Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Talaknya Sudah Jatuh


Kurang lebih enam belas perjalanan Gara dari Paris menuju Indonesia akhirnya terhenti di jam dua belas malam. Gara melangkah dengan penuh pesona di koridor bandara yang masih cukup banyak orang dengan keperluan masing-masing.


Pak Diman sudah menunggu Gara sedari tadi, ia segera membuka pintu mobil ketika Gara sudah dekat. Gara duduk dengan tenang di belakang. Ia sempat membeli perhiasan indah untuk Bening kemarin. Benda itu kini terjuntai di jarinya.


"Wah .... Buat non Bening ya, Tuan?" tanya pak Diman cengengesan.


"Ya, bagus tidak?" tanya Gara memberi respon.


"Istri saya pasti gak pakai baju dua hari dua malam kalau dikasih itu, Tuan."


Gara tertawa mendengarnya lalu menyimpan lagi benda itu ke dalam kotaknya. Meski waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat tapi dia sama sekali belum mengantuk. Ia tak sabar ingin segera berjumpa dengan Bening.


Setibanya di rumah, Gara segera masuk ke dalam. Seisi rumah nampaknya sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Gara naik dengan perlahan ke lantai atas di mana kamarnya berada. Ia membuka pintu perlahan pula. Dilihatnya, Bening sudah meringkuk dengan gaun tidur.


Gara perlahan naik ke atas ranjang lalu lengannya yang kokoh mulai meraih Bening dalam hangatnya pelukan. Terasa Bening menggeliat, belum sadar sepenuhnya bahwa Gara sudah berada di sisinya.


Beberapa menit berlalu, rasa nyaman itu membuat Bening segera membuka mata. Ia menatap tangan yang sedang melingkari pinggangnya.


"Sudah bangun?" tanya suara di belakang.


Bening mendongak, ia tersenyum hangat menatap Gara lalu berbalik dan memeluk Gara erat.


"Rindu sekali?" tanya Gara lagi, Bening mengangguk. "Aku rindu kau juga, Bening."


Bening mendongak, Gara menyambut kening Bening dengan kecupan. Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan yang melingkupi keduanya.


"Mas Gara tidak bilang kalau mau kembali?"


"Sengaja."


"Tapi Bening sudah tahu dari mama."


"Dasar mama!" Gara berdecak sebal. "Sayang, Mas Gara punya sesuatu untukmu."


Gara merenggangkan pelukannya lalu meraih sesuatu yang sempat diletakkannya di atas nakas tak jauh dari ranjang. Benda itu terbuka, Bening memandangnya dengan tersenyum.


"Bagus sekali, Mas Gara."


"Kau suka?"


"Apa pun yang Mas Gara berikan, Bening pasti menyukainya."


Gara membelai rambut Bening lalu mengajaknya duduk di atas ranjang itu.


"Berbalik lah, biar Mas Gara pasangkan."


Bening menurut kemudian berbalik dan membiarkan Gara memasangkan liontin berkilauan itu di leher jenjangnya yang putih. Lalu Bening berbalik lagi menghadap Gara. Gara puas melihat Bening yang semakin cantik dengan kalung itu di lehernya.


Bening menggeleng, ia tentu tahu apa yang Gara inginkan saat ini. Jadi Bening diam saja ketika Gara mulai membuka gaun tidurnya dan membuka bajunya sendiri. Gara melakukannya dengan hati-hati agar jangan sampai menindih perut Bening yang mulai membesar.


Di bawah cahaya lampu yang temaram itu, Bening semakin cantik dengan mata berkilat-kilat dikuasai Gairah, juga dengan tubuh polos yang semakin indah karena liontin berkilauan di lehernya. Setelah selesai dengan kegiatan penyatuan penuh kerinduan itu, Gara menghempaskan tubuhnya di samping Bening.


Sembari mengatur nafas keduanya yang masih tersengal tapi mulai berangsur normal, Gara tersenyum menatap Bening. Bening membalasnya dengan senyum yang sama.


"Kau tau, Revi ternyata juga di Paris, dan satu hotel yang sama denganku." Gara membuka percakapan.


"Bening sudah tahu." Bening menjawabnya.


Gara menoleh. "Benarkah?"


Bening mengangguk.


"Bahkan sudah melihatnya."


"Melihatnya?" tanya Gara sambil berkerut kening.


"Ya, video mesra Mas Gara dan mbak Revi, meski tak seharusnya mbak Revi mengirimkannya kepada Bening, karena bagaimanapun, Bening pasti punya rasa cemburu walau Bening tidak bisa menghalangi, karena mbak Revi jelas lebih berhak atas Mas Gara. "


Gara menggeleng, ia sudah menduga pasti Revi akan nekat mengirimkan video gila itu kepada Bening.


"Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang. Kami tidak melakukan apapun. Sejujurnya, malam itu Mas Gara sedikit mabuk dan dia memanfaatkan kelemahan Mas Gara saat itu. Tapi Mas Gara berani jamin, tidak terjadi apapun di antara kami berdua."


Bening mendongak, menatap kedalaman mata Gara mencoba menyelami dan melihat kejujuran Gara dari sana. Gara memang tak berdusta, lelaki itu jujur.


"Bening percaya Mas Gara."


"Kau memang harus mempercayai aku, Sayang. Bahkan aku sudah menjatuhkan talak kepada Revi malam itu juga."


Kali ini, Bening tercengang. Gara menalak Revi?


"Mas ..."


"Ya, Bening. Revi sudah aku ceraikan dengan jatuhnya talak yang keluar langsung dari bibirku. Aku akan segera mengurus sidang perceraian di pengadilan agar segera putus semua perkara atas dirinya dalam hidupku selama ini."


"Mas Gara benar-benar melakukannya?"


"Ya, untuk apa bertahan, Bening? Aku sudah menemukanmu. Lagipula, memang seharusnya sedari dulu aku menceraikannya."


Bening tak mampu berkata apapun lagi, Ia tidak tahu harus sedih atau bahagia, di satu sisi dia tidak ingin Gara terus terbelenggu dengan hubungan yang tidak sehat bersama Revi, di sisi lain dia juga tidak tega jika Revi sampai terluka.


Bening hanya bisa memeluk Gara, memberikan kekuatan dan dukungan sebagai istri yang berbakti kepada suaminya.