Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
First Touch


Kamar Bening yang tak seberapa besar itu telah disulap menjadi kamar pengantin dengan nuansa putih. Saat ini, Bening dan Gara sudah berada di kamar. Waktu itu, sore masih menyambangi ketika acara pernikahan sudah selesai menyisakan para warga desa yang masih menikmati sisa-sisa acara dengan organ tunggal.


Bening nampak duduk di atas kursi di depan meja rias. Gara baru saja keluar dari kamar mandi, lengkap dengan baju pengantin yang belum dibuka. Situasi jadi sedikit canggung lagi. Bening sendiri terlihat mencengkram lembut bagian depan kebayanya.


"Aku menunggu kau sedari tadi, Bening." Gara mendekati Bening yang menoleh lalu memberikan senyumnya. Bening segera berdiri lalu menghadap Gara. Gadis itu sedikit mendongak karena tinggi suaminya itu. Tatapan keduanya bertemu.


Gara kemudian mengecup kening Bening lembut dan lama seolah sedang meresapi kebersamaan mereka. Rambut Bening yang digelung itu terbuka perlahan saat Gara menarik penahannya. Rambut panjang, hitam dan lebat itu terurai begitu saja.


"Kau cantik, Bening," bisik Gara sembari menelan salivanya susah payah. Harum ranum gadis perawan itu membuat kelelakian Gara bergolak hebat.


"Apa cantik saja cukup untuk membuat Mas Gara merasa nyaman selama aku bersamamu?" tanya Bening lirih.


"Cantik hati juga parasmu, Bening, aku juga nyaman karena kau selalu bisa menenangkanku."


"Bukan tanpa alasan Bening menanyakannya, Mas Gara. Sebab ketika wanita yang sudah menanjak dewasa ketika sudah terhantam masalah di dalam rumah tangganya, seringkali yang Bening lihat adalah gurat lelah, hingga hilang pudar cantiknya. Kalau Mas Gara menikahi Bening karena paras, sungguh tak akan ada jaminan kebahagiaan di dalamnya. Bening sadar, selama perjanjian, kalaupun terbit selaksa rasa untuk Mas Gara, Bening harus menahannya sampai kerelaan Bening memberikan anak kita untuk Mas rawat bersama nyonya muda." Bening menunduk lagi. Gara terenyuh mendengarnya. Bening sedang mengutarakan perasaannya.


"Bening, jangan dulu berpikir sejauh itu, kita jalani semuanya. Biarkan waktu dan rasa itu tumbuh pelan-pelan kalau memang nanti ada kemungkinan ke arah sana."


"Bening mengerti, Mas Gara. Maafkan Bening yang sudah terlampau jauh memikirkan hal sepelik itu, bahkan biduk rumah tangga baru saja akan kita arungi. Mas Gara, terimalah Bening di dalam hidupmu selama masa kesepakatan kita. Begitupun Bening yang akan melayani juga memberikan yang terbaik untuk Mas Gara. Satu pula yang Bening minta, kalau seandainya Mas marah jangan sekalipun mendaratkan tangan ke tubuh Bening, sejatinya aku adalah puteri yang dijaga dan dibesarkan susah payah oleh petani sederhana yang bernama ayahku. Pesannya selalu satu, pria yang menikahiku, tidak akan pernah mudah melayangkan tangannya ke tubuhku. Semoga Mas memahaminya."


Gara mengangguk, memejamkan mata, mencerna kata-kata lembut itu. Lalu perlahan, ia meraih Bening ke dalam pelukannya. Hangat. Bening baru kali ini dipeluk oleh lelaki. Tubuh atletis Gara mengurung Bening dalam indahnya kasih sayang. Bening membalas pelukan itu. Lalu Gara melepaskan itu perlahan.


"Aku berjanji kepadamu, Bening-ku, aku akan menjagamu. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Sekarang, boleh aku kecup bibirmu?" tanya Gara serak.


Bening mengangguk perlahan. Gara menunduk, meraih wajah Bening lalu mendekatkan bibirnya. Bening menerima sentuhan dari bibir Gara yang dengan lembut **********. Perlahan, Bening membuka mulutnya, belajar membalas ******* demi ******* yang mulai memacu hasrat keduanya.


Gara melepaskan ciumannya perlahan, mata Bening sendu. Gara menciumi lagi kening perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Bening, aku sungguh tidak sabar lagi," bisik Gara lembut.


"Mas mau melakukannya sekarang?" tanya Bening penuh pengertian.


Gara melihat ranjang Bening, ia menggaruk kepalanya. Rumah sempit, ranjang yang berderit, ia tidak akan nyaman jika melakukannya di kamar kecil itu. Suara mereka tentu akan bergema ke segala penjuru. Sementara Gara membutuhkan Bening bukan sekedar untuk menampung benihnya, tetapi juga ia ingin menikmati indahnya penyatuan itu tanpa terganggu.


"Bening, apa ada penginapan di sekitar desa ini?" tanya Gara.


"Ada, Mas Gara. Tapi lokasinya cukup jauh."


"Tak apa, kita pergi dengan mobil."


"Memangnya siapa yang mau menginap, Mas?" tanya Bening tak mengerti.


Gara tersenyum gemas, ia baru sadar bahwa Bening masih sangat asing dengan aktifitas ranjang.


"Sayang, kita akan melakukannya di penginapan. Aku ingin menikmatinya, tidak mau tergesa-gesa atau merasa tak enak karena suara kita nanti akan menggema kemana-mana."


Bening tidak mengerti tapi dia memilih mengangguk. Dia kira melakukannya berarti hanya masuk sebentar lalu menumpahkan benih Gara agar kelak bisa jadi bayi.


Masih dengan memakai kebaya, Bening mengikuti Gara membawanya keluar. Kedua orangtua mereka seolah paham dan melepaskan Gara juga Bening menuju ke penginapan yang mereka inginkan. Ya, nyonya besar pun mengerti hal itu ia mengibaskan tangan, meminta Gara segera membawa Bening kemanapun mereka mau.