
Gara dan Bening kembali ke Jakarta setelah menghabiskan beberapa hari di Bali untuk kepentingan foto maternity juga sekalian babymoon. Mereka membawa binar bahagia yang membuat kedua orangtua Gara merasa ikut bahagia melihatnya.
Bening akan segera mendapatkan libur yang cukup panjang setelah ia menyelesaikan ujian akhir semester beberapa hari lagi. Ia bisa memanfaatkannya untuk mempersiapkan diri melahirkan. Semuanya terasa lancar, Gara juga semakin bersinar sebagai seorang pebisnis muda.
Hari ini sepulang Bening dari kuliah, ia dan ibu mertuanya pergi ke supermarket. Mereka berbelanja kebutuhan dapur. Nyonya besar nampak mesra menggamit menantunya. Mereka membeli banyak buah dan bahan makanan lain.
"Tapi kata dokter yang kemarin periksa papa, papa harus kurangi makanan berminyak dan berlemak, Ma. Kolesterol papa naik banyak sekali," ujar Bening mengingatkan saat mereka sedang memilih daging segar di dalam chiller.
"Ya, kau benar, Bening. Papa memang suka sekali makanan yang berminyak dan berlemak, padahal Mama sudah sering mengingatkan."
"Kita belikan papa susu buat menurunkan kolesterol juga ya, Ma."
Nyonya besar mengangguk. Mereka menikmati kegiatan berbelanja hari ini dengan berceloteh apa saja. Bening juga menceritakan tentang seringnya Gara mengajak anak yang sedang ia kandung, berbicara setiap malam sebelum tidur. Nyonya besar mendengarkan dengan sukacita. Ia juga tak kalah semangat membayangkan cucunya akan lahir tak lama lagi.
"Kau harus menjaga kandunganmu ya. Makanlah yang begizi, jangan pikirkan badan mau melar, nanti setelah melahirkan akan ada banyak cara untuk mengembalikannya," sahut nyonya besar begitu antusias.
Bening hanya mengangguk saja dengan senyuman pula tentunya.
Di rumahnya sendiri saat ini, Revi sedang tak ada kegiatan. Ia kedatangan beberapa orang ahli CCTV hari ini. CCTVnya kebetulan sedang mengalami masalah dan karena sedang musim pencurian di kompleks rumahnya, ia harus segera menangani kerusakan pada sistem CCTV di rumah yang telah diberikan Gara kepadanya itu.
"Kami sudah selesai memperbaikinya, Nona dan sudah mengembalikan rekaman di beberapa bulan sebelum ini."
"Wah, ternyata rekaman lama juga bisa dikembalikan ya?" tanya Revi takjub.
"Betul, Nona. Ada berkas sampah yang bisa diambil lagi ke pengaturan awal. Walau tidak semuanya tapi rekaman yang belum ada setahun masih bisa kembali. Apa Nona ingin kami menghapusnya?"
"Oh, tidak-tidak. Biarkan saja."
Para ahli IT itu akhirnya keluar dari ruangan pribadi Revi. Iseng, Revi membuka-buka lagi rekaman lama CCTV. Ia melihat saat Bening bekerja dan terlihat Gara yang sering memperhatikan Bening diam-diam saat itu. Revi mengepalkan jemarinya. Meski tak ada terlihat Bening menggoda Gara dalam rekaman-rekaman lampau itu, tetap saja baginya, Bening adalah perebut suaminya. Sampai hari ini, Revi masih meyakini itu sebagai kebenaran menurut versinya sendiri.
Hingga pada saat ia memeriksa rekaman CCTV teras rumah itu, matanya menangkap pemandangan yang cukup mengejutkan dan agaknya membuat matanya perlahan berbinar dalam senyuman licik.
"Ternyata aku cukup bodoh tidak memeriksa rekaman ini sejak lama. Dasar kau jal*ng! Berani sekali kau mengundang lelaki ke rumah ini kemarin!"
Revi segera menyimpan rekaman itu lalu mengirimnya ke ponsel. Ia tersenyum penuh kemenangan. Meski lelaki itu tak sampai masuk ke dalam, tapi terlihat jelas dalam rekaman itu, Bening dipeluk oleh lelaki itu cukup erat.
Revi bergegas keluar dari ruangan itu. Ia mengganti baju lalu melihat jam tangannya. Gara pasti belum kembali ke rumah, dia pasti masih di perusahaan. Revi menarik kunci mobil dan bergegas keluar.
Ia segera melajukan mobilnya dengan hati yang sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan Gara. Di bibirnya terbit seringai licik seperti biasa.
"Aku sangat bahagia hari ini! Seandainya aku bisa melihat Gara menampar atau memukul Bening, aku pasti akan lebih bahagia lagi!" Ia berseru di dalam mobil dengan begitu semangat.
Sesampainya di perusahaan, Revi tahu dia tidak akan bisa masuk ke gedung perusahaan itu. Jadi dia akan menunggu Gara di basement.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya ia melihat Gara yang semakin tampan keluar menuju mobilnya. Revi bergegas membuka pintu mobilnya sendiri. Setengah berlari dia mendekati Gara.
"Mau apa lagi kau kemari?" tanya Gara dingin.
"Gara, aku tahu kau kini sangat membenciku. Tapi kau harus melihatnya,"
"Melihat apa maksudmu?"
"Sayang, percayalah kepadaku, istri kecilmu itu tidak sebaik dan sesuci yang kau pikir."
"Hentikan omong kosongmu, kita tidak ada urusan lagi!"
Gara meneruskan langkah tapi Revi juga tidak menyerah untuk terus menahannya.
"Lihat!" Revi menunjukkan rekaman saat Dani datang lalu memeluk Bening di teras rumah yang saat itu masih ditempati mereka bertiga.
Gara memandangnya datar, meski ia dikuasai kemarahan saat melihat itu, tapi ia tidak ingin menunjukkannya di depan Revi.
"Kau sudah selesai? Apa yang kau harapkan dari memperlihatkan rekaman tidak bermakna itu kepadaku? Kau berharap aku meninggalkan Bening?"
Revi terdiam, ia pikir Gara akan marah besar.
Gara tertawa kecil lalu berlalu meninggalkan Revi yang masih tertegun. Revi menatap nanar mobil Gara yang sudah melaju.
Di dalam mobil, Gara menarik nafas panjang. Ia bukannya tak marah tetapi memang sengaja tak mau menunjukkannya kepada Revi, tapi sekarang, Gara merasa hatinya cukup mendidih. Ia harus bertanya kepada Bening apa yang sebenarnya terjadi dan apa maksud juga tujuan Dani atas kedatangannya waktu itu.