
Siang ini terik dan panas, Gara sedang berada di perusahaan. Setelah meeting tadi, rasanya Gara malas keluar kemana-mana. Sebenarnya pun perutnya lapar sekali. Gara meraih telepon di atas meja, ditekannya telepon itu sampai Safira yang berada di luar ruangannya menangkat.
"Perintah, Bos!" sapa Safira langsung.
"Pesankan makanan untukku di kantin sekarang," titah Gara dengan santai.
"Baik, Bos!"
"Panggil aku, Pak, saja. Kau ini!" gerutu Gara yang hanya disambut Safira dengan tawa usilnya.
Safira segera menuju ke kantin, memesan makanan sesuai selera Gara. Sudah berapa hari ini, atasannya itu lesu sekali. Ia ingin bertanya kenapa Gara begitu lesu tapi tak enak pula, nanti lelaki itu tersinggung.
Setelah siap dengan bungkusan makanan, ia segera mengantarnya ke ruangan Gara. Atasannya itu nampak tengah merenung.
"Ini, Pak." Safira lekas meletakkan bungkusan makanan itu. Melihat Gara hanya mengangguk sekilas, Safira jadi semakin penasaran. "Pak Gara lesu sekali, apa tak diberi makan oleh bu Bening?"
Mendengar itu, Gara jadi melotot. Safira memang sekretarisnya yang ceplas-ceplos kalau bicara.
"Maaf, Pak, habisnya saya kan jadi penasaran karena wajah Pak Gara semenjak kembali lagi ke perusahaan jadi murung sekali. Kalah mendungnya langit di luar sana." Sembari menunjuk, Safira terkekeh.
"Ya, semangatku tertinggal di desanya istriku."
"Dalam sekali, Pak."
"Kau tak tahu saja rasanya berjauhan dengan orang tercinta seperti ini."
"Maksudnya bagaimana, Pak. Bu Bening tak mau ikut Bapak lagi pulang ke Jakarta?" tanya Safira masih penasaran.
"Ngawur! Itu istriku lagi empat puluh hari, tak bisa kemana-mana dulu. Kau itu jomblo, makanya tak mengerti!"
Loh, kenapa pula status Safira yang diketahui sedang jomblo ngenes setelah sempat berpacaran dengan suami orang itu yang disalahkan?
"Maaf, Pak, tapi kan tak perlu bawa-bawa kejombloan saya juga!" gerutu Safira. "Ya sudah, semoga kuat, Pak." Safira tertawa dengan Gara yang segera melempar wajah gadis itu dengan tisu.
"Lama sekali, kukira empat puluh hari itu mudah, terlewati begitu saja, ternyata, empat puluh hari seperti satu tahun," gumam Gara pelan.
Tak mau semakin melamun, akhirnya Gara segera memfokuskan diri untuk menghabiskan makanannya. Setelah urusan di perusahaan selesai gara segera pulang, tetapi ia tidak pulang ke rumahnya sendiri, melainkan pulang ke rumah orang tuanya karena Abi juga berada di sana.
"Sudah pulang, makan dulu," tawar nyonya besar kepada putranya.
"Nanti saja, Ma, sedang tak berselera," sahut Gara sambil menggendong Abi dan membawanya ke lantai atas.
Nyonya besar cuma geleng-geleng kepala melihat putranya itu, dia tahu Gara sedang dilanda rindu akan Bening yang belum juga kembali.
"Kasihan juga Gara ya, Pa, sepertinya dia tersiksa sekali tak ada Bening."
"Betul, Ma, tetapi mau bagaimana lagi? Lagipula Bening juga sedang melewati masa empat puluh harinya, tidak mungkin kita memaksa Bening g untuk pulang. Tak apa, setelah lama tak bertemu pasti rindu juga akan menggebu dan hubungan mereka akan semakin erat. Biarkan Gara belajar tentang arti jarak." Papa menyahuti sambil merangkul nyonya besar.
Malam hari setelah menidurkan Abi dengan sebotol susu berukuran besar, Gara pergi ke balkon di kamarnya, ia membuka ponsel, dilihatnya tak ada pesan dari Bening. Hatinya seketika jadi gundah. Apa istrinya itu sudah tidur ya? Padahal dia ingin sekali bertukar kabar tentang hari ini dengan istrinya itu.
Akhirnya, Gara juga memutuskan untuk tidak menghubungi Bening karena tidak mau mengganggu istrinya itu. Bening memang harus banyak istirahat karena masih dalam masa pemulihan ini. Jadi dia juga harus mengerti. Tetapi belum selangkah lagi dia berbalik, ponselnya tiba-tiba berdering. Wajah Gara jadi berbinar-binar. Meski hampir setiap hari mereka teleponan dan melakukan panggilan video, tetap saja Gara menyukai aktivitas ini.
"Mas kira kau sudah tidur. Tadinya ingin menelpon tetapi takut mengganggu tidurmu," ujar Gara ketika mereka sudah berhadapan di layar ponsel masing-masing.
"Tadinya Bening juga berpikiran seperti itu, Mas, tetapi karena rindu akhirnya Bening memberanikan diri untuk menghubungi Mas, ternyata benar, Mas Gara belum tidur," kata Bening dengan tersenyum pula.
"Ya, tetapi Mas sudah menidurkan Abi. Dia juga sepertinya rindu kepadamu. Beberapa kali setiap kali Mas menunjukkan fotomu, dia selalu mengelusnya, menciumnya, seakan-akan ia sedang menciummu betulan."
Bening hanya tersenyum menanggapinya. Tentu saja dia sama rindu dengan Gara dan putranya, begitu juga dengan Mentari.
"Putri kita juga rewel, mungkin karena tak ada ayahnya."
"Sabarlah, Sayangku. Tak lama lagi kita akan segera bertemu. Mas akan segera menjemputmu. Kau harus menjaga kesehatan, ya sampai selepas empat puluh hari kelak, jangan lagi menunda-nunda nantinya, kau harus segera pulang."
Bening mengangguk cepat, akhirnya obrolan itu pun berakhir setelah keduanya saling mengecup dari kejauhan. Gara pun menutup sambungan panggilan video dan membawa Bening ke alam mimpinya, sungguh ia merindukan istrinya itu.