
"Bening, nanti siang kita mau kongkow loh di mall, kebetulan ada temen satu kelas kita lagi ulang tahun. Kau ikut ya?" tanya salah satu teman satu fakultas dengan Bening. Ini adalah kali kesekian Bening menolak ikut teman-temannya untuk nongkrong bareng.
"Maaf ya, aku gak bisa."
"Yah ... Bening, gak pernah bisa deh perasaan!"
Bening hanya tersenyum. Ia memang tidak mau karena yang pertama, dia sangat menghormati Gara. Gara sangat memperhatikan gerak geriknya juga Gara pasti tidak mau trauma yang dulu pernah dirasakan ketika masih bersama Revi kembali terulang. Bening ingin Gara yakin, dia bukan Revi yang pembangkang.
Yang kedua, Bening memang lebih suka di rumah, melakukan pekerjaan rumah, berkebun, membuat kue dan segala hal tentang kegiatan rumah. Kalaupun mau keluar, dia hanya ingin melakukannya bersama Gara.
Yang ketiga, Bening sedari dulu memang tak pernah melakukan kegiatan gaul khas anak muda masa kini. Dia kuno, lebih suka di rumah, tapi bukan berarti dia pemilih dalam berteman, dia hanya tidak suka terlalu lama di luar. Dan bukan tak mungkin jika sering keluar dan nongkrong, dia akan ikut arus pergaulan yang terlalu bebas. Jiwanya masih muda, kendati sudah menikah dan hamil, tapi ia tetap saja masih muda. Ia takut nanti terlena dengan asyiknya kehidupan di luar. Bening tak mau nanti Gara kecewa padanya. Jadi lebih baik, Bening tidak disukai orang lain daripada dibenci suami sendiri.
Bening berjalan di koridor, dari kejauhan terlihat Dani menatapnya. Para panitia ospek termasuk Rosa sudah kembali lagi berkuliah. Tak ada yang berani menyentuh Bening setelah kejadian itu. Namun, Bening tahu, lewat sorotan matanya, Dani masih menyimpan tatapan memuja untuk Bening.
Bening tersenyum sumringah, melihat Gara yang nampak semakin tampan dan macho, duduk bersandar di badan mobil menunggunya. Gara tak segan merentangkan tangan, menyambut Bening ke dalam pelukan dan memberikan kecupan di keningnya.
"Masih ada mata kuliah sore nanti?" tanya Gara penuh perhatian.
"Tidak ada kok, Mas Gara."
"Baguslah, Mas Gara mau mengajakmu pergi."
"Kita mau kemana, Mas Gara?" tanya Bening penasaran.
"Ke mall, mama rewel. Dari pagi tadi telepon Mas Gara, meminta Mas Gara membawamu membeli baju khusus ibu hamil."
Bening tersenyum mendengarnya, lalu mereka masuk ke dalam mall diikuti tatapan iri dari para mahasiswi yang melihat kemesraan Gara dan Bening.
Sementara itu, di sebuah tempat lokasi syuting, Revi tengah didandani oleh seorang make up artist. Ia akan beradu akting dengan lelaki luar negeri. Kebetulan pula, Yuki, sang manager datang membawa seorang asisten baru untuk Revi atas permintaan perempuan itu.
"Rev, ini aku bawakan orang yang bisa menjadi asistenmu."
Revi menoleh, melihat sekilas gadis di samping Yuki yang tersenyum senang melihat Revi.
"Udah ada pengalaman memangnya jadi asisten artis?" tanya Revi datar masih dengan keadaan dimake up.
"Udah kok, Mbak. Sebelumnya udah pernah kerja jadi asisten mbak Hana," jawab gadis itu sambil menyebut salah satu artis lain yang tentu saja dikenal baik oleh Revi.
"Mbak Hana kan udah gak jadi artis lagi setelah menikah seminggu yang lalu, Mbak."
Revi mengangguk-angguk. Ia baru ingat rekan satu profesinya itu sudah pensiun dini dari dunia entertainment. Tak urung hal itu mengingatkan pada dirinya sendiri yang tetap bertahan di dunia hiburan sampai membuat suaminya tak cinta lagi.
"Oke, mulai hari ini kamu bisa jadi asistenku, nanti sepulang aku syuting bawakan semua barang-barangku di dalam. Kemarin aku lupa membawanya. Cukup banyak dan aku harap kau tidak lamban."
"Dengan senang hati, Mbak."
Revi tersenyum singkat.
"Siapa namamu?" tanya Revi lagi.
"Nilam, Mbak Revi."
Revi mengangguk lalu mengibaskan tangan dengan sombong. Ia masuk ke ruang syuting dengan sudah berdandan rapi dan cantik.
"Nilam, bawakan aku air mineral!" Revi berteriak dari dalam membuat Nilam tergopoh-gopoh untuk membongkar barang di dalam tas besar Revi.
"Ini, Mbak." Nilam menyodorkan air mineral itu kepada Revi yang segera menerimanya.
"Nih, taruh lagi!" perintah Revi kepada Nilam. Nilam segera membawa benda itu lagi ke tempat semula.
"Asisten baru, Rev?" tanya sutradara kepada Revi dan dia mengangguk.
"Bisa tahan gak dia sama mulut dan jarimu yang suka memerintah itu?" Sang sutradara meledek Revi yang hanya tertawa sinis.
"Namanya juga jongos artis, mesti paham dong dia kerjaannya!" balas Revi sengit.
Syuting dimulai, Nilam tak sengaja melihat foto Revi dan Gara di wallpaper ponselnya yang diletakkan sembarang.
"Ganteng banget suaminya Mbak Revi," desis Nilam.
"Lihat apa kamu? Jangan sembarang pegang barang Revi, dia orangnya cepat marah loh." Mbak Yuki memperingatkan.
Nilam segera mengangguk paham kemudian sibuk dengan ponselnya sendiri. Beberapa bulan ini dia mencari sahabatnya, tapi belum ketemu juga. Bening pasti masih jadi pembantu, begitu pikir Nilam.