
Hari ini genap tiga puluh hari atau sebulan, Bening sudah melewati masa melahirkan. Itu berarti ini sepuluh hari terakhir ia akan berada di desa dan artinya sebentar lagi dia akan pulang ke Jakarta. Bening juga semakin segar kian hari, udara di pedesaan yang begitu segar, suara cicit burung yang selalu terdengar bak nyanyian alam, membuat pemulihannya semakin cepat.
Setiap hari, Bening akan mengajak putrinya untuk berjemur barang sesaat ketika pagi hari sekalian menghirup udara segar. Pagi ini kebetulan dia bersama Dewi sedang duduk di ayunan teras rumah mereka, putrinya sedang berada dalam gendongan Dewi.
"Mentari tak terlalu rewel ya, Mbak, aku jarang mendengarnya menangis ketika malam hari."
"Iya, Wi, mungkin karena Mentari cepat kenyang jadi tidurnya pun nyenyak, Mbak masih sering terbangun kok sesekali."
Hening sesaat setelah itu dengan senyuman yang masih tertinggal di wajah keduanya. Lalu mereka berkisah panjang lebar. Dewi juga bertanya kepada Bening apakah menyesal menikah muda, hal yang sering ditanyakan orang-orang kepada Bening pula sebelumnya, tak hanya Dewi.
"Mbak tidak pernah menyesal menikah muda, Wi. Kau lihat sendiri pernikahan Mbak membawa keberkahan bukan? Dan Allah sudah menunjukkan bahwa mas Gara adalah orang yang paling tepat untuk menjadi suami Mbak, karena itu Mbak sangat bersyukur dengan apa yang sudah kita peroleh saat ini."
"Aku juga selalu melihat keceriaan di wajah Mbak semenjak menikah dengan mas Gara. Ternyata benar ya, Mbak, kata orang kalau seorang perempuan itu sudah menemukan lelaki yang tepat, maka dia akan diperlakukan seperti ratu. Seperti yang aku lihat dalam diri Mbak. Sekarang Mbak semakin terlihat menarik, mungkin karena Mbak selalu bahagia semenjak Mbak bersama mas Gara.
"Aamiin, Mbak pun merasakan hal yang sama, Wi. Mbak juga berharap suatu saat kau akan menemukan lelaki yang tepat, lelaki yang baik, yang mau menerima kau apa adanya, lelaki yang akan membimbingmu ke arah yang semakin baik."
"Iya, Mbak, terima kasih atas doanya. Tetapi mungkin nanti ketika Dewi menemukan lelaki yang mau hidup bersama Dewi, aku tidak akan seberuntung Mbak Bening karena Mbak sendiri tahu kan, aku ini seorang penyakitan. Walaupun sekarang sudah jauh lebih baik daripada dulu, tetap saja karena penyakit ku suka kambuh. Kalau sudah begitu, aku malah sering merasa rendah diri, Mbak. Aku sering merasa aku ini adalah beban dalam kehidupan keluarga kita."
"Kau tak boleh berkata seperti itu. Kehidupan ini harus dijalani dengan penuh rasa syukur. Tuhan menciptakan kesehatan dan juga terasa sakit bukan tanpa alasan dan tujuan. Kalau kita sedang ditimpa rasa sakit mungkin Tuhan ingin menguji kesabaran kita lebih daripada manusia yang lainnya dan jangan pernah lupa untuk bersyukur lagi bahwa tak semua orang bisa sampai di titik ini, sampai di mana kau bisa bertahan seperti sekarang, tidak menyerah dengan keadaan, dengan Tuhan yang masih setia memberimu nafas, itu adalah hal yang harus kita syukuri, Wi. Belum lagi dengan sejuta kebaikan lain yang sudah Tuhan berikan, kita tidak boleh mengeluh atau mengutuk setiap apa yang terjadi pada diri kita, karena mungkin itu adalah salah satu cara Tuhan untuk mengangkat derajat kita, ya kan?"
Dewi tersenyum dengar wejangan dari kakak satu-satunya itu. Dari kecil, Dewi tahu dan paham watak Bening memang sangat bijaksana dan selalu menjadi pendengar baginya.
Tepat ketika Dewi sedang membawa putrinya lebih jauh untuk menikmati hangatnya mentari pagi, Bening mendengarkan ibunya memanggil dari dalam, membuat Bening segera pergi menemui ibunya itu.
"Ponselmu ketinggalan di dalam, Nak. Ini sepertinya nak Gara menelponmu sedari tadi," kata ibunya sambil menunjukkan layar ponsel dengan beberapa panggilan tak terjawab yang tertera di sana.
"Iya, Bu, Bening tadi lupa membawanya keluar. Lagipula, Bening tidak pergi jauh, hanya di depan-depan sini saja, karena itu Bening sengaja meninggalnya di kamar. Baiklah, terima kasih ya Bu, sebentar lagi Bening akan hubungi mas Gara."
"Ya lebih baik dihubungi, kasihan suamimu itu menunggu kabar darimu. Sepertinya dia rindu sekali ingin segera bertemu denganmu."
"Mas, maaf, bukannya Bening mengabaikan telepon dari Mas, tadi Bening sedang bersama Dewi di luar. Kami sedang bersama Mentari, berjalan-jalan di depan sebentar." Bening memulai percakapan tepat ketika Gara sudah berada di dalam mobil dan akan pergi ke perusahaan nampaknya.
"Tak apa Sayang, Mas hanya rindu dan ingin mengabarimu suatu hal, Jadi Mas ingin meneleponmu di pagi hari ini. Kau sudah makan?" tanya Gara penuh perhatian sembari fokus menyetir.
"Udah kok, Mas, Bening sudah makan. Malah pagi tadi makannya nambah," ujar Bening sambil terkekeh geli. "Mas sendiri sudah makan atau belum?" tanya Bening kepada suaminya itu, sebab beberapa hari yang lalu, ibu mertuanya menelepon dan mengatakan kepada Bening bahwa Gara sering kehilangan selera makannya semenjak Bening berada di desa.
"Sudah, tadi bersama mama dan papa, Sayang. Mas cuma mau mengabari kepadamu, tiga hari ini mungkin akan pergi keluar kota karena mlamas ada kepentingan di sana."
"ke mana, Mas?" tanya Bening.
"ke Surabaya. Tidak lama, Sayang, hanya tiga hari setelah itu Mas segera kembali. "
"Jadi ini Mas mau pergi ke bandara langsung atau perusahaan dulu atau berangkatnya besok?"
"Perginya hari ini, tapi Mas masih ada kegiatan juga di kantor sampai jam sepuluh nanti, jadi penerbangannya sekitar jam sebelas."
"Baiklah, hati-hati ya, Mas. Nanti kalau sudah sampai di Surabaya, kabari Bening."
"Tentu, Sayang, kau juga ya, jaga kesehatanmu. Tak lama lagi kita akan segera bertemu, Mas sungguh sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan memelukmu."
Bening tersenyum mendengar Gara mengungkapkan hal itu, kemudian perbincangan mereka selesai karena Gara harus segera pergi ke perusahaan. Ia akan pergi ke Surabaya tanpa ditemani oleh sekretarisnya karena Gara memang tidak mengizinkan sekretarisnya untuk ikut setiap kali ia ada perjalanan ke luar negeri atau keluar kota.
Setelah menerima telepon dari suaminya itu, Bening kembali menghampiri putrinya yang masih berada dalam gendongan Dewi. Rencananya hari ini mereka akan pergi ke perkebunan bapak.
"Nanti Mentari ditinggal saja ya, Ning, biarkan bersama ibu di sini."
Bening tersenyum dan mengangguk, memang lebih baik putrinya itu tidak ikut. Bening sudah cukup sehat untuk pergi keluar rumah tetapi ia tidak diperbolehkan melakukan perjalanan jauh untuk sekarang. Sisa-sisa hari berada di desa akan di akan dimanfaatkan Bening untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif, karena setelah sepuluh hari ini ia akan kembali ke Jakarta dan kembali bersama Gara, jadi istri Gara yang baik dan setia menunggu Gara bersama kedua anaknya. Dalam beberapa bulan ke depan dia juga akan segera kembali berkuliah. Ia seorang wanita yang bahagia, seorang ibu dengan dua anak yang lucu sekaligus seorang mahasiswi.