Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Hanya Diam


Gara masuk ke dalam rumah tak seperti biasanya. Wajahnya datar. Bening yang sudah dengan sukacita menyambut kepulangan suaminya itu tentu saja peka dengan hal itu. Dia paham sepertinya ada yang sedang terjadi atau mungkin mengganggu pikiran Gara.


"Mas Gara, Bening siapkan air hangat ya?"


Gara tak menyahut, hanya mengangguk sekilas. Bahkan tak mengizinkan Bening membantu membuka sepatunya. Semakin berkerutlah kening Bening. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Mengapa suaminya jadi dingin begitu? Namun, untuk sementara, Bening belum mau bertanya apapun dulu. Mungkin, ada masalah berat yang sedang terjadi di perusahaan sehingga Gara pulang dengan tampang badmood.


"Mas Gara, airnya sudah siap."


Lagi-lagi, Gara hanya menganggukkan kepala. Ia bergegas ke atas dan segera masuk ke dalam kamar lalu menuju kamar mandi. Bening tentu semakin heran dan ini rasanya tak boleh dibiarkan berlarut-larut.


Dirasa Gara mandi akan cukup lama, Bening segera mengambil ponsel lalu mulai melakukan sambungan telepon ke ayah mertuanya.


"Hallo, Bening?"


"Iya, Pa, ini Bening."


"Nah, ada apa rupanya kau menelepon Papa? Tak biasanya, Nak?"


Bening menarik nafas panjang sebelum melanjutkan percakapan.


"Papa, boleh Bening bertanya satu hal?"


"Tentu saja, Menantuku, tanyakan apa yang ingin kau tahu."


"Pa, apa perusahaan sedang mengalami masalah? Maaf jika Bening menanyakan hal sesensitif ini."


"Oh, tak masalah Bening. Tapi, tidak ada masalah di perusahaan. Tidak ada hal yang fatal yang sedang terjadi. Semua baik-baik saja sampai hari ini. Mengapa? Apa Gara mengeluh sesuatu?" tanya tuan Wibowo penasaran.


Bening jadi semakin heran. Kalau memang bukan masalah perusahaan, berarti ada hal lain yang sedang mengusik ketenangan suaminya.


"Ehmmmm, ya sudah, terima kasih ya, Pa. Maaf Bening menanyakan hal ini."


"Tidak masalah, Bening."


Sambungan telepon itu mati kemudian. Bening pergi ke lantai atas. Dilihatnya Gara sudah selesai mandi. Bening mendekati suaminya, membantu memilihkan baju. Lagi, Gara hanya diam membisu sambil memakai bajunya.


"Bening sudah masak enak, Mas Gara mau langsung makan?" tanya Bening lagi berusaha untuk membuat suaminya itu berbicara. Namun, sekali lagi hanya anggukan yang ia dapatkan.


Bening akhirnya turun lagi ke bawah, menyiapkan makanan di atas meja dan kemudian menunggu suaminya turun ke bawah pula.


"Ayo, Mas, nanti lauknya dingin," ujar Bening lagi karena ia melihat Gara berhenti di tengah-tengah tangga sambil sibuk dengan ponselnya.


Gara melihat Bening sekilas, kemudian ia memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana. Gara turun, menuju meja makan dan mulai menikmati hidangan lezat buatan Bening yang selalu membuatnya berselera.


Kendati hanya diam membisu, tapi Bening merasa senang sebab Gara makan dengan lahap. Hanya saja, suasana jadi lebih berbeda, begitu hening dan sunyi. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu, meramaikan ruang makan itu.


Hingga saatnya malam tiba, ketika Bening merasa tak lagi sanggup menyaksikan kediaman suaminya, Bening mendekati Gara yang sedang termenung di balkon kamar mereka. Entah mengapa, rasanya Bening jadi sedikit takut untuk menegur dan mendekati suaminya itu. Bening juga melihat Gara kembali merokok. Hal yang biasa Gara lakukan jika dia sedang ada yang dipikirkan.


"Mas Gara," panggil Bening lirih, kesepuluh jemari Bening saling bertaut, tanda ia sedang gelisah.


"Duduklah, Sayang."


Gara menepuk sisi sofa sembari membuang sisa rokok yang masih setengah. Bening bernafas lega, sebab sekarang, meski masih terasa dingin, setidaknya Gara sudah mau berbicara.


"Ya, hanya ketika aku sedang banyak pikiran, Bening."


"Apa yang sedang Mas Gara pikirkan? Mas Gara hanya diam sejak pulang tadi. Bening sampai menelepon papa untuk bertanya apa ada masalah di perusahaan."


Gara menoleh sesaat lalu kembali menghadap ke depan.


"Tak ada masalah di perusahaan, Bening. Semua baik-baik saja."


"Lantas masalah sebenarnya apa, Mas Gara? Apa ada hal yang tidak berkenan mengenai Bening? Atau mungkin ada kesalahan yang tak Bening sengaja hingga akhirnya membuat Mas Gara marah?" tanya Bening dengan lembut.


Gara sebenarnya tak mau mengungkapkan. Tapi sekarang hatinya cemburu. Meski di depan Revi dia tak mau menunjukkannya sore tadi, tapi di hadapan Bening, dia kini tak bisa mengelak dari perasaan itu.


"Bening, apa lelaki itu pernah mendekatimu lagi selama aku tak ada?"


Bening mengerutkan dahi, tak mengerti apa yang Gara maksud barusan.


"Lelaki?"


"Dani, lelaki itu. Apa dia dan kau masih sering berhubungan?"


"Sungguh, Mas, tak ada. Bening tidak pernah sengaja dekat atau bahkan berbicara dengan bang Dani. Mengapa, Mas Gara?"


"Sayang, katakan sejujurnya, kapan dia datang dan memelukmu?"


"Hah?" Bening semakin tak paham.


Jadi, ia diam dan berpikir, berusaha mengenang sesuatu yang mungkin terlewatkan. Kemudian Bening mengerjapkan mata, nampaknya ia mulai ingat sesuatu.


"Mas Gara, Bening tidak tahu, Mas Gara mendengarnya dari siapa ..."


"Aku bukan mendengarnya, Bening, tapi melihatnya. Kau dan dia berpelukan di rumah lama kita kemarin."


"Baiklah, Mas Gara. Sungguh, Bening tak bermaksud untuk menyembunyikan hal itu, Bening hanya tak ingin Mas Gara salah paham. Tapi sejujurnya, waktu itu tepat beberapa hari sebelum kita menikah, bang Dani datang ke rumah saat Bening masih menjadi pembantu Mas Gara dan mbak Revi. Bening juga tidak tahu dia tahu alamat rumah itu dari siapa, tapi saat itu, Bening pun terkejut. Dan dia juga langsung memeluk Bening tanpa bisa Bening duga sebelumnya. Tidak ada yang terjadi, Mas. Sumpah, bg Dani juga tak Bening izinkan masuk. Maafkan Bening atas kediaman ini. Bening tahu, itu sudah membuat Mas akhirnya salah paham dan mengira hal yang terlampau jauh."


Gara menarik nafas sesaat lalu ia melihat Bening.


"Apa, Mas Gara masih meragukannya?"


Gara tersenyum kecil lalu menggeleng, kemudian ia merentangkan tangannya, meminta Bening masuk ke dalam pelukan.


"Maafkan, Mas Gara, Bening. Mas Gara cemburuan."


"Tak apa, Mas, artinya, Mas Gara sayang Bening."


"Tentu saja Mas Gara sangat menyayangimu."


Bening tersenyum lagi, dipeluknya Gara erat. Pelukan Bening menenangkan dan menghangatkan Gara yang tadi sempat dilanda emosi. Beruntung dia memiliki Bening yang bisa menjelaskan semua hal dengan begitu sabar. Andai saja Bening seperti Revi, pasti hanya pertengkaran mulut yang akan terjadi.


"Kau sangat membuat aku takut kehilanganmu, Bening," bisik Gara tepat di telinga istrinya itu. Kemudian Gara mengecup mesra kening Bening dan menghabiskan sisa malam dengan memeluk Bening hingga mereka terlelap dalam tidur yang nyenyak. Bening sendiri tidak tahu Gara melihatnya di mana yang jelas ia tidak akan cemas karena memang tak ada yang terjadi setelah itu dengannya dan Dani. Bening tak akan mengkhianati sang pemilik kehormatannya.