Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Mahasiswi dan Seorang Ibu


Bening sudah keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Dia sudah betulan pulih dengan keadaan lebih segar. Bening juga sudah kembali berkuliah. Sementara ini, Gara tak mengizinkan Bening membawa mobil untuk pergi ke kampus. Dia akan diantar jemput oleh Gara seperti dulu lagi.


Perut Bening sudah semakin nampak membuncit meski belum terlalu besar betul. Namun, banyak temannya di kampus yang takjub dengan Bening. Mereka seolah tak percaya jika Bening kembali hamil lagi setelah belum lama melahirkan Abi.


"Tak perlu menunggu sampai tiga tahun seperti kesepakatan awal antara aku dan suami, kalau sudah rejeki bakal mengandung lagi, Bening suka-suka saja."


Begitu komentar Bening setiap ada yang menggosipi dirinya yang hamil setiap tahun itu. Namun, yang semakin menyukainya juga tak sedikit. Benar kata orang, aura perempuan yang sedang hamil itu berbeda sekali. Bening semakin cantik dan nampak bersahaja dengan penampilan sederhana berbalut dress vintage koleksinya juga dengan perut yang mulai nampak membesar.


Hal itu juga sering menjadi perhatian Dani yang tentu saja masih menaruh hati kepada Bening. Kadang, seringkali pandangan Dani tertuju pada Bening yang sedang berada di perpustakaan. Dan sore itu, ketika ia melihat Bening baru saja masuk ke dalam ruangan baca itu, ia segera mendekat.


"Bening," panggil Dani pelan.


Bening membalikkan diri, ia melihat Dani sedang berdiri di belakangnya. Bening tersenyum.


"Bang Dani. Tak ada mata kuliah kah?" tanya Bening.


Bening sembari terus mencari buku yang dia cari untuk keperluan makalah kelompok yang akan dikerjakannya besok bersama beberapa teman sekelas.


"Kebetulan sedang tak ada dosen, Ning. Oh iya, kau sedang hamil lagi?" tanya Dani sembari melirik sesaat perut Bening.


Bening tersenyum lagi lalu mengangguk.


"Anak kedua Bening, Bang, Alhamdulillah." Bening menyahut lalu menarik satu buku yang sedari tadi dicarinya.


Lalu Bening pergi ke sebuah kursi dengan meja di depannya. Dani juga mengikuti. Pemuda itu duduk tepat di depan Bening.


"Bening juga, kita memang tidak pernah tahu garis nasib dan takdir akan mengantarkan kita di titik yang mana, Bang. Seperti yang sedang Bening jalani sekarang."


Dani tampak mengangguk mengerti.


"Ya, aku juga tak menyangka jika kau akan menjadi seorang istri secepat itu. Ehmmmm ... Boleh aku bertanya satu hal kepadamu?" tanya Dani. Raut wajahnya seperti sedang berpikir.


"Silahkan, Bang. Tanyakan saja jika ada yang mengganjal."


"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu, Ning? Ehmmmm, maksudku, apa kau tak kehilangan masa mudamu? Eh, maksudku ... "


"Maksud Bang Dani, Bening betulan ikhlas menjadi istri mas Gara? Begitu kan?"


Dani kelihatan kikuk sesaat, mungkin tak menyangka jika Bening bisa menebak arah pertanyaannya itu.


"Ya ... Bisa dibilang begitu." Dani terkekeh.


"Bening sangat bahagia. Bening ikhlas kehilangan masa-masa muda Bening. Bagaimana tidak bahagia jika mendapatkan lelaki yang luar biasa baik pekertinya? Mas Gara itu paket lengkap, dia sangat menghargai Bening sebagai perempuan. Juga sangat sigap di segala situasi. Usianya yang matang juga membuat sikapnya dewasa. Bening memang membutuhkan lelaki seperti mas Gara yang bisa menuntun Bening, menasihati ketika salah, tak memaki ketika marah. Juga tak pernah menganggap remeh oranglain. Meski dulu Bening hanyalah seorang pembantu. Namun, Mas Gara tidak pernah melihat perbedaan status sosial kami yang sangat jauh berbeda. Dia menerima Bening menjadi sebaik-baiknya perempuan. Jadi, bagaimana bisa Bening kehilangan masa muda yang bahagia dan menggebu-gebu seperti yang banyak dibicarakan orang? Justru bersama mas Gara, masa muda Bening tidak sia-sia. Di usia yang begini muda sudah dipercaya untuk jadi istri juga ibu dari anak-anaknya. Bagaimana mungkin Bening kehilangan masa muda yang berharga ini? Bening tak kehilangan itu semua, Bang. Hanya saja, caranya berbeda. Masa muda Bening dimulai bersama mas Gara. Itu yang paling jelas."


Dani terdiam membisu mendengar Bening begitu dewasa dan tenang menyanjung suaminya. Ia berkhayal kalaulah saja tidak secepat itu dulunya memandang rendah Bening, tentu perempuan di depannya itu sudah bersamanya. Sayang, dia memang tak selihai Gara dalam menaklukkan hati Bening. Padahal, Gara adalah lelaki sempurna, idaman perempuan mana saja, tapi ia justru hanya melihat Bening sebagai perempuan yang pantas untuk disanding. Berbeda dengannya yang sempat meremehkan Bening hanya karena Bening dulu bekerja sebagai seorang pelayan.


"Sudah ya, Bang. Sebentar lagi, mas Gara pasti menjemput Bening."


Dani tak bisa bersuara lagi, dia hanya menyahut dengan anggukan kepala. Ia memang sadar bahwa Bening bukan hanya seorang mahasiswi saat ini, tapi juga seorang istri dari lelaki tersohor dan sebentar lagi akan kembali menjadi ibu dari dua anak hasil perkawinannya dengan Gara. Dani hanya memandang kepergian Bening yang semakin hilang dari pandangan dengan tatapan nanar dan sedih. Memang nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa diraihnya dari Bening lagi. Perempuan itu sudah bahagia dengan lelaki yang tepat dan itu jelas bukan dirinya.