Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Bebal Memang


Syifa masih menahan geram, dia masih terbayang penolakan yang diucapkan Gara melalui sekretarisnya. Apa susahnya menandatangani berkas dokumen kerja sama itu, bukankah mereka akan saling menguntungkan?


Syifa juga terbayang rupanya Bening, memang masih sangat muda dan segar, bahkan seperti masih gadis. Namun, memangnya dia kalah menarik? Dia cantik, kulitnya eksotis dan orang-orang bilang dia seksi. Kurang apa lagi coba?


"Nona Syifa, tuan menelepon barusan," kata asisten perempuan itu membuyarkan lamunan Syifa.


"Ayah pasti mempertanyakan ketidakhadiranku di meeting perusahaan Jaya Wijaya kan?" tanya Syifa lagi.


"Ya, Nona. Harusnya selain rencana pertemuan dengan perusahaan tuan Gara, Nona juga mesti ingat dengan yang lainnya. Pimpinan Jaya Wijaya pasti sangat kecewa apalagi itu proyek dengan ayah Nona."


Syifa memberengut, lihatlah, gara-gara gagal bertemu dengan Gara, dia jadi harus membatalkan dengan meeting lainnya. Sebentar lagi ayahnya pasti akan menelepon langsung ke ponselnya.


"Nona tidak boleh mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, profesional harus menjadi prinsip seorang pebisnis, Nona."


Syifa memandang asistennya itu dengan tatapan jengah. Ia kesal setengah mati karena tak ada satu orang pun yang mendukungnya.


"Kau itu tak mengerti bagaimana rasanya jadi aku, May!" dengus Syifa keras kepala.


"Aku mengerti, Nona, tapi tentu saja Nona tak harus sampai memaksa seperti ini. Tuan Gara itu lebih memilih keluarganya, dia sangat mencintai istrinya, begitu terlihat kan tadi saat kita melihatnya di perusahaan tuan Gara? Apa Nona masih berusaha menutup mata dan percaya diri bahwa tuan Gara akan luluh dengan Nona yang selalu mengejarnya?"


Syifa mengibaskan tangannya, ia memandang kesal ke arah Maya yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan atasannya itu.


"Pesankan aku makanan, aku lapar sekali," ujar Syifa kemudian sembari berlalu menuju ke kamar mandi. Ia ingin mendinginkan pikirannya yang penuh dan hanya dipenuhi tentang Gara saja.


"Nona begitu keras kepala," desis Maya sembari menekan aplikasi untuk memesan makanan online.


"Memangnya salah kalau aku jatuh cinta kepada Gara? Aku pun tak minta perasaan ini! Dia muncul sendiri!" Syifa menggerutu di bawah pancaran air.


Ia memang terobsesi ingin memiliki Gara, lelaki yang jelas sekali menunjukkan ketidaktertarikannya kepada Syifa itu seperti malah menjadikan magnet yang membuat Syifa penasaran setengah mati. Rasa ingin memiliki malah semakin menggunung kini.


Di kediamannya saat ini, Bening dan Gara baru saja sampai. Mereka cukup senang, bisa bersama anak-anak. Waktu yang berharga seperti ini memang jarang mereka dapatkan, jadi Gara ingin memanfaatkannya sebaik mungkin.


"Abi dan Mentari bersama Mbak dulu ya, Ayah dan Bunda mau membersihkan badan dulu." Ia menyerahkan kedua anaknya kepada dua pengasuh mereka.


"Besok, Mas ada pemotretan buat majalah bisnis juga berita di media sosial. Mereka ingin Mas membawa anak juga istri," kata Gara saat mereka berada di dalam kamar mandi dan saling membersihkan diri.


"Maksudnya, seperti foto keluarga begitu, Mas?" tanya Bening tak paham.


"Ya, seperti itu. Kau mau kan, Sayang?" tanya Gara penuh harap.


Bening mengangguk sembari memijat rambut suaminya dengan shampo. Setelah perbincangan itu, mereka memanfaatkan waktu untuk bermesraan sebentar hingga mendapat pelepasan.


Malam menjelang, saat akan tidur, Gara mendengar ponselnya bergetar tanda ada notifikasi pesan masuk ke dalam aplikasi chatnya. Gara menggelengkan kepala melihat isi pesan yang baru saja dia baca.


Gara, sepertinya kita harus bicara. Aku sampai harus ditanyai ayahku karena kau membatalkan kerjasama kita. Aku butuh penjelasan darimu.


Gara mengerutkan kening, perempuan satu ini memang bebal. Sekarang malah membawa-bawa ayahnya. Setelah membaca berkas kerjasama yang belum sempat ditanda tangani olehnya kemarin, ia sempat membaca nama dari pemilik perusahaan yang sekarang tengah dijalankan oleh Syifa itu. Ternyata ayahnya, tuan Wibowo pun mengenal pebisnis handal itu yang ternyata adalah ayah Syifa.


"Siapa, Mas?" tanya Bening sembari naik ke atas ranjang.


"Syifa. Dia bebal sekali."


"Dia pantang menyerah ya, Mas." Bening terkekeh.


"Tak tahu malu lebih tepatnya, Sayang."


"Jangan begitu, dia hanya sedang tersesat dalam pikirannya," kilah Bening.


"Kau tak cemburu, Sayangku?"


"Mana ada istri yang tidak cemburu dengan hal semacam ini, Mas. Tapi, Bening yakin, Mas Gara pasti tahu dan ingat dengan Bening. Mas Gara tidak mungkin tergoda dengan perempuan seperti itu."


"Pintar. Mas semakin tergila-gila kepadamu." Gara mengecup kening istrinya itu, lalu mengajak Bening untuk tidur. Besok, jadwal mereka akan cukup padat.