Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Memperingatkan Revi


Lembaran baru. Sebenarnya hanya itu yang Gara inginkan sekarang. Dia sudah menemukan perempuan yang tepat setelah terkurung dengan perempuan yang salah. Hadirnya Bening dalam kehidupan Gara membuat semangat lelaki itu kembali terbakar. Bahkan kini cinta kian mekar dengan adanya bayi di dalam perut Bening. Betapa bahagia Gara ketika mengetahui bahwa Bening telah hamil anaknya waktu itu. Mungkin, bagi lelaki biasa hal itu lumrah, tapi baginya yang sudah berjuang dan setia kepada satu wanita juga berharap siang malam sang istri pertama mau memberikannya anak, adalah hal yang luar biasa membanggakan, meski kini kenyataannya, benihnya tumbuh di rahim mantan pembantu ibunya.


Siapa yang menyangka bahwa rasa yang awalnya ada hanya karena getaran biasa juga karena satu tujuan tentang anak saja, kini merembet ke mana-mana, Gara tidak ingin Bening hanya sebatas rahimnya. Ia menginginkan semua hal pada diri Bening. Semuanya, tubuh, rahim dan yang paling utama kini adalah hati. Hati Bening. Malam itu, ketika Gara baru saja pulang, pintu rumah Bening terbuka dengan Bening yang menyambut Gara hangat. Mencium takzim punggung tangan sang suami lalu membantu membawa jasnya dan Gara tak sungkan mendaratkan ciuman penuh rindu di kening Bening.


"Bening sudah masak makanan kesukaan Mas Gara, Bening siapkan ya. Mas Gara mandi saja dulu, sudah Bening siapkan juga air hangatnya."


Gara mengangguk seraya mengusak lembut rambut Bening lalu membiarkan istrinya itu ke dapur untuk menyajikan makan malam. Padahal, bersama teman-temannya tadi Gara sudah makan, tapi Gara sengaja makan sedikit hanya untuk menghormati mereka, selebihnya ia lebih tertarik makan di rumah.


Selesai mandi, dengan sudah mengenakan kaus tidur dan celana pendek, Gara turun ke ruang makan. Bening menyambutnya, lalu mengajak Gara duduk bersama untuk mengisi perut.


"Kau sudah makan?" tanya Gara pada Bening yang segera mengangguk.


"Semenjak hamil, jadi suka cepat lapar, Mas Gara. Maaf ya, Bening makan duluan tadi."


"Gak masalah, Sayang. Mas malah kepikiran kalau kau sengaja melaparkan perut hanya untuk menunggu Mas pulang. Tidak boleh ya, harus segera makan kalau memang sudah lapar."


Bening tersenyum lalu mengangguk. Gara kemudian mulai asyik menyantap makanannya. Bening memperhatikan sambil bertopang dagu. Ia suka melihat Gara yang lahap memakan masakannya.


"Apa ada yang ke sini tadi?" tanya Gara seolah menyadari bahwa Bening seperti habis menerima tamu.


"Ya, ada Mama, Mas." Gara mengangguk.


"Apa Mama sendiri?" tanya Gara lagi.


Bening segera mengangguk. Bening menggigit bibirnya, pertanda ingin mengatakan juga bahwa tadi Revi bertandang ke rumah itu. Namun, ia sulit sekali mengatakannya.


"Siapa yang datang selain Mama, Sayang?" tanya Gara tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk berisi sup hangat.


"Ehmmmm ...."


"Katakan saja, Mas Gara lebih suka kau jujur daripada menutupi sesuatu walau itu baik menurutmu."


Mendengar nada lembut tapi tegas itu, akhirnya Bening menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


"Mbak Revi ke sini juga tadi, Mas Gara," ujar Bening pelan.


Namun, ternyata Bening salah, karena keesokan harinya setelah selesai mengantar Bening ke kuliahan, Gara menyempatkan diri datang ke rumahnya dan Revi. Ketika masuk ke dalam, ia melihat Revi baru saja keluar dari kamar mandi kamar hanya dengan memakai handuk. Ia baru saja selesai mandi.


"Gara, aku kangen!" Revi mendekat, berusaha memeluk Gara yang diam mematung tapi kemudian melepaskan perempuan itu.


"Apa tujuanmu datang ke rumah Bening semalam?"


"Rumah Bening? Itu rumahmu! Artinya aku juga berhak datang ke sana kapan saja!"


"Rumah itu atas nama Bening. Kau masih bebal, masih suka mengusik Bening."


"Aku tidak mengusiknya, tapi aku hanya benci dia mendapatkan apa yang seharusnya hanya aku yang mendapatkannya. Gara aku sungguh tak sabar untuk kau menceraikannya, seperti janjimu padaku sebelum menikahi perempuan murahan itu!"


Gara menoleh, menatap tajam Revi yang menyebut Bening sebagai perempuan murahan.


"Siapa yang akan menceraikan Bening?" tanya Gara menantang.


Revi mengerjapkan matanya. Ia tertawa sesaat, menganggap Gara hanya sedang berlelucon kepadanya.


"Loh kesepakatan awal kita sudah jelas ya, Gar, kamu akan menceraikan gadis kampung itu setelah anak itu lahir!"


"Jangan mengaturku, Sela. Aku tidak akan menceraikan Bening! Aku sudah bertekad untuk menjadikannya selamanya sebagai istriku."


Bagai tersambar petir, Revi mengepalkan jemari. Ia mendekat ke arah Gara lalu membuka handuknya hingga tubuh polosnya yang indah terpampang. Ia mencoba menciumi Gara, tetapi Gara menyentaknya perlahan.


"Gara, kau tidak bisa mengingkari janjimu begini kepadaku!"


"Hentikan, Sela. Aku tidak akan menceraikan Bening. Ingat, jangan mencari ulah di rumah Bening. Sekali lagi kau melakukan itu, kau akan tahu akibatnya!"


Gara kemudian turun dan berlalu. Revi mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa menahan kemarahan hingga kembali melempari apa saja yang di dalam kamarnya. Merasa terhina karena harus dikalahkan Bening sang gadis desa yang dulu hanyalah seorang pembantu.


"Perempuan sial!" Ia mendesis, menatap kosong ruang berantakan itu. Ia mengepalkan jemari, memukul perutnya berkali-kali. Menyalahkan rahimnya yang tak lagi berfungsi.