Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Satu Set Perhiasan


Dani berbalik, tidak mengatakan apapun. Deru motor besarnya serupa motor balap itu masih terdengar hingga keluar kompleks. Bening menarik nafas panjang. Benar Bening pernah mengagumi Dani, tapi semua rasa itu lenyap begitu saja ketika Dani sempat memandangnya rendah hanya karena ia adalah seorang pembantu.


Sekarang, Bening bisa melihat penyesalan di mata pemuda idola di desanya itu. Bening mengatupkan bibirnya lalu menutup kembali pintu rumah. Semua hal memang akan terasa berharga, kala kita telah kehilangannya. Mungkin, begitu yang sedang Dani rasakan. Pun ia menyesali kesombongannya kemarin, ketika menatap Bening begitu hina hanya karena Bening menerima pekerjaan sebagai pembantu. Kini, anak kepala desa itu harus menerima kenyataan, bahwa gadis pujaannya akan segera dipinang oleh lelaki yang jelas jauh lebih segalanya darinya. Namun, kenapa harus dengan pria beristri? Dani sendiri tak habis pikir.


Bening kembali meneruskan kegiatannya menanam sayur. Ia sibuk mencangkul, menggemburkan tanah lalu mulai menabur bibit-bibit sayur. Tak lagi dipikirkannya kedatangan Dani secara tiba-tiba tadi. Yang berlalu biar saja berlalu, sesederhana itu pemikiran Bening.


Ia masih punya beberapa jam sebelum sore untuk menyiapkan makan malam bagi Revi dan Gara. Sayuran untuk salad yang biasa Revi konsumsi setiap malam juga sudah dia potong-potong dan sudah disimpan di dalam lemari es dengan plastik khusus. Ia hanya tinggal mencucinya dan menambahkan toping rendah lemak.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Bening tersentak, ia kaget. Tak biasanya Revi pulang begitu cepat. Setahunya, perempuan itu sedang pemotretan di Bogor.


"Menanam sayur, Nyonya muda." Bening menjawab sesopan mungkin, menyadari Revi yang tetap memandangnya dengan sorot penuh kebencian.


"Pekerjaan sia-sia! Memangnya, Indonesia sudah kekurangan tukang sayur sehingga kau harus bersusah payah menanam sayur begitu?!" sarkas Revi yang hanya disahuti Bening dengan senyuman.


Revi Kemudian menghentakkan sepatu tingginya, meninggalkan Bening yang akan segera menyelesaikan kegiatannya itu. Nyonya muda mungkin ingin beristirahat. Setelah selesai, Bening segera mencuci tangannya. Ia mulai menyiapkan masakan untuk menyambut malam. Dilihatnya, pintu kamar Revi tertutup rapat.


"Bawakan saladku!"


Bening mendongak, melihat Revi yang hanya memakai kaus ketat dan celana pendek berseru kepadanya dari pembatas pagar lantai dua.


"Baik, Nyonya muda." Bening segera mengerjakan perintah Revi.


Ia lalu membawanya ke atas. Revi sedang asyik melihat laptopnya. Terlihat ia sedang mengamati hasil foto-fotonya pagi tadi yang dikirimkan via email. Revi berpose sangat seksi, bahkan ada beberapa fotonya yang hanya memakai dalaman.


"Taruh di situ!"


Bening meletakkannya di atas meja tak jauh dari Revi. Saat dia hendak keluar, Revi memanggilnya kembali.


"Aku ingin membuat penawaran denganmu."


"Maksudnya apa, Nyonya?"


"Aku akan memberikanmu uang yang banyak. Asalkan kau pergi dari sini dan batalkan rencana pernikahan durjana itu." Revi menoleh, matanya tajam menatap Bening.


Bening terkesiap. Namun, ia secepatnya menggeleng. Tidak mungkin dia menerima tawaran Revi.


"Maaf, Nyonya, saya tidak bisa."


"Kenapa? Bukankah uang adalah tujuan kau selama ini?! Terima saja, aku akan memberikannya hari ini juga dan kau bisa angkat kaki setelah itu."


Bening mengangkat wajahnya lagi. Ia menggeleng kembali.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa. Semua sudah dibicarakan dan kita sudah mendapatkan hasil yang jelas. Saya permisi, maaf jika Nyonya tidak suka dengan penolakan saya."


Revi menganga tak percaya, antara kesal dan tertawa melihat Bening menolak tawarannya. Ia mendengus kesal. Bahkan jika Bening meminta seluruh uang di ATMnya, dia akan memberikan, asal Gara tak jadi berpaling.


Sayang, Bening tak seperti yang dia kira, yang silau dengan harta. Dia kira semua orang desa itu sama, akan mudah sekali mengangguk jika sudah disogok dengan uang. Revi berteriak kesal.


Saat malam telah tiba, Revi mendapati Gara baru kembali. Bening sendiri tahu, bahwa Gara memang akan pulang terlambat. Namun, lelaki itu pulang dengan wajah yang lebih bahagia.


Mata Revi terbelalak saat melihat Gara mengeluarkan satu set perhiasan dari bungkusan ekslusif. Benda berkilauan itu terjuntai di tangan Gara.


"Itu ..."


"Perhiasan untuk Bening. Kau punya selera yang bagus tentang barang seperti ini, apa kau pikir Bening akan menyukainya?" tanya Gara tanpa memalingkan pandangan dari perhiasan itu.


Revi membeliak! Matanya hampir keluar sangking terkejutnya. Ia kira, perhiasan itu untuknya. Revi bukannya tak pernah mendapatkan barang semacam itu dari Gara, Gara bahkan selalu menghadiahkannya itu selama ini, tapi kini, kenyataannya Gara juga membelikan untuk Bening. Revi menghentakkan kaki dengan marah lalu turun ke bawah. Ia memilih untuk menenangkan diri ke teras belakang.


Gara menyimpan kembali benda itu, memasukkannya rapi ke dalam nakas yang langsung dikunci dengan kode. Rasanya sungguh tak sabar ia ingin menyerahkan benda itu kepada Bening.