mereka yang semakin intim dan intens, di sisi lain pantai itu ternyata juga sedang ada pemotretan. Dari kejauhan saat Revi tengah berpose seksi dengan bodysuit berwarna peach cerah, ia tertegun melihat seseorang yang sudah beberapa bulan ini dirindukannya.


Namun, saat melihat perempuan yang berada di sampingnya saat ini, hati Revi diliputi kemarahan lagi. Sungguh suatu kejutan karena di Bali pun mereka kembali dipertemukan.


"Bisa stop dulu kan?"


Yuki dan fotografer menatap Revi dengan kening berkerut lalu arah pandang Yuki mengarah pada dua orang yang tengah berkejaran sambil mencipratkan air laut. Barulah Yuki mengerti.


"Oke, stop dulu."


Revi segera duduk di salah satu batu sambil menenggak air mineral dalam ukuran sedang yang baru saja disodorkan oleh Yuki untuknya.


"Cuma kebetulan kalian di tempat yang sama hari ini, Rev. Jangan mencari masalah. Ingat, agency sudah memperingatkan kau untuk tidak membuat ulah lagi." Yuki mengingatkan Revi yang memandangnya malas.


"Aku benci melihat mereka bermesraan. Gimanapun aku masih mencintai Gara, Mbak!"


"Rev, terima kenyataan. Gara sudah bukan lagi suamimu. Kau harus sadar juga, keputusan Gara karena di sudah cukup lama bersabar denganmu. Jangan juga menyalahkan Bening. Dia tak bersalah."


Revi menoleh, menatap Yuki tajam dengan pandangan tak senang.


Menyadari suara Revi yang semakin meninggi, Yuki segera menenangkan artisnya itu. Ia tidak ingin teriakan Revi memancing orang-orang untuk melihat mereka.


"Dan satu lagi, Mbak, kenapa Mbak Yuki membantu jongos itu menjadi artis juga? Mbak bahkan tidak pernah berunding tentang hal itu denganku."


Yuki menghela nafas, lambat laun ia tahu pasti Revi akan mencium andil dirinya dalam mengorbitkan Nilam. Terbukti, gadis itu kini semakin banyak tawaran menjadi pemain film. Revi nampaknya tak mau bersaing. Dia tidak ingin tergantikan.


"Dia punya bakat, Rev. Sutradara menyukainya. Produser sering menanyakan tentang Nilam. Dan cobalah jangan menyebut dia jongos. Dia juga manusia."


"Dia cuma gadis kampung sama seperti Bening! Mereka tidak pantas mengalahkan aku!"


"Revi, kau sendiri yang merasa mereka bersaing denganmu padahal tidak sama sekali. Semuanya sudah diatur. Kau cukup fokus saja dengan karirmu yang cemerlang sampai sekarang. Bangun image baik agar kau terus berada di atas. Jangan pernah mengusik orang lain, just that."


Revi menepis Yuki dengan kasar lalu beranjak dari undakan batu pantai. Ia menuju resort tempat mereka beristirahat.


"Bagaimana pemotretan hari ini, Mbak Yuki? Revi terlalu sering membatalkan pekerjaan." Fotografer protes kepada Yuki yang hanya bisa memijat keningnya. Dia sendiri bingung menghadapi tingkah Revi yang tak bisa dinasehati.


"Aku minta waktu sampai dua jam ke depan ya, aku bujuk dia dulu."


"Oke, Mbak. Secepatnya ya, Mbak."


Yuki mengangguk lantas segera menyusul Revi yang kini sudah berada di dalam kamar penginapan mereka. Saat ia masuk ke dalam kamar, dilihatnya Revi sedang menyesap rokok. Tatapan perempuan itu jauh ke depan. Yuki tahu Revi masih belum bisa menerima kenyataan bahwa sekarang dia bukan lagi istri Anggara Dewa. Apalagi beberapa hari yang lalu, media menyiarkan kesuksesan Gara sebagai seorang pebisnis muda yang paling bersinar dan paling diminati tahun ini.


"Mbak, aku ingin sekali bisa hamil lagi!" erang Revi tiba-tiba setiap kali dia ingat Gara yang kini sudah meninggalkannya demi Bening.


"Rev, please, kau harus sadar, kau bukan lagi cinta, tetapi kau hanya terobsesi kepada Gara. Tidak ada cinta begini, kau hanya akan membuat dirimu gila kalau selalu bertahan dengan egomu sendiri."


Revi menoleh, tatapannya tajam sekali.


"Bening tidak akan hidup tenang!"


Yuki menggeleng, dia tidak habis pikir kenapa Revi sangat membenci Bening yang tidak pernah mengusik kehidupannya.