Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Dipaksa Dewasa Oleh Keadaan


"Bening, jangan gugup begitu. Makanlah seperti biasa. Kalau kau gugup, kau tak akan kenyang, nanti malah sakit perutmu." Gara sengaja mengguraui Bening yang terlihat kikuk saat ini. Ia sudah hampir menghabiskan makannya, sementara Bening, setengah pun belum habis.


Bening sendiri masih sangat canggung. Mengapa tuan muda ini begitu baik kepada dirinya? Sosok dingin jika berhadapan dengan orang lain itu mendadak lembut dan penuh perhatian kepada dia yang hanya seorang pembantu dan gadis desa biasa.


"Saya tidak gugup, Tuan. Hanya sedikit canggung." Bening nyengir kuda, membuat Gara tertawa kecil. Ia kemudian meraih tisu lalu hendak menyentuh dagu Bening, membuat gadis jelita itu refleks menghindar.


"Ada nasi di dagumu, biarkan aku membersihkannya." Gara menahan dagu itu dengan jemarinya, lalu mulai membersihkannya perlahan. Bening bisa merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat dari angka normal. Harum maskulin tubuh Gara mengusik sisi belia yang sudah mulai masuk ke tahap dewasa di dalam diri Bening sendiri. Bening kira, moment romantis seperti ini hanya ada di adegan film-film yang sering ia tonton lewat smartphone murahnya. Ah, romantis? Bening jadi malu betul. Bisa-bisanya dia berpikir Gara sedang beromantis ria dengannya hanya karena sebutir nasi yang kebetulan jatuh di antara dagunya.


"Sudah, lanjutkan makanmu."


Bening mengangguk, seraya ia terus makan dengan teratur dengan suasana canggung yang mulai mencair.


"Kau suka makanannya?" tanya Gara sambil terus memperhatikan Bening.


"Suka, Tuan. Enak sekali."


"Aku lebih suka masakanmu. Kuah sup kemarin pun habis aku seruput."


Ah, Bening jadi melayang, dipuji begitu oleh suami orang yang tampan sekali itu. Ya gusti Allah, Bening minta maaf sudah terbawa perasaan begini, kepada suami orang yang sebentar lagi akan jadi suami Bening juga. Bening mulai berdoa di dalam hatinya.


"Kalau Tuan ingin makan sesuatu, saya bisa memasaknya lagi." Bening berkata dengan masih menunduk.


"Tentu, aku pasti akan memintamu masak yang macam-macam lagi nanti. Sela tidak pernah memasak untukku, Bening."


Tatapan lelaki itu menerawang. Bening tidak sampai hati melihat sang tuan terluka. Ingin sekali Bening yang belia itu menenangkan tuan Gara setiap waktu.


"Tuan lelaki baik, saya juga akan mengabdi dengan baik untuk Tuan."


Gara menoleh lantas ia tersenyum kecil.


"Bening tahu apa? Aku ini dulunya sangat brengsek. Benar apa yang mama katakan kemarin. Saat masa sekolah dan kuliahku dulu, aku playboy sekali. Aku suka perempuan-perempuan cantik. Semua gadis cantik di masa itu, pernah menjadi kekasihku. Mama sampai pusing, setiap kali ada gadis yang ke rumah dan menangis-nangis karena aku tinggalkan. Sampai akhirnya aku bertemu Sela. Aku kira dia sempurna sebagai pelabuhan terakhir. Tempat aku percaya bahwa aku sudah dengan orang yang tepat. Sosok yang aku kira telah berhasil membuat aku jadi lebih bertanggungjawab. Sayang, karma itu ada ya, Bening. Mungkin aku sudah disumpahi gadis-gadis yang dulu aku sakiti. Hingga ketika aku sudah betulan jadi lelaki, karma menimpaku tanpa ampun melalui perempuan bermarga istri."


"Usaplah bagian ini, Bening. Karena yang cidera adalah bagian ini."


Bening canggung sebenarnya, juga menyadari belum saatnya dia menyentuh Gara. Namun, sekali lagi Bening tak tega. Jadi dia mulai mengusapnya perlahan. Gara kemudian menghentikannya, ia menggenggam jemari Bening lantas menempelkannya di pipinya sendiri. Hangat tangan Bening menelusup sampai ke dalam hatinya sendiri, menyentuh ke bagian paling dasar.


"Kau sangat dewasa, Bening. Seperti sudah terbiasa menjadi penenang bagi orang lain. Apa kau memang punya bakat itu?"


Bening tersenyum mendengarnya. Gara terlalu berlebihan. Namun, dia merasa tersanjung.


"Saya hanya dipaksa untuk dewasa oleh keadaan, Tuan Gara. Kehidupan di desa, tidak semudah di sini. Saya harus memupuk kedewasaan itu bahkan semenjak saya masih sangat kecil. Karena saya mengerti, semua hal harus diusahakan, dan menikmati setiap proses kehidupan adalah cara saya untuk mensyukuri bahwa hari ini, saya masih bernafas, bertemu orang-orang tersayang, dan mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga. Termasuk ketika tiba di Jakarta, saya dipertemukan dengan nyonya besar yang sangat baik, lalu ..."


"Lalu?" Gara menaikkan alisnya, ia menunggu.


"Bertemu dengan tuan Gara."


"Kau suka bertemu denganku?" tanya Gara serak.


Bening tak menyahut tapi kemudian dia mengangguk.


"Bening mensyukurinya, Tuan."


Gara mengangguk perlahan, ia kemudian melepaskan jemari Bening yang masih menempel di pipinya.


"Aku kembali ke atas ya. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Ya, Tuan Gara."


Gara tersenyum lantas kemudian berjalan menjauh dari Bening menuju ke kamarnya di lantai atas. Saat ini ia lupa bahwa kamar itu sudah seperti kapal pecah. Gara menggeleng, Revi kalau marah sudah seperti orang gila.


Gara pergi ke ruangan pribadinya, ia mulai membuka laptop, membiarkan kamarnya tetap berantakan. Namun beberapa menit kemudian, ia mendengar kamar itu seperti sedang dibereskan. Dari celah pintu yang terbuka, berseberangan dengan kamar itu, ia bisa melihat Bening sedang membereskannya dengan sabar. Ia hanya takut, kaca-kaca yang berserakan akan melukai Bening-nya.