Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Coba Waktu Bisa Kita Ulang


Keringat mengalir dari sela tubuh Bening yang masih berpagut mesra dengan Gara. Mereka masih tenggelam dalam nikmatnya surga dunia yang sering orang-orang gaungkan. Bening menyadari satu hal, bercinta dengan Gara ternyata memberi kesan yang selalu ingin diulanginya. Begitu pula Gara, lelaki itu kini kerap memikirkan Bening bahkan ketika sedang berada di perusahaan.


Kini, nafas keduanya semakin beradu. Suara ******* tertahan terdengar merdu di telinga keduanya. Gara sering membungkam bibir Bening dengan ******* dari bibirnya sendiri sementara yang di bawah, senantiasa bergerak memacu hasrat menjadi lebih menggila.


Di pelepasan terakhirnya, Gara memeluk Bening erat, terasa cairan yang keluar memenuhi seluruh rongga pusatnya. Bening dan Gara memacu nafas setelah selesai dengan kegiatan panas mereka.


"Kau luar biasa, Bening," puji Gara sambil mengusap kepala


"Mas Gara yang mengajarkan." Bening menyahut dengan jujur.


Kemudian keduanya saling bertatapan. Bening tersenyum pun begitu dengan Gara yang terpesona melihat wajah Bening di bawah sinar bulan. Cantik, sensual, menggoda.


"Bening, andaikan saja waktu bisa kita ulang."


"Memangnya, Mas Gara ingin mengulang apa?" tanya Bening.


"Saat aku belum mengenal dirimu. Dan saat aku juga belum mengenal Sela. Seandainya saja, aku menemukanmu lebih dulu."


"Bening masih kecil, Mas Gara, sedangkan Mas Gara pasti sudah lulus SMA." Bening tertawa kecil menanggapi. Gara juga hanya tertawa.


"Kau benar, Bening. Tapi pasti akan sangat menyenangkan kalau aku jatuh cinta padamu lebih dulu."


"Sekarang, Mas Gara sudah memiliki Bening, mungkin sebentar lagi juga, Bening akan hamil. Mas Gara sudah mendapatkan semuanya. Jadi jangan bersedih lagi."


Gara membalikkan tubuhnya lalu menindih setengah tubuh Bening lagi. Ia mengusap kening Bening dengan lembut lalu mengecupnya lama. Bening memejamkan matanya, mencoba merasakan indahnya disayangi oleh lelaki tampan itu.


"Beningku, aku sangat menyayangimu," bisik Gara tepat di atas kening Bening yang masih menyatu dengan bibirnya.


Hati Bening jadi bergetar hebat. Ungkapan tulus itu membuat Bening ingin menjatuhkan airmata. Benar, mengapa tidak sedari dulu saja mereka berdua dipertemukan?


Bening jadi sangat takut membayangkan, jika suatu saat nanti setelah ia benar-benar bisa menghadirkan anak dan melahirkan, lalu ia akan dipisahkan dengan buah hatinya juga Gara. Bening tidak bisa memastikan apakah hidupnya akan normal atau malah jadi berantakan karena kehilangan dua orang tercinta itu.


Namun, hidup terus berjalan, kesepakatan juga sudah dibicarakan. Jadi Bening hanya menyerahkan semua ini kepada garis takdir yang nanti, mungkin akan benar-benar menyatukan mereka pada sebenar-benarnya ikatan.


"Apa kau pernah mendengar sebuah ungkapan dari cerita novel atau film?"


"Ungkapan apa itu, Mas Gara?


"Ada orang-orang yang pernah bilang bahwa sejatinya cinta sejati itu akan bertemu pada waktu yang tepat, ketika sudah banyak dari mereka yang melalui berbagai macam rintangan dalam hubungan. Apa kau juga pernah mendengar, sebelum kita dipertemukan dengan orang yang tepat maka Tuhan akan lebih dulu menguji kita dengan orang yang salah, yang kita kira adalah orang yang paling baik untuk hidup kita."


"Tentu saja Bening pernah mendengarnya, Mas Gara. Apa yang Mas Gara katakan barusan itu adalah sebuah kebenaran bahwa sejatinya kita akan dipertemukan dengan orang yang tepat setelah sebelumnya hancur bersama orang yang salah."


Gara mengangguk, lalu kembali memeluk Bening dengan begitu erat, seolah ia takut sekali kehilangan perempuan muda yang kini sudah menjadi istrinya itu.


"Sekarang kita tidur ya. Besok kau harus pergi ke kampus untuk mengurus berkas-berkas perkuliahanmu."


"Iya, Mas Gara, tidur yang nyenyak ya, Mas, bermimpilah yang indah."


"Kau juga, Sayangku," kata Gara membalas kata-kata Bening barusan.


Setelah itu, mereka saling memejamkan mata dengan membawa perasaan mereka masing-masing untuk terus menjaga hingga waktu yang tidak bisa mereka tentukan batasnya. Bening tidak terlalu berharap banyak dengan hubungannya dengan Gara meskipun ia ingin sekali menikah hanya sekali seumur hidupnya dan kalau bisa, hanya berhenti pada Gara dan tidak akan berlanjut lagi kepada lelaki lain. Karena bening paham sekali, orang yang pertama kali mengambil kesuciannya yang selama ini selalu dia jaga adalah orang yang tepat yang akan menikmati sisa-sisa kesucian itu seumur hidupnya. Dialah satu-satunya sang pemilik kehormatannya.


"Tidak ada yang tahu perkara jodoh, Bening, terkadang manusia dipertemukan dengan jodohnya ketika dia sudah uzur atau ketika dia masih bocah yang melihat jodohnya untuk pertama kali dalam bayangan semu yang suatu saat akan terwujud menjadi sebuah kenyataan. Lalu ada yang melihat jodoh sebagai musuh yang mereka benci di masa lalu tetapi menjadi orang yang paling berarti di masa depannya. Atau seperti kita, Bening, yang akhirnya bertemu tapi setelah aku lebih dulu mencintai orang yang salah."


Bening tak menyahut dengan kata-kata kalimat Gara barusan, sebelum ia sempurna memejamkan mata dan masuk ke dalam mimpinya, Bening hanya memberikan tanggapan melalui pelukannya kepada Gara yang semakin erat. Sebuah pelukan sudah cukup untuk menafsirkan perasaan mereka masing-masing.