
Mas Gara, sudah matang masakannya, ayo makan dulu."
Masih berada di Bolivia, Bening dan Gara saat ini sedang berada di hotel tempat mereka menginap. Kemarin, sepulangnya mereka dari Salar De Uyuni, Bening dan Gara mampir dulu ke tempat penjualan bahan makanan yang ada di Bolivia.
Mencari makanan halal di Bolivia cukup sulit, jadi mau tak mau, Bening berinisiatif untuk memasak saja. Kalau pun mau makan sesuatu, mereka mesti selektif memilih restoran yang ada di sana. Gara sendiri setuju saja asal Bening tak merasa kelelahan dan kerepotan. Sebab selama mereka di Bolivia, mereka seperti sedang bulan madu ronde kedua.
Setiap hari bermesraan berujung olahraga ranjang. Bening sendiri sudah paham dan hafal semua kebiasaan suaminya jadi tak ada masalah berarti selama mereka berlibur. Nyonya dan tuan besar juga kerap menelepon, berulang kali mengatakan kalau Abi ingin cepat punya adik. Padahal Bening dan Gara paham betul bahwa kedua orangtua mereka itulah yang masih ingin punya cucu.
"Ya biar Mama dan papa tidak rebutan," kata nyonya besar saat menelepon Gara dan Bening saat itu. "Abi suka jadi bahan rebutan Mama sama papa sih. Kalau ada lagi satu kan jadi adil," sambung nyonya besar yang langsung disambut tawa oleh Gara dan Bening.
"Mama, bikin cucu itu gak segampang bikin bakwan. Yang diadoni tepung, sayur terus tinggal goreng, jadi," kelakar Gara membuat tuan besar yang mendengar jadi tertawa keras saat itu.
"Kan kalian sedang bulan madu itu, tidak ada yang mengganggu kalau mau bikin adik buat Abi, iya kan Bening?"
"Betul, Ma. Tapi, Mama dan papa sabar dulu ya, pokoknya Bening janji akan secepatnya kasih adik buat Abi biar Mama dan papa tidak rebutan lagi."
"Nah begitu, baru mantu Mama."
Gara dan Bening tersenyum-senyum sendiri mengingat pembicaraan manis itu. Saat ini, mereka sedang makan dengan tenang. Sesekali, Bening akan menyuapi Gara.
"Mama serius loh, Sayang, dia pengen secepatnya kita kasih adik buat Abi," kata Gara lagi. Pokoknya topik mereka selama di Bolivia itu tak jauh dari adik buat Abi.
"Bening juga serius kok, Mas Gara, Bening siap kasih anak lagi buat Mas Gara."
Gara menaikkan alisnya, ia heran, sebab mereka sudah sepakat untuk memiliki anak lagi berjarak tiga tahun usianya dari Abi.
"Sayang, mama dan papa juga pasti mengerti kalau kita akan memberi adik buat Abi tiga tahun lagi sesuai rencana awal kita. Apalagi, kau kan mesti fokus dengan kuliahmu dulu."
"Bening sudah memikirkannya, Mas Gara, setelah Bening pikir, tidak ada masalah kalaupun Bening harus hamil tiap semester. Teman Bening di kampus juga ada yang seperti itu."
"Mas Gara, Bening itu suka anak-anak. Bening juga suka lihat kebahagiaan mama dan papa, bapak dan ibu, juga Bening senang Mas Gara bahagia. Kita lupakan saja kesepakatan kemarin, kalau Allah berkenan memberi kita anak lagi, Bening dengan senang hati akan mengandung lagi."
Makanan Gara rasanya semakin enak di mulut mendengar ungkapan tulus dari istrinya itu. Bening benar-benar bisa membuat hatinya mekar sepanjang hari. Meski usianya masih teramat muda, tapi ia rela berkorban waktu masa mudanya hanya untuk mengabdi kepada dirinya, seorang suami yang sekarang benar-benar terasa dihargai.
"Mas Gara beruntung sekali memiliki istri sebaik kau, Bening. Mas Gara tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Kau adalah istri idaman. Pandai masak, begitu ikhlas menjalani kehidupan, juga sangat berbakti kepada suami."
Bening tersenyum, dia tersentuh mendengar Gara memujinya. Gara adalah gambaran sosok lelaki sempurna yang pernah ia temui dan sekarang ia miliki seutuhnya.
Setelah mereka makan, Gara dan Bening akan melanjutkan perjalanan mencari tempat-tempat unik di Bolivia. Bening menikmati liburan ini dengan suka cita. Dia juga berharap akan ada benih yang kembali tumbuh di rahimnya. Bening jadi suka hamil, bisa dipastikan dia akan memiliki banyak anak dari Gara setelah ini.
"Jadi sepakat ya, kita bakal fokus buat tambah anak lagi?" tanya Gara kepada Gara sambil menggandeng jemari Bening di bawah pohon-pohon sepanjang jalan Bolivia.
"Ya, Bening masih punya rahim yang kuat dan sehat untuk mengandung benih Mas Gara. Lakukanlah, Suamiku," sahut Bening dengan senyum menawan.
Gara tak henti menebar senyum penuh kebahagiaan mendengarnya. Ia ingin selamanya seperti ini. Bening seperti suntikan semangat baginya setiap hari. Meski lelah kadang otaknya berkutat dengan urusan perusahaan, ketika pulang, dia menemukan lagi semangat yang sempat hilang. Melihat senyum Bening menyambutnya, mendengar celoteh Abi puteranya, Gara seperti menjadi lelaki paling bahagia di muka bumi ini.
"Mas Gara memang tak salah memilihmu menjadi istri satu-satunya, Bening."
"Beninglah yang beruntung itu, Mas Gara. Semoga Mas Gara selalu bersabar membimbing Bening, menjadi istri yang Mas Gara inginkan sejak dulu, jika ada salah, maka jangan pernah sungkan untuk menegur dan membicarakannya dengan Bening. Begitu pula jika ada sesuatu yang Bening kurang suka dari Mas Gara, semoga Mas Gara mengerti itu dan mau menerima kritikan dari istri kecilmu ini."
"Tentu, Sayang. Eh, biar kecil-kecil tapi Bening itu cabe rawit. Apalagi kalau sudah di ranjang, Mas Gara geleng-geleng jadinya," goda Gara membuat Bening jadi malu dengan pipi yang merona merah.
"Ah, Mas Gara, jangan begitu. Kan jadi malu."
Bening mencubit pelan perut suaminya itu. Gara tertawa lalu memeluk istrinya di bawah pohon pinus yang menaungi keduanya.