Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu


Gara dan Bening menjalani peran sebagai orangtua dengan dukungan penuh orang-orang di sekitar mereka. Semakin ke sini, Bening juga telah semakin dewasa. Ia sangat keibuan, selalu jadi ibu yang siaga untuk anaknya juga selalu jadi istri yang baik bagi Gara.


"Abi tumbuh dengan baik, Bening. Lihat, dia sibuk mengoceh. Nampaknya, kalau besar tingkahnya tak akan jauh berbeda dari Gara." Nyonya besar berkata dengan senyuman terulas di bibirnya. Ia bahagia sekali, kehadiran cucu pertama dari putera bungsunya membuat suasana rumah semakin cerah.


"Iya, Ma, menyusu juga semakin kuat. Bening kadang takut tak mencukupi kebutuhan gizinya," keluh Bening yang hanya ditanggapi oleh ibu mertuanya dengan senyuman maklum.


"Nanti bantulah dengan susu formula. Usianya sudah mau enam bulan, Ning. Sebentar lagi sudah mpasi juga."


Bening mengangguk setuju. Betul, usia Abimanyu sudah memasuki enam bulan, setengah tahun sudah bocah gembul itu lahir ke dunia, meramaikan kehidupan Gara yang memang telah lama menantikan kehadiran seorang anak.


"Kata Gara, kalian berencana mau ke desa?" tanya nyonya besar seraya menyeruput teh hangat yang baru saja disajikan bu Tuti untuk mereka.


"Iya, Ma. Mama dan papa mau ikut?" tanya Bening pula.


"Sebenarnya mau sekali, Bening. Tapi tak apalah, kalian saja, kau tahu sendiri Papa ada jadwal pemeriksaan kesehatan beberapa minggu ke depan."


"Gulanya naik lagi, Ma?"


Nyonya besar mengangguk. Bening hanya geleng-geleng. Papa mertua memang suka makan dan jarang pantang padahal ia rentan sekali dengan penyakit diabetes karena dulu kakek Gara juga seorang penderita penyakit itu.


"Nanti biar Bening yang atur makan papa, Ma."


Nyonya besar mengangguk setuju. Abimanyu sedang tenang dalam gendongan pengasuh. Gara memang sudah membayar seorang pengasuh untuk puteranya itu karena dia tidak ingin Bening keletihan. Padahal, Bening sudah sempat menolak tetapi Gara bersikeras agar tetap membayar jasa nanny profesional.


Malam itu, mereka yang baru saja hendak tidur, berbincang dulu seperti biasa. Setelah Bening selesai memastikan puteranya tidur dengan tenang, ia segera mendekati suaminya.


"Bagaimana hari ini, Mas Gara?"


"Oh ya?"


"Ya, seorang perempuan. Dia pintar sekali mengatur strategi bisnis, karena itu Mas Gara bersedia bekerjasama dengannya."


Bening mengangguk-angguk, baru kali ini Gara mendapatkan seorang partner bisnis seorang perempuan. Namun, Bening sendiri tak mau berpikir macam-macam. Ia yakin Gara bisa menjaga hati untuknya ketika sedang berada di luar tanpa dia di sisi lelaki itu.


"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Sayang, kau tentu tahu bahwa Mas Gara begitu mencintaimu."


"Eh?" Bening jadi gelagapan karena seperti ketahuan sedang merasa gelisah sesaat dengan informasi yang baru saja ia dengar dari suaminya itu.


"Mas Gara tahu apa yang sedang kau pikirkan, Bening. Percayalah, meski banyak perempuan cantik di luar sana, itu tidak akan membuat Mas Gara lantas berpaling darimu. Mas Gara sangat mencintaimu."


Bening tersenyum mendengarnya lalu memeluk tubuh suaminya yang langsung membalas pelukan dari Bening itu. Setiap hari,. Gara selalu menghujamnya dengan cinta yang begitu banyak, jadi Bening pun tak mau berpikir yang macam-macam.


"Kurang lebih enam bulan ke depan kau akan kembali lagi berkuliah. Mas Gara justru yang takut akan ada banyak lelaki gatal yang mendekatimu," keluh Gara.


Bening menangkup pipi suaminya itu dengan kedua telapak tangan lantas tersenyum. Suaminya memang cukup posesif jika itu menyangkut Bening.


"Tak ada yang perlu ditakutkan juga, Mas Gara. Bening pergi ke kampus untuk menimba ilmu, berusaha menjadi perempuan yang selalu menjaga harga diri juga kehormatan selama Mas Gara sedang tak di sisi Bening. Setelah pulang dari kuliah, Bening juga tidak pernah tertarik untuk ikut nongkrong bersama teman-teman. Bening adalah seorang ibu, Bening adalah seorang istri. Bening lebih nyaman jika secepatnya bertemu keluarga. Kalaupun mau keluar, itu tentu hanya bersama Mas Gara saja."


Bagai diterpa angin sejuk, Gara mengecup kening Bening dengan penuh perasaan. Bening selalu berhasil menenangkan hatinya. Bahkan di usianya yang masih begitu muda ia telah rela kehilangan masa mudanya itu bersama rekan sebaya, Bening lebih memilih menjadi ibu bagi anaknya juga menjadi seorang istri yang setia dan patuh kepada suaminya. Memang tak ada yang perlu Gara khawatirkan, karena Bening bukanlah Revi.


Bening selalu menempatkan Gara di atas segalanya. Perhatiannya, kasih sayangnya, semua Gara dapatkan dari Bening. Gara hanya berharap semoga kemesraan di antara dirinya dan Bening tak pernah berlalu. Ia telah jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada perempuan muda yang sudah merelakan hidupnya untuk mengabdi kepadanya. Sungguh Gara mencintai Bening dengan semua cinta yang ada di dalam dirinya.