
Sudah dua bulan ini mood Bening naik turun. Walau tidak terlalu berdampak, tetapi dia jadi lebih banyak diam dan sewaktu-waktu bisa berubah lebih aktif. Siang itu ketika sedang terik sekali ia menelepon Gara yang sedang berada di perusahaan dan sedang kedatangan tamu.
"Saya terima telepon dulu ya, rekan-rekan, istri menelepon."
Semua tamu nampak maklum, Gara memang dikenal sebagai sosok suami yang siaga. Apalagi Bening jarang menelepon seperti ini. Kalau tak ada hal yang benar-benar diinginkan atau penting, istrinya itu tak akan meneleponnya.
Jadi dengan sedikit menjauh dari para tamu yang sekarang sedang melanjutkan perbincangan tanpa Gara, Gara segera mengangkat panggilan itu.
"Iya, Sayang?"
"Mas Gara, maaf sekali Bening menelepon siang-siang begini."
"Tak apa, Sayang. Apa ada hal yang sedang terjadi atau kau menginginkan sesuatu?"
Bening diam sesaat, membuat Gara menyangka telepon itu telah terputus tetapi nyatanya telepon itu masih tersambung.
"Sayang?"
"Ehmmmm, Mas Gara, sedari tadi Bening sudah keliling, ke sana kemari mencari yang menjual kue lupis. Tapi tidak menemukannya."
Huft, Gara menghembuskan nafas lega. Rupanya, sang istri sedang ingin sekali makan kue manis dengan gula merah itu. Memang, cukup sulit mencari orang yang menjualnya di area tempat tinggal mereka.
"Baiklah, Mas Gara kebetulan sedang ada tamu penting sekali. Bagaimana kalau Mas Gara minta tolong Safira yang membelikannya? Kau tak keberatan?" tanya Gara.
Bening tersenyum senang. "Tak apa, Mas Gara. Tapi apa mbak Safira tidak masalah direpotkan Bening seperti ini?" tanya Bening tak enak hati.
"Tak apa, Sayang, kalau dia keberatan, dia akan berhadapan dengan Mas Gara ya."
Bening tersenyum mendengarnya. Akhirnya Gara mematikan sambungan telepon itu dan memanggil sekretarisnya.
"Ya, Pak Gara?" tanya Safira.
"Begini, aku tidak mungkin meninggalkan tamu-tamuku sekarang, hanya saja, sekarang situasinya sedang genting sekali. Aku butuh bantuanmu untuk menjelajahi Jakarta dan sekitarnya sekarang."
"Kenapa, Pak? Apa ada yang perlu dimata-matai? Apa ada karyawan kita yang ketahuan bolos dan sedang dalam pengintaian?" tanya Safira antusias. Usut punya usut, sekretaris Gara itu dulunya memang bercita-cita menjadi seorang agen mata-mata, karena itu dia rasanya excited sekali dengan tugas penting ini.
"Ya, kau punya tugas penting untuk memata-matai," sambut Gara tak kalah antusias.
"Wah! Saya sangat bersemangat, serahkan kepada saya tugas mulia ini, Pak!"
"Hah?!" Safira melongo. Apa-apaan bosnya ini?
"Betul, kau harus mencari kue lupis! Istriku sedang menunggu di rumah, sepertinya dia sangat ingin makan kue itu. "
Safira semakin melongo. Dia masih berpikir akan sangat keren jika melakukan sidak kepada para karyawan nakal yang bolos di jam kerja. Tapi ternyata, dia sekarang harus mencari pedagang yang menjual kue lupis demi istri kecil si bos tercinta. Safira menarik nafas dalam-dalam, lalu akhirnya mengangguk karena menyenangkan hati istri atasan adalah termasuk tugas mulia dan kemungkinan akan berimbas pada kenaikan gaji.
"Baiklah, Pak, saya akan segera datang ke rumah ibu dengan sebaskom kue lupis!" tekad Safira membuat Gara mengacungkan jempol kepada sekretarisnya itu.
Jadilah pergilah Safira keluar sekarang dengan Gara yang melepaskannya dengan tenang dan kembali melanjutkan sesi meeting bersama rekan-rekan.
Sekarang di jalanan yang macet, Safira memulai pencarian terhadap kue lupis yang entah kenapa jadi begitu langka saat ini. Beberapa pedagang kue sudah ditemuinya, tetapi ia tidak menemukan kue manis dengan gula merah itu. Lagipula, konon katanya, sang istri atasan pintar memasak lalu kenapa perkara kue lupis harus minta dicarikan? Ini sudah seperti orang ngidam saja!
Safira tetapi tak menyerah dengan Gara yang selalu mengirimkan pesan dan menyemangatinya agar segera menemukan kue lupis keinginan istrinya.
"Semangat sih semangat, Pak, cuma ini saya udah muter-muter tapi tidak ketemu juga!" Safira jadi menggerutu di dalam mobil. "Yang ada juga tukang cilok," lanjut Safira keki.
Gara tertawa membaca pesan sekretarisnya itu. Namun, dia yakin dengan kekuatan Safira, perempuan itu bisa mendapatkan lupis permintaan istri kesayangannya.
Sementara Bening saat ini masih duduk bersama putera tercintanya sambil bermain di taman belakang. Bening sendiri tak tahu entah mengapa dia jadi suka makan yang manis-manis akhir-akhir ini, padahal sebelumnya, dia lebih suka makanan yang asin. Bukan yang manis-manis.
Setelah menunggu cukup lama, ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Dengan membawa putera tercintanya ke depan, Bening membuka pintu dan menemukan sekretaris suaminya sudah tersenyum dengan membawa tentenangan.
"Kue lupis pesanan Ibu Bening." Safira menunjukkan kresek berisi kue permintaan Bening yang segera disambut Bening dengan suka cita.
"Wah ... Terima kasih ya, Mbak Safira. Bening nungguin loh dari tadi."
Safira tersenyum kecut, Bening tak tahu saja perjuangan Safira dalam mencari pedagang kue lupis hingga sampai ke dalam gang sempit. Di sana dia bertemu pembuatnya langsung dan langsung membeli banyak.
Kini, Abi, sudah bersama Safira. Bening mengajaknya masuk dan makan bersama. Di meja makan sudah terhidang makanan lezat membuat Safira berkerut kening. Ada makanan enak-enak tetapi istri atasannya malah bernafsu sekali dengan kue lupis yang tak seberapa indah itu?
"Bu, ini makanannya sedap-sedap, tapi ibu malah kepengen betul sepertinya sama kue lupis itu?" tanya Safira penasaran sekali.
"Iya, Mbak Safira. Bening juga heran. Kepengennya sampe bikin ileran."
"Oalah, apa Ibu ini jangan-jangan lagi ngidam? Ibu sudah hamil lagi ya?" tanya Safira antusias.
Bening kali ini terdiam, sambil memakan lupisnya perlahan, dia coba kenang-kenang. Sepertinya, jadwal kunjungan tamu bulanan bulan ini memang terlewatkan begitu saja. Kenapa dia bisa abai dengan hal ini?