
Nama-nama yang tersemat di papan nama tergantung di setiap calon mahasiswa mahasiswi baru itu unik-unik. Ada yang seperti merk sebuah brand kain sarung, Gajah Duduk, ada pula Burung Ayam-ayam, tapi yang paling menarik perhatian para panitia ospek adalah si Bebek Sawah yang tak lain adalah Bening.
"Bebek Sawah!"
Bening mengangkat wajahnya, saat suara perempuan terdengar menyebut papan namanya.
"Saya, Kak." Bening menyahut sopan.
"Maju!"
Bening maju, semua perhatian terarah ke arahnya. Bening sendri tidak tahu apa kesalahannya. Setahunya, ia tak bersalah. Semua peralatan ospek dia bawa, kecuali satu yang berbeda, Bening hanya mengikat rambutnya jadi dua bagian sementara yang lain menjadi tiga bagian. Samping kiri dan kanan juga di tengah bagian belakang. Bening memang luput tentang hal itu. Namun, tadi salah satu senior mengatakan tidak masalah, tapi kenapa dia mesti di panggil ke depan.
"Ada apa, Kak?"
"Tahu salahnya dimana?!" Suara Rosalina melengking di depan wajah Bening, tapi Bening tetap tenang.
"Saya hanya menguncir rambut saya menjadi dua bagian, tapi tadi kaka senior yang lain sudah memberi keringanan hukuman, Kak."
"Oh, sudah tahu salah tapi masih berusaha membela diri?!"
Bening diam. Dia tidak mau membalas lagi, bukan karena takut, tapi karena dia sadar dia baru di sana. Juga memang Bening tidak mau bertengkar.
Dani yang dari kejauhan melihat Bening sedang dibentak oleh kekasihnya, segera mendekat. Dia tahu Rosalina sengaja mencari-cari kesalahan Bening.
"Bening, kembali ke barisan."
Bening mengangguk bersamaan dengan Dani yang mencengkram lengan Rosa dan membawanya ke tempat yang agak jauh agar tak mengacaukan jalannya ospek. Bening sekilas melirik dua sejoli yang tengah bertengkar hebat di bawah pohon akasia itu.
Setelah itu Dani kembali bergabung bersama panitia lainnya. Sesekali dia melihat Bening sambil tersenyum. Rosalina memandangnya dengan penuh kebencian.
"Hari ini dia selamat, lihat saja besok!" desis Rosa sambil mendekap tangan di depan dada.
Urung Rosa mengerjai Bening di belakang tembok kampus saat ini, tetapi di hari terakhir ospek, dia mulai melancarkan aksinya.
Dua anteknya sengaja mengambil pita merah Bening hingga Bening tidak memakainya. Mereka menggunakan alasan itu untuk membawa Bening.
"Mau dibawa kemana, Ros?" tanya salah satu panitia.
Namun, ternyata, Bening bukannya dibawa ke ruang eksekusi yang notabene kalau Bening dibawa ke sana, dia tidak akan sendirian saja sebab ruangan itu sekarang juga penuh dengan panitia lain dan beberapa calon mahasiswa baru yang melakukan pelanggaran kecil.
"Kenapa saya dibawa ke tempat ini Kak?" tanya Bening yang mulai menyadari ada yang tidak beres. Ia sudah dibawa jauh sekali dari gedung utama kampus. Ilalang tinggi melingkupi mereka. Bening mulai merasa tidak enak perasaan.
"Tahu salahmu apa?!" tanya Rosa dengan bentakan.
"Saya kehilangan pita merah saya."
"Kau gatal! Memangnya dari kemarin aku tak tahu kau dan Dani itu saling lirik?!"
Bening menggeleng cepat. "Kakak salah paham. Saya dan bang Dani memang saling mengenal karena kami satu desa. Tapi saya tidak punya hubungan apapun dengan dia."
"Alah! alasan kau saja! Pegang tangannya, biar ku pukul perutnya!"
Bening terkesiap, ia memberontak. Perut adalah bagian tubuh yang paling dia lindungi saat ini sebab di sana ada bayinya. Bayi Gara!
"Jangan! Tolong lepaskan saya! Kakak tidak boleh memukul perut saya!"
"Banyak bicara! Pegang yang kuat tangannya!" perintah Rossa lagi kepada kedua temannya.
Bening seolah mendapat kekuatannya kala sang bayi dalam keadaan terancam. Naluri seorang ibu memerintahkan dia untuk menendang perut Rosa terlebih dahulu dengan kakinya yang bebas. Bening kemudian menginjak dan menggigit tangan kedua antek Rosa yang lengah.
Rosa berang, ia meraih balok kayu berukuran sedang yang terlihat tak jauh darinya. Benda itu dilemparkan ke punggung Bening hingga membuat Bening terjatuh. Sebisa mungkin Bening menahan perutnya agar tak menghantam tanah.
Baru saja Rosa hendak kembali melancarkan aksinya, para panitia lain yang memang mencari Bebek Sawah segera menghentikan gadis yang seperti sedang kerasukan itu. Bening dibantu Dani dan para panitia lain segera berdiri.
"Perutku ..." Bening mencengkram perutnya, merasakan nyeri tiba-tiba.
"Dia sedang hamil! Apa yang kau lakukan?!" Dani menghampiri Rosa yang terkesiap dan langsung menerima tamparan dari Dani. Tak ada satupun yang tahu jika si Bebek Sawah sedang mengandung.
Bening segera dibawa ke klinik kampus. Bening masih pingsan tetapi kandungannya tidak ada masalah. Dia hanya syok, kondisi alami yang dialami seorang perempuan hamil muda ketika menerima ancaman yang membahayakan bayinya, maka sekitar perut akan tegang namun syukurlah, bayinya selamat dan tidak mengalami keguguran.
Namun, mereka semua harus bersiap, sebab mereka akan menghadapi Gara yang sekarang sudah meninggalkan ruangan meeting setelah mendapat kabar buruk itu. Gara datang dengan semua kemarahannya. Kampus itu juga akan dalam masalah berat mulai detik ini juga!