Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Tambah Cucu Baru


Malam hari sekitar pukul delapan malam, nyonya dan tuan besar akhirnya tiba di kediaman Bening juga Gara. Mereka disambut sukacita oleh pasangan suami istri itu. Terlihat sekali kemesraan antara Gara dan Bening yang membuat nyonya dan tuan besar tersenyum melihat mereka. Mereka pun jadi mau tidak mau refleks membandingkan dengan kehidupan rumah tangga Gara ketika bersama Revi dulu dan sekarang ketika bersama dengan Bening.


Gara terlihat lebih bahagia, kewibawaannya juga sebagai seorang suami semakin nampak. Tentu saja itu karena Bening memperlakukan Gara selayaknya seorang suami yang memang l dihormati bukan selalu dibantah seperti ketika Gara masih berumah tangga dengan perempuan yang saat ini sudah mendekam di dalam penjara itu.


"Mana cucu Mama dan Papa? Kita kangen. Dari tadi pengen sekali ketemu Abi. Rasanya kalau Abi itu tidak ke rumah Papa dan Mama sehari saja, rasanya sudah rindu berat," ujar tuan besar kepada Bening yang segera tersenyum dan menyambut.


"Abi kebetulan sedang tidur, Pa. Sepertinya kelelahan sekali karena seharian ini sudah bermain bersama Bening. Jadi sekarang belum bangun," kata Bening yang juga diangguki oleh Gara.


"Ya sudah, tidak apa-apa, paling nanti sebentar lagi bangun tidurnya. Kan sudah dari sore," komentar nyonya besar sembari merangkul Bening.


"Jadi sekarang kita langsung ke meja makan saja ya, Pa, Ma, karena Bening sudah masak banyak makanan untuk kita dan malam ini ada hal yang ingin kami sampaikan pada Mama dan Papa. Semoga kalian suka dengan berita yang akan kami sampaikan ya," timpal Gara yang membuat nyonya dan tuan besar jadi saling berpandangan. Mereka jadi penasaran.


"Wah, ada berita apa ini, Gara? Sepertinya penting sekali dan sepertinya memang berita bagus karena dari tadi Papa melihatmu tersenyum terus."


"Ya, ini berita yang sangat bagus, Pa, dan Gara yakin kalau Papa dan Mama juga akan senang mendengarnya karena ini adalah harapan Papa juga Mama sejak lama."


"Mama jadi tidak sabar ingin mendengarnya. Kalau begitu ayo kita ke meja makan, kita bicarakan sembari kita memulai makan malam," timpal mamanya Gara.


Berempat mereka pergi ke ruang makan yang ternyata sudah ditata rapi oleh Bening. Bau masakan Bening sudah tercium saat mereka mendekati meja makan itu. Menggugah selera ayah dan ibu Gara. Mereka tahu bahwa Bening adalah istri yang sangat pandai memasak dan sering kali kedua orang tua itu merindukan masakan Bening ketika mereka berada di rumah.


"Wah, ini semuanya lauk kesukaan Papa," ujar ayah mertua Bening yang disambut tawa kecil oleh Bening. Ia mulai menuangkan makanan itu kepada ibu dan ayah mertuanya juga kepada suaminya.


Setelah itu, mereka berdoa bersama sebelum mereka memakan masakan yang sudah dihidangkan oleh Bening di atas meja, lalu sebelum mereka memulai suapan pertama, Papa yang sudah penasaran dengan kejutan yang akan diberikan oleh anak dan menantunya itu langsung memulai percakapan lagi.


"Jadi sebenarnya berita apa yang akan kalian sampaikan kepada kami, Bening, Gara?" tanya tuan Wibowo dengan penasaran. Nyonya besar juga tampak menunggu.


" Coba tebak dulu, apa yang akan kami sampaikan kepada Mama dan Papa," kata Gara penuh teka-teki.


"Mama dan Papa apa akan dapat cucu lagi."


Sekian detik, kedua orang tua itu masih belum terlalu mencerna apa yang dikatakan oleh anaknya. Tapi kemudian mereka saling pandang dan lantas memekik senang setelah sadar bahwa berita yang disampaikan oleh Gara memang betul berita bahagia yang mereka harapkan sejak lama setelah kelahiran Abi.


"ini serius?" tanya nyonya besar dengan mata berbinar-binar.


"Serius, Ma, tidak mungkin kita main-main dengan hal penting ini."


"Pa, kita bakal punya cucu lagi!" seru nyonya besar dengan riang lalu ia memeluk Bening dengan erat. Bening merasakan kebahagian diperlakukan seperti itu oleh mertuanya.


"Selamat ya, Bening, Gara. Papa sangat bahagia mendengarnya, Mama juga kan?" tanya tuan Wibowo kepada istrinya yang langsung mengangguk cepat. Tentu saja dia sangat bahagia karena sebentar lagi anak dan menantunya akan memberikannya cucu lagi.


"Ini yang kita harapkan sejak bulan-bulan kemarin kan, Ma?" tanya tuan Wibowo lagi kepada istrinya.


"Betul. Kami sangat bahagia. Bening, kau jangan terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Nanti Mama akan siapkan pembantu disini agar kau bisa fokus dengan kehamilanmu. Oh iya, pengasuh Abi belum kembali?" tanya nyonya besar kepada Bening yang segera menggeleng.


"Tak apa, Mama akan sering-sering ke sini untuk membantu kau merawat Abi, bila perlu kau benar-benar sibuk, titipkan saja Abi di rumah Mama."


"Iya, Ma, Bening mengerti dan akhir-akhir ini, syukurlah kegiatan perkuliahan Bening juga sedang lenggang-lenggangnya, jadi tidak ada kesibukan yang berarti. Bening masih bisa merawat Abi dan mulai besok akan sering bertandang ke rumah mamah."


"Kami sungguh sangat bahagia mendengar berita ini, Gara, terima kasih kalian sudah memberikan Mama dan Papa cucu lagi."


Bening menggangguk, mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh kedua orang tua itu. Bening juga tidak merasa terbebani dengan kehamilan keduanya ini. Besok juga rencananya dia akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa sudah berapa usia kandungannya saat ini. Acara makan malam itu berlangsung dengan penuh kebahagiaan dan celoteh riang dari ibu mertuanya.