Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Nekat


Berbulan-bulan kemudian, di usia pernikahan yang sudah cukup matang, dengan anak yang mulai tumbuh besar dan lucu, kehidupan rumah tangga Bening dan Gara semakin mesra dan romantis. Ada saja hal-hal kecil yang membuat Gara tersenyum setiap kali ia dan Bening bersama. Bening selalu suka membuat Gara tertawa, begitu juga Gara yang selalu menjadi penyemangat bagi Bening setiap ia lelah dengan banyaknya tugas kuliah.


Tak ada yang mereka tutupi, sekecil apapun suatu hal pasti mereka perbincangkan berdua. Namun, ada satu hal yang mengusik ketenangan Gara, kemarin ia menerima tamu yang tak begitu asing. Seorang perempuan yang mengajaknya untuk menjadi partner bisnis. Gara sudah bisa menebak, kehadiran Syifa kemarin tak serta merta soal bisnis semata.


"Mas, sepertinya banyak sekali yang tengah dipikirkan sekarang ini. Tak mau membaginya dengan Bening kah?" tanya Bening sembari meletakkan secangkir teh hangat. Mereka tengah duduk bersantai di dekat kolam renang. Bening kemudian berdiri di belakang Gara yang tengah duduk di kursi santainya, dipijatnya pundak sang suami agar lebih rileks dan leluasa untuk bercerita.


"Ada, bahkan cukup mengganggu pikiranku, Sayang."


"Kalau begitu, ceritalah kepada Bening, Mas. Siapa tahu bisa meredakan rasa tak enak yang mengendap di dalam hati."


Gara mengangguk, tapi ia tak langsung bersuara. Cukup lama terdiam, seolah sedang menyiapkan kata-kata yang pas untuk istrinya.


"Kau ingat perempuan bernam Syifa yang pernah Mas ceritakan dulu?"


Bening tampak mengingatnya, berusaha menggali kembali setiap pembicaraannya dengan Gara kemarin-kemarin. Ia mulai terkenang, sosok Syifa yang pernah diceritakan Gara ketika ia lepas empat puluh hari waktu itu.


"Ya, Bening ingat, Mas. Ada apa dengannya? Apa dia masih penasaran dengan Mas? Apa masih berusaha untuk menggoyahkan keteguhan dan kesetiaan Mas sebagai pria yang sudah beristri?" tanya Bening tenang, tak terdengar sama sekali emosi dalam setiap tutur perempuan itu.


Gara menyentuh satu jemari Bening yang tengah memijat pundaknya dengan lembut itu.


"Dia kemarin datang ke perusahaan. Meski ia datang dengan menawarkan hal menggiurkan yang memang Mas rasa bisa menguntungkan perusahaan, tetapi Mas risih setiap kali dia menatap Mas dengan pandangan yang aneh."


"Dia bukan aneh, Mas, tetapi dia sedang mendamba. Memangnya sudah ada tanda tangan kerja sama di antara Mas dan dia?" tanya Bening hati-hati.


Gara menggeleng. "Mas masih memikirkannya, sepertinya Mas tidak akan meneruskan kerjasama dengan Syifa."


"Kalau memang urusannya hanya tentang perusahaan, Bening tak bisa melarangnya, Mas Gara. Bening juga yakin, Mas bisa menjaga mata juga hati selama tak ada Bening di sisi Mas Gara."


"Lebih baik memang Mas lepas saja, Sayang. Mas tidak suka dengan caranya menatap. Mas tidak suka dengan kata-katanya yang terlalu dibuat-buat."


Gara mengangguk-angguk kemudian. Ia sepertinya memang tidak akan melanjutkan kerja sama dengan Syifa. Beruntung sekali ia belum menandatangani kontrak, ia masih membiarkan beberapa dokumen juga berkas teronggok di atas meja. Besok Syifa pasti akan datang lagi dengan asistennya.


Sementara itu, di apartemennya sendiri, Syifa merasa selangkah lebih dekat dengan Gara sekarang. Dia sangat antusias ketika ayahnya memerintahkan untuk berkunjung ke perusahaan yang Gara pimpin.


"Tak rugi aku bertukar posisi dengan kakakku. Aku pasti bisa meraih Gara ke dalam pelukanku kelak. Aku sungguh terpesona dengannya. Aku suka cara dia bicara, aku suka tatapannya yang tajam."


Rupanya hal itu terdengar oleh asisten pribadinya yang juga tinggal satu apartemen dengan gadis itu. Perempuan itu menggeleng.


"Nona, apa sebegitu sukanya Nona kepada Pak Gara?"


Syifa menoleh, ia tak malu walau tak sengaja tadi kata-kata yang keluar dari mulutnya malah terdengar oleh asistennya.


"Apa ada yang salah? Aku tak bisa menahan laju perasaan, May."


"Jatuh cinta memang tak salah, Nona. Hanya saja, bukankah pak Gara itu bukan lagi pria lajang. Saya dengar, dia sudah punya istri. Bahkan sudah dua kali menikah dan sekarang sudah punya dia anak pula."


"Nah, kau tahu sendiri dia sudah dua kali menikah, bukankah artinya, ada kemungkinan dia akan kembali menikah dengan perempuan lain lagi?"


"Saya tidak begitu paham dengan cinta-cintaan, Nona, tetapi saya sarankan agar Nona tidak meneruskan apa yang sudah terpatri di dalam otak Nona. Bukan tak mungkin, kelak malah akan jadi boomerang untuk Nona sendiri."


Syifa tampak diam sesaat lalu dia menggeleng.


"Aku yakin, suatu saat, Gara akan luluh denganku, May. Walau dijadikan yang ke berapa pun rasanya aku takkan menolak."


Maya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Syifa memang nekat, dia tahu persis bagaimana watak perempuan itu. Namun, agaknya Gara bukan orang yang mudah untuk ditaklukkan, seharusnya Syifa bisa merasakan hal itu.