
Masih terdiam seribu bahasa, Nilam mematung di tempatnya. Namun, tatapan mata Nilam menyorot tak mengerti kepada Revi yang masih memandangnya dengan senyum menyeringai.
"Bagaimana? Penawaranku pastinya akan menguntungkan kita berdua. Kamu bisa mengambil peran itu tanpa harus melalui casting dengan aku sebagai jaminan. Aku bisa meyakinkan produser dan sutradara untuk menerimamu dan aku akan mengenalkanmu ke agency ternama yang bisa membuat namamu besar seperti aku. Hanya dengan satu pekerjaan yang aku berikan untukmu, maka kau akan mendapatkan hadiah yang setimpal dariku."
"Mbak Revi sedang sehat bukan?" tanya Nilam dengan pandangan iba sekaligus tak paham dengan atasannya itu.
"Ya, tentu saja. Kau kira aku ini kenapa? Wajar dong aku mau mempertahankan rumah tanggaku dari j*lang kecil seperti temanmu itu."
"Mbak Revi tahu aku dan Bening temenan?"
"Aku tahu segalanya, Nilam. Kau dan dia satu desa bukan. Foto-foto di Facebookmu cukup membuat aku yakin kalau kau mengenal Bening tak cuma sehari."
Nilam menarik nafas panjang.
"Jadi apa alasan saya harus merusak pertemanan yang sudah terjalin begitu lama itu, Mbak?"
Kali ini, Revi yang tertegun. Dia berdecak sebal.
"Jangan munafik, apalah arti sebuah persahabatan jika tak membawa keuntungan bagimu? Bekerjasama lah denganku, maka aku akan membantu memuluskan jalanmu di panggung hiburan ini. Kamu tentu ingin seperti Bening, menaikkan derajat orang tuamu dengan menjadi artis terkenal dan punya banyak uang? Ya kan?"
"Ya, Mbak Revi benar. Tapi saya sangat tidak ingin menyakiti Bening, apalagi menyakiti bayi di dalam kandungannya seperti keinginan Mbak Revi."
Revi menarik sebatang rokok, berkali-kali berdecak kesal karena Nilam sepertinya tak semudah itu dia taklukan.
"Gak semua orang dari desa datang ke Jakarta dengan ambisi yang menggila, Mbak. Saya memang sangat ingin menjadi orang kaya, tapi mungkin lebih baik jadi simpanan orang daripada saya menukar persahabatan saya dengan Bening dengan pengkhianatan yang berujung kejahatan seperti apa yang tadi Mbak rencanakan."
Revi menatap tajam Nilam yang juga sekarang balas menatapnya. Ia tidak suka dinasehati. Ia tidak suka juga dibantah begini. Tadi dia kira, Nilam pasti bisa menjadi kaki tangannya seperti sekarang, menjadi jongos yang membawakan alatnya kemana-mana. Namun, untuk membantu rencananya menghancurkan Bening, ternyata Nilam tidak mau, meski dia sudah memberikan iming-iming yang menggiurkan.
"Kamu munafik sekali, Nilam. Padahal aku tahu kamu juga sangat iri dengan kehidupan yang Bening jalani sekarang ini."
Sosok Revi yang asli ialah sosok yang tidak kenal kasih, seorang yang begitu terobsesi pada suami yang sudah tak cinta lagi, juga punya jiwa psikopat tersembunyi. Mana ada perempuan yang tega ingin membuat perempuan lain celaka berikut bayi yang dikandungnya? Hanya Revi yang punya akal seperti itu.
"Payah!" Revi berdecih.
Ia kemudian meninggalkan Nilam yang hanya bisa menggeleng melihat kelakuannya. Sepeninggalan Revi, Nilam segera mengirimkan pesan kepada Bening tentang apa yang didengarnya tadi. Termasuk rencana Revi ingin menyakiti Bening. Nilam tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa mencegah agar Bening tetap selalu terlindungi dengan membaginya informasi itu.
Sementara itu, Bening yang menerima pesan dari Nilam hanya bisa mengelus dada. Kalau benar apa yang baru saja dibacanya dari pesan Nilam itu, sungguh Revi tak punya hati nurani lagi sebagai seorang perempuan. Padahal Bening sudah berniat akan akan menjadikan Revi juga sebagai ibu bagi anaknya.
Saat sedang menyapu airmata yang hendak tumpah setelah membaca pesan dari Nilam itu, Bening merasa tengkuknya terasa hangat. Ia segera menyimpan kembali ponselnya. Gara sedang memeluknya erat saat ini.
Lelaki itu baru saja kembali dari perusahaan dan rencananya malam kelak mereka akan melihat gaun pengantin di sebuah wedding organizer ternama di Jakarta.
"Kau sudah mulai membuncit, Sayang," bisik Gara tepat di telinga Bening sementara tangannya mengelus lembut perut Bening.
"Ya, Mas Gara. Nanti semakin mendekati bulan, Mas Gara akan melihatku seperti balon udara."
Kelakar Bening membuat Gara tertawa lalu ia menyelipkan tangan di pinggang Bening dan mengangkat tubuh Bening, menggendongnya menuju ranjang.
"Tak apa, pasti lucu kalau kau berisi."
"Apa Mas Gara akan tetap suka?" tanya Bening sambil mengalungkan lengannya di leher kokoh Gara.
"Tentu saja, Bening. Aku suka semua yang ada pada dirimu. Wajahmu, matamu, bibirmu ini ..." Gara menghentikan jemari yang menelusur itu tepat di bibir Bening yang berbelah. "Lalu aroma tubuhmu yang wangi ini," sambung Gara, membuat Bening jadi tersipu malu mendengarnya.
"Bening akan menjaga semua hal yang Mas Gara suka."
Gara mengangguk, lalu menyatukan kening mereka berdua. Keduanya bertatapan lalu saling memagut mesra. Sejenak, Bening bisa melupakan informasi yang diberikan Nilam melalui pesan tadi. Dia juga harus berhati-hati mulai sekarang. Ia tidak akan membiarkan Revi mencelakai kandungannya.