
Setahun masa selepas melahirkan sudah terlewati, kehidupan Gara dan Bening semakin bahagia saja apalagi tak ada Revi lagi yang kerap mengganggu Bening seperti dulu. Meski sempat diterpa gosip tidak mengenakan, akhirnya Gara berhasil membungkam media dan massa yang memojokkan istrinya dengan segala bukti. Bahwa Bening bukan seorang pelakor, bahwa Bening menikah juga atas izin Revi yang dulunya tak mau memberi Gara anak, bahwa Bening tidak hamil duluan. Semuanya sudah Gara bersihkan hingga ke akar-akarnya.
Revi juga sedang menjalani masa tahanan yang hanya beberapa tahun karena kasusnya hanya pencemaran nama baik. Namun, dia dipastikan telah kehilangan segalanya, mulai dari kehidupan hedonis, hingga karirnya yang seketika jatuh dan meredup. Revi dipastikan akan sulit kembali ke entertainment karena imagenya sudah sangat buruk di mata orang-orang.
Hari ini pula, Bening sudah kembali berkuliah, puteranya sekarang sudah bisa berjalan dan berlari kecil dengan lucu. Bening sebisa mungkin menjalani perannya sebagai seorang istri, ibu dan sekalian mahasiswi dengan baik. Ia pandai membagi waktu. Ke kuliah hanya untuk belajar dan setelah itu langsung pulang ke rumah untuk bertemu anak juga menanti kehadiran suami.
"Kalau mau jalan-jalan atau sekedar berkumpul bersama teman kuliahmu, tak apa, Sayang." Gara berkata sembari membelai rambut istrinya ketika mereka akan tidur malam itu.
"Tidak usahlah, Mas Gara. Bening sudah nyaman dengan kebiasaan selama ini. Lagipula, Bening takut lupa waktu kalau sudah bersama teman-teman. Di kampus kan sudah bersama mereka, tak perlulah sampai harus dilanjutkan di luar kampus segala. Lagipula, Bening lebih rindu cepat pulang, bertemu Abimanyu dan bertemu suami Bening," sahut Bening sembari mengusap lembut pipi Gara.
Gara meraih jemari Bening lantas mengecupnya perlahan. Bening masih seperti seorang gadis, tubuhnya sudah kembali meski sudah jauh lebih berbentuk dan sedikit berisi. Gara sangat suka memeluknya, membuat candu.
"Kalau keluar, paling Bening bersama mama. Mama suka ajak Bening aerobik di sanggar milik temannya," lanjut Bening sambil tertawa. Gara pun ikut tertawa mendengarnya.
"Kenapa Mas Gara mengizinkan kau pergi bersama teman-teman untuk sesekali, itu karena Mas Gara tidak ingin kau merasa tertekan selalu berada di rumah, Sayang. Lagipula, Abi sudah bisa ditinggal-tinggal. Ada nanny nya juga yang menjaga. Kadang malah diambil mama biar tinggal di rumah mereka."
"Bening mengerti kok, Mas Gara. Hanya saja, rasanya nongkrong-nongkrong seperti itu memang buka kesukaan Bening. Lebih baik cepat pulang, memasak untuk Mas Gara dan bermain bersama Abi."
Gara meraih Bening ke dalam pelukannya setelah mendengar kata-kata istrinya itu. Bening sangat pengertian, meskipun usianya masih sangat muda. Di usia Bening yang sudah delapan belas tahun itu, dia juga sudah menjadi seorang istri dan ibu. Dia sempurna bagai mama muda.
Gara juga rajin merawat tubuhnya agar Bening selalu betah dengannya. Lelaki itu bertambah matang dan tampan. Kalau Bening berjalan bersama Gara, Bening bisa melihat banyak sekali tatapan memuja dari para gadis untuk suaminya itu.
"Kau menyesalkah Bening, menikah muda begini? Sudah punya anak pula? Kadang Mas Gara takut jika kau sampai kehilangan masa-masa mudamu karena terpaksa menikah dengan Mas Gara."
"Tidak, Sayang. Mas Gara jangan berkata seperti itu. Bening sangat bahagia. Justru Bening sangat berterimakasih kepada Mas Gara dan juga mama papa yang sudah begitu baik. Mas Gara sekeluarga sudah mengangkat derajat kedua orangtua Bening di desa dari yang dulunya tak punya apa-apa sekarang Alhamdulillah sudah memiliki semuanya. Bagaimana bisa Bening tidak bahagia? Apalagi, Mas Gara sangat memperhatikan Bening, Mas Gara yang membantu Bening dewasa dalam segala hal."
"Mas Gara akan sangat mencintai sesuatu yang bisa membuat Mas Gara tergila-gila, Sayang. Kau sudah membuatnya. Mas Gara tidak akan pernah mengkasarimu,"
"Bening juga akan selalu setia kepada Mas Gara."
"Jadi, apa kita akan melakukannya lagi malam ini, Sayang?" tanya Gara penuh arti.
Bening tertawa kecil lalu mengecup lagi bibir Gara lebih dahulu dengan Gara yang mulai membalasnya dengan *******-******* menggairahkan.
"Sebanyak yang suami Bening mau, ayo," sahut Bening membuat Gara bersemangat.
"Bikin adik untuk Abi?" tanya Gara dengan kerlingan nakal.
"Eh, jangan dulu, Sayangku ... " Bening mulai panik.
"Mas Gara hanya menggurauimu, Sayang." Gara terkekeh dengan Bening yang mencubit gemas perut suaminya itu. "Sesuai kesepakatan kita ya, berjarak tiga tahun dari Abi."
Bening mengangguk setuju.
"Kalau mau begituan sering-sering?" tanya Gara lagi.
"Sebanyak yang Mas Gara mau, Sayang," jawab Bening. Gara tersenyum lebar, Bening tahu saja dia suka mereka selalu menyatu. Bening paham suaminya yang gagah dan perkasa itu jadi dia akan memberikan pelayanan terbaik bagi pemilik hati juga pemilik kehormatannya itu.