
Revi menyunggingkan senyum jahat ketika melihat berita tentang kisruh rumah tangganya. Awalnya dia tidak berniat membuka kisah itu di depan publik, bahkan selama ini tak banyak orang tahu bahwa dia adalah istri Gara, tapi sekarang, Revi berubah pikiran. Dipikir-pikir dia bisa memanfaatkan keberadaan Nilam yang diketahui adalah teman baik Bening.
Hal itu secara tak sengaja ia ketahui ketika ia melihat foto Nilam dan Bening di galeri ponselnya. Nampaknya, jongosnya itu sengaja untuk menutupi persahabatan mereka agar dia tidak tahu. Muncul ide jahat Revi untuk menyewa seorang wartawan yang akhirnya memuat kisah mereka. Sekarang, hampir semua orang tahu bahwa Bening adalah seorang pelakor jahat.
"Saya juga tidak tahu, saya benar-benar tidak menyangka ada gadis desa yang tega merusak rumah tangga saya." Revi nampak menyeka airmata palsunya dengan tisu kala ia berhadapan dengan banyak sekali wartawan siang itu.
"Apa alasan suami Anda berselingkuh? Bukannya selama ini, Anda sangat menutup rapat kisah pribadi anda di hadapan publik?" cecar wartawan.
"Gadis itu adalah pembantu di rumah mertua saja. Dia tega menggoda suami saya, mereka ternyata sudah melakukan pernikahan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan saya!"
Wartawan merekamnya, kamera merekamnya. Media gosip menyebarkan cerita bohong Revi yang semakin menjadi. Revi tertawa puas. Sementara Gara juga banyak kedatangan tamu wartawan yang haus berita.
Situasi jadi runyam. Bening tak tenang di kampus karena jadi sasaran bully orang-orang. Setiap hari dia mendengar kalimat-kalimat menyakitkan. Sampai hari ini Nilam belum kunjung tiba.
Gara mendatangi Revi di rumah mereka, ia membanting pintu.
"Apa maksudmu berbicara begitu kepada wartawan?!" tanya Gara dengan suaranya yang menggelegar.
"Loh, aku sendiri didatangi wartawan karena berita itu, Gara! Aku terpaksa memberi pernyataan seperti itu! Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan berita gila itu!"
"Tidak mungkin kau tidak tahu!" Gara mencengkram dagu Revi kuat membuat perempuan itu kesakitan.
"Untuk apa? Pernikahan kalian hanya akan menghancurkan reputasiku jika publik tahu!"
"Aku tidak percaya! Kalau bukan kau, lalu siapa lagi?"
"Bening punya sahabat yang pasti tahu semua cerita tentang kita! Kau tanya saja pada Bening! Dia pasti sengaja memberi tahu temannya itu karena ingin menyingkirkan aku. Apalagi dia tahu bahwa temannya itu sekarang adalah asistenku!"
Gara bukannya bodoh, ia menatap Revi lekat.
"Aku tidak percaya! Pasti kaulah dalang semua ini!"
Gara melangkah keluar lalu pergi ke rumah. Dia tidak menemukan Bening. Namun, ada pesan yang mengatakan bahwa Bening berada di rumah mamanya.
Gara segera menyusul istrinya itu. Ia khawatir hal itu akan mengguncang jiwa Bening yang sedang rapuh. Walau kenyataannya, Bening masih sangat tenang menghadapi itu semua.
"Berita seperti itu pasti sengaja dibuat untuk menjatuhkan," desis nyonya besar sambil menyerahkan susu hamil untuk menantunya itu.
"Tapi siapa ya, Ma?"
"Entahlah, Revi barangkali."
"Ning, kau dimana? Bisa kita bertemu?"
"Kebetulan, Lam, kau bisa pergi ke rumah mertuaku sekarang?"
"Kau kirimkan alamatnya ya."
Bening segera mengirimkannya kepada Nilam. Tiga puluh menit kemudian, Nilam tiba bersamaan dengan Gara yang juga datang .
Gara memincing, melihat Nilam yang mengangguk sopan.
"Mas Gara, Bening mau bicara dengan Nilam dulu ya."
Gara mengangguk, membiarkan istrinya bersama Nilam sementara ia sendiri berbicara dengan mamanya, menyusun rencana apa yang akan mereka ambil demi meredam pemberitaan yang menyudutkan Bening saat ini.
Sementara itu, Nilam dan Bening sudah berhadapan kini.
"Aku baru balik dari desa, Ning, setelah mbak Revi memberikan aku cuti empat hari. Aku lihat berita di medsos tentang kalian. Sungguh, bukan aku yang menyebarkan berita itu. Karena mbak Revi menuduhku yang melakukannya."
Bening menarik nafas panjang. Dia sendiri yakin bahwa memang bukan Nilam yang melakukan hal itu.
"Aku curiga dia sendiri yang melakukannya, Ning. Mungkin saja dia sengaja untuk merusak namamu agar kau kehilangan muka di depan setiap orang apalagi di kampus."
"Aku sendiri tidak mengerti, Lam. Sungguh tak paham pula harus bagaimana saat ini. Semua orang sudah menganggap aku perempuan jahat," keluh Bening.
"Kau tenang saja, Ning. Aku akan cari tahu."
Bening tak menjawab, tapi rasanya dia memang memerlukan Nilam untuk mencari tahu semua itu melalui Revi. Hampir saja Bening berpikir bahwa Nilamlah yang sudah menyebarkan berita jahat itu.
Gara dan nyonya besar sekarang saling berhadapan. Setelah menelepon tuan Wibowo yang sedang di luar negeri, ia mendapat satu jalan keluar agar membebaskan Bening dari segala tuduhan.
"Gara, minggu depan Mama akan mengadakan resepsi besar-besaran untuk kau dan Bening. Kita akan mengundang banyak wartawan. Sudah Mama duga, menikah tanpa diketahui orang banyak di kota ini hanya akan menimbulkan fitnah saja."
"Aku setuju, Ma. Aku juga tidak akan menutupi keberadaan Bening lagi."
"Ya, tak apa, biarkan saja berita yang terlanjur beredar saat ini."
Gara mengangguk, ia setuju untuk mengadakan acara pesta pernikahan lagi dan kali ini tidak akan tertutup sama sekali.