
Sesuai rencana, akhirnya hari ini tepat ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, Gara membawa Bening ke universitas impian Bening dulu. Meski sempat mengubur keinginannya untuk bisa berkuliah di universitas itu dulu saat di rumah sakit, akhirnya hari ini Gara mewujudkan keinginan Bening yang juga didukung penuh oleh nyonya dan tuan besar.
"Ayo kita turun, lihat, banyak sekali calon-calon mahasiswi mahasiswa baru yang akan mendaftar." Gara menoleh sembari membuka sabuk pengaman Bening. Bening membalasnya dengan senyuman yang sama lalu turun bersama dengan Gara.
Bening berjalan di sisi Gara dengan sedikit tertunduk, meski kini dia sudah berstatus sebagai istri lelaki hebat dan terkenal sukses itu, ia tetap saja masih kerap merasa rendah diri karena sadar dia hanyalah gadis kampung.
"Sayang, kenapa menunduk begitu? Apa da sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Gara sembari meraih jemari Bening lalu menggandengnya.
"Malu, Mas Gara. Minder," ungkap Bening jujur.
Gara tersenyum, itu yang dia suka dari Bening. Benar-benar polos dan apa adanya. Sikapnya yang pemalu itu kadang membuat Gara gemas. Kalau saja mereka sedang tidak di tempat umum, akan dikecupnya bibir Bening yang berbelah itu.
"Kenapa malu, kau sangat cantik. Justru Mas yang mulai ketar ketir nanti kau digoda kakak-kakak tingkatmu."
Mendengarnya, Bening jadi tersenyum juga. Ia mengangkat kepala lalu membalas genggaman jemari Gara yang saat ini sedang menggandengnya. Mereka mulai bergabung dengan para calon mahasiswa lain untuk melakukan pengisian form pendaftaran dan melampirkan berkas-berkas penting yang sudah Bening bawa di dalam map.
Selama Gara menuntun Bening mengisi form pendaftaran itu, banyak sekali yang memandang ke arah mereka, mungkin karena wajah Gara yang tidak asing dan sering muncul di sampul majalah bisnis, atau mungkin karena dia terlalu tampan hingga banyak yang mencuri pandang.
"Bening akan mengambil jurusan bisnis, boleh, Mas Gara?" tanya Bening meminta pendapat Gara yang segera disetujui Gara dengan anggukan.
Kegiatan itu terus berlangsung dengan Gara yang begitu sabar menemani Bening.
"Mas mau ke toilet, selesaikan dulu ya. Kalau tidak tahu nanti dikosongkan, biar Mas bantu."
"Baik, Mas Gara. Bening bisa kok."
"Baiklah, Sayang." Gara mengusap kepala Bening lembut lalu segera berlalu dengan banyak sekali mata yang memandang.
Saat Bening tenga serius mengisi berkas yang dibutuhkan, seseorang terlihat mendekat. Bening mendongak, dilihatnya sosok yang dia kenal.
"Bening?"
"Bang Dani." Bening tersenyum.
"Kau mau daftar kuliah di sini ya?" tanya Dani antusias. Bening hanya tersenyum dan mengangguk. Dia baru ingat kalau Dani juga berkuliah di universitas itu. Artinya, pemuda itu akan segera jadi kakak tingkatnya.
"Iya, ini sedang mengisi pendaftaran."
"Mau aku bantu, Ning?" tawar Dani penuh harap. Bening mendongak lagi tapi kali ini dia menggeleng.
"Gak papa, Bang. Bening bisa sendiri kok, lagipula, ada Mas Gara yang tadi membantu."
Wajah Dani jadi pias meski tak ia tunjukkan secara langsung di depan Bening saat ini. Seseorang berdeham di belakang Dani. Senyum Bening mengembang.
"Aku ke sana dulu, Ning." Dani segera pergi dengan Gara yang menatapnya datar.
"Ya, Mas tahu kok, kan pernah bertemu beberapa kali dengannya dulu."
Bening melanjutkan lagi mengisi halaman terakhir sebelum ia menyerahkannya ke panitia kampus. Bening tinggal menunggu pengumuman nanti dan kalau diterima sebagai mahasiswi di sana, perkuliahan akan di mulai dalam beberapa minggu ke depan yang akan diawali dengan ospek. Sebelumnya, tentu saja Bening harus ikut test tertulis dulu sebagai syarat awal penentuan lolos tidaknya dia untuk kuliah di sana.
"Jadi kapan jadwal testnya, Sayang?" tanya Gara setelah mereka berada di mobil.
"Kata ibu panitia tadi sekitar satu minggu lagi, Mas Gara. Nanti akan dikabari lewat email dan pesan."
Gara mengangguk paham. Ia melihat ponsel Bening yang tentu saja harganya sangat murah itu. Gara melajukan mobilnya ke sebuah phone store terkenal di Jakarta.
"Buat apa kemari, Mas?" tanya Bening tak mengerti.
"Mau ajak Bening beli ponsel baru. Ayo turun."
Bening belum sempat mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Yang jelas sekarang Gara sudah menggenggam jemarinya lagi lalu membawanya masuk ke sana.
Mereka langsung disambut oleh staff ynh berseragam rapi. Gara membawa Bening ke etalase ponsel paling mahal di sana. Namun, tatapan Bening malah fokus pada foto seorang perempuan cantik yang sedang memegang ponsel mahal itu sambil tersenyum. Sebuah banner besar di dalam ruangan itu dengan wajah yang begitu akrab kini dengan kehidupannya.
"Mas, foto nyonya besar ada di sana. Wah ... Nyonya besar cantik sekali," puji Bening dengan Gara yang hanya melihatnya sekilas.
"Biarkan saja, Bening. Ayo, pilihlah warna apa yang kau mau."
"Tapi ponsel Bening belum rusak lagi, Mas Gara." Bening berujar dengan bingung.
"Sayang, ganti ponsel itu gak mesti nunggu dia rusak dulu. Ayo, mau yang mana, cepetan pilih, habis ini kita pergi makan eskrim."
Bening tersenyum juga, akhirnya karena Gara terus mendorongnya memilih, Bening memilih warna hitam mengkilap.
Pelayan phone store itu segera membuat pesanan Gara. Beberapa staff terlihat berbisik karena mereka menyadari bahwakasi lelaki bersama Bening itu adalah suami dari model di dalam banner besar yang tadi Bening tunjuk.
Namun, Gara tak menggubris mereka. Ia malah semakin menunjukkan kemesraannya dengan Bening di depan umum dengan tidak melepaskan genggaman tangannya kepada Bening hingga mereka sampai dekat mobil.
Sementara di sebuah lokasi pemotretan, Revi yang tengah break mendapatkan telpon dari salah satu teman modelnya.
"Beb, suamimu sama cewek. Masih muda banget. Suamimu nikah lagi?" tanya teman Revi, membuat Revi tersentak kaget.
"Ah enggak ... Itu, kayaknya sepupu jauh dia yang baru merantau ke Jakarta."
"Tapi mesra banget loh, Cin."
Kali ini Revi tidak menyahut. Ia segera mematikan sambungan telepon dan melempar ponselnya dengan kesal ke atas pangkuannya sendiri. Revi rasanya baru sadar, kebahagiaan dia adalah Gara, bukan karir dan popularitas yang melambung.