Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Nasihat Papa


Akhirnya setelah melewati hampir dua minggu di Bolivia, hari ini Gara dan Bening tiba di Jakarta melalui perjalanan panjang dengan pesawat. Memang sedikit kelelahan, tetapi mereka juga membawa binar bahagia setibanya di rumah. Nyonya dan tuan besar menyambut keduanya dengan gembira begitu juga Abi yang langsung menyongsong mama dan papa.


"Bagaimana liburan kalian di Bolivia?" tanya tuan besar kepada Gara yang saat ini mereka memang memisahkan diri dari nyonya besar, Bening, juga Abi.


Sembari berjalan mengelilingi rumah yang megah itu, Gara berkisah banyak hal, tentang betapa menyenangkannya liburan mereka berdua, juga tentang sulitnya mencari makanan halal di negara itu.


"Semoga secepatnya juga, Bening hamil lagi, Pa."


Mendengar itu, tentu saja tuan Wibowo berbinar-binar menatap putera hebatnya itu. Padahal dia tahu bahwa Gara dan Bening sebelumnya sudah sepakat akan menunda kehamilan baru tiga tahun ke depan.


"Loh, bukannya ..."


"Kami sudah sepakat membatalkan rencana kemarin, Pa. Bening tidak masalah kalau harus hamil lagi. Dan semoga saja Allah secepatnya memberi kami anak lagi, cucu lagi untu mama dan Papa."


Tuan besar tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu puteranya dengan bangga.


"Kau betulan tak salah pilih istri, Gara. Papa bangga kepadamu dan Papa akan selalu mendukung apapun yang kau dan Bening rencanakan."


"Semuanya karena Bening, Pa. Kalau saja dulu Gara tidak menikah dengan Bening, mungkin hidup Gara akan sama datarnya seperti dulu, meski tak lagi bersama Revi. Beninglah yang sudah memberi warna indah di hidup kita."


Gara mengangguk, ia setuju dengan nasihat yang baru saja diberikan oleh papanya. Ayahnya juga adalah contoh tauladan yang baik bagi Gara. Seumur hidup Gara, tak pernah sekalipun ia melihat ayahnya berbuat kasar kepada ibunya. Bahkan membentak pun, ayahnya tak pernah. Padahal, nyonya besar itu termasuk ke dalam golongan perempuan yang banyak bicara dan cukup cerewet, tetapi ayahnya selalu bisa menenangkan ibunya.


"Gara selalu mencontoh semua hal baik yang Papa perlihatkan secara sadar dan tak sengaja. Semoga Papa dan mama selalu berbahagia dengan kami yang akan selalu ada untuk kalian, Pa."


"Papa tahu, Gara. Papa sangat bangga kepadamu. Ingat saja pesan Papa, bahwa perempuan jika di tangan lelaki yang tepat, maka ia akan senantiasa bersinar bagai ratu. Tapi jika kita memperlakukan mereka dengan tidak baik, maka, hanya akan ada kegelapan di seisi rumah. Kau pernah mendengar bukan, jika ingin merusak sebuah keluarga maka rusaklah istrinya dahulu, jadi sebagai suami, kita harus menjaga istri kita dengan sebaik-baiknya akhlak."


"Terimakasih ya, Pa, atas semua pengajaran yang selalu Papa berikan kepadaku. Aku belajar banyak hal dari Papa dan mama selama ini. Tapi ..."


"Tapi apa, Nak?" tanya tuan Wibowo penasaran.


"Pa, apa dulu, aku bukan suami yang baik, jadi Revi pembangkang seperti itu?"


Tuan Wibowo tersenyum mendengarnya, ia bukannya tak tahu bahwa puteranya bukan sengaja ingin mengungkit tentang Revi, tapi puteranya sedang merasa gagal.


"Tentu tidak, Gara. Kau adalah suami yang baik, sangking memuliakan istrimu, kau menuruti semua keinginannya, sayangnya, dia malah memanfaatkan itu dengan menginjak-injak harga dirimu sebagai suami. Kau sudah benar, Nak, tapi perempuan itulah yang tak pandai bersyukur. Dia ingkar pada nikmat Tuhan melalui dirimu dan lihat, Tuhan menggantinya dengan sosok yang lebih baik, lebih segalanya dibanding Revi. Bening, dia istri terbaik yang sudah Tuhan berikan untukmu, Nak. Tak ada yang salah dengan Gara yang dulu, sebab sejatinya, Tuhan memang akan mempertemukan kita dengan orang yang salah dulu untuk bisa diambil pelajaran juga pengalaman yang berharga. Setelahnya, Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik menurut versinya."


Sejuk sekali setiap tutur kata bijak yang dikeluarkan oleh tuan Wibowo untuk putera bungsunya itu. Gara mengangguk-angguk mengerti lalu ia memeluk ayahnya. Benar kata ayahnya, dia sudah berlaku baik sedari dulu kepada istri pertamanya, hanya saja, Tuhan ingin mengujinya dengan cinta yang salah sebelum mempertemukannya dengan cinta sejatinya, Bening Anjani.