Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Hilang Cinta Tinggal Matinya


Revi masih tidak menyangka jika selama ini Gara mengetahui sepak terjangnya di luar ketika tidak terpantau oleh lelaki itu selama ini. Gara cukup tenang menyimpan semua hal itu selama ini dan dia mengeluarkannya di waktu yang tepat ketika Revi menolak semua bentuk poligami yang dilakukan Gara.


Tentu saja hal itu membuatnya jadi tak berkutik. Revi bahkan sangat takut Gara betulan akan menceraikan dirinya. Walau ia memang menyukai duni bebas yang selama ini digelutinya, tapi dia juga sangat mencintai Gara. Dia sendiri sadar bahwa selama ini sudah menganggap remeh Gara yang dikiranya bisa selalu disetir. Revi lupa siapa Gara dulu sebelum mereka menikah. Di antara banyaknya perempuan yang menggilai Gara, dialah yang terpilih saat itu, sayang, Revi begitu terlena dengan dunianya sendiri hingga akhirnya abai pada Gara yang sudah banyak berubah dan meninggalkan kebiasaan buruknya di masa lalu.


Saat ini, Revi sangat takut Gara tinggalkan. Dia ingin selamanya menjadi nyonya Anggara Dewa. Dia benci ada Bening kini yang semakin membuat Gara lupa pada dirinya tetapi tidak bisa pula mau membantah apapun lagi karena Gara memegang kartunya selama ini. Kalau mertuanya tahu kelakuannya selama ini di belakang Gara, sang nyonya besar tidak akan segan-segan mendepaknya dari daftar keluarga besar Wibowo.


"Mbak Revi, Mas Gara bilang, Mbak belum makan dari kemarin." Bening datang membawa sup hangat untuk Revi kala ia sendiri masih berkutat dengan kebenciannya akan Bening.


Revi melengos, muak melihat Bening yang menurutnya sok baik dan sengaja ingin mencari muka.


"Aku tidak suka kau di sini!" Revi menekankan kata-katanya sembari menatap Bening yang hanya diam lalu meletakkan sup hangat itu di atas meja dekat ranjang tempat Revi berbaring.


"Aku akan keluar, Mbak. Tapi jangan lupa untuk makan ya, biar Mbak Revi cepat pulih."


"Pergi! Aku gak butuh perhatianmu itu!" Revi melempari bantal yang menyanggah punggungnya ke arah Bening tapi benda itu malah mengenai mbak Yuki yang baru saja datang. Kacamata perempuan yang telah menjadi manager Revi selama tiga tahun itu hampir saja pecah kalau tak segera Bening tangkap.


"Kau pergi saja dulu ya, Revi memang begitu. Suka semaunya. Aku yang akan mengatasinya."


"Iya, Mbak Yuki. Itu jangan lupa sup hangatnya disuapi ke mbak Revi." Bening membalas sopan kemudian berbalik dan segera keluar.


Yuki menggeleng, melihat kelakuan Revi yang tidak juga berubah. Dia bukannya tak tahu dengan cerita basi dimana Revi mati-matian tidak ingin hamil karena mau mempertahankan karirnya yang memang sedang menanjak tiga tahun belakangan ini. Padahal Yuki sudah berapa kali mengatakan untuk berhenti dulu barang setahun dari panggung hiburan demi memberikan Gara anak. Namun, Revi bebal, tak mau dengar nasihat siapapun hingga akhirnya menyesal dan malam sibuk menyalahkan orang lain saat suaminya menikah lagi.


"Gak apa, Rev, kau break dulu dari dunia entertainment, berikanlah Gara anak, nanti toh kau bisa kembali lagi ke panggung hiburan," kata Yuki saat itu ketika mereka sedang istirahat syuting.


"Loh, wajarlah Rev mereka mau kau hamil."


"Pokoknya aku gak bisa, Mbak. Suatu saat aku pasti bakal kasih Gara anak tapi enggak sekarang dan beberapa tahun ke depan."


"Jangan menyesal loh, Rev, nanti Gara memilih poligami untuk mendapatkan anak."


"Mbak tenang saja, Gara itu cinta mati sama aku. Gak mungkin dia bakal menikah lagi. Aku juga gak bakalan kasih izin!" Revi berkata dengan begitu sombongnya sambil tertawa saat itu.


Sekarang, Yuki hanya bisa menatap Revi dengan pandangan iba. Apa yang pernah ia peringatkan kepada Revi akhirnya betulan terjadi juga. Bahkan menurut cerita yang ia dengar, Gara betulan sudah jatuh hati kepada istri mudanya, bukan semata-mata karena anak saja. Ia iba melihat Revi sering merenung dan sesekali menangis, apa yang dibanggakan Revi waktu itu menguap begitu saja, hilang cinta tinggal matinya. Ya, mati rasa yang sudah dirasakan oleh Gara saat ini terhadap Revi.


"Makan ya, Rev, kau jangan menyiksa dirimu begini. Percuma. Cobalah untuk berdamai dengan keadaan."


Mbak Yuki meraih sup hangat dengan nasi yang tadi disajikan Bening. Bening melihatnya dari luar dengan hati-hati. Ia tersenyum, yang penting Revi mau makan walaupun tidak dia yang menyuapi.


Bening sekarang melangkah ke depan, Gara sedang menunggunya di sana. Mereka kembali bergandengan tangan. Tak lama lagi, Bening akan test tertulis di kampus kemarin. Ia akan belajar malam ini dan Gara akan menemaninya. Gara juga berhenti ke sebuah supermarket.


"Mau buah?" tawar Gara, karena biasanya, orang hamil itu suka buah-buahan.


"Mau, Mas, apel merah itu ya."


Gara mengangguk lalu mengambilnya dan menimbang kemudian meletakkan kembali ke troli. Tak lupa ia meraih beberapa kotak susu hamil rasa coklat untuk istrinya itu. Gara betul-betul memperhatikan Bening, membuat Bening merasa istimewa dan merasakan indahnya dicintai.