Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Satu Tamparan!


Suasana kelab malam itu sesak dengan asap rokok, Gara menuju sebuah room khusus yang telah dipesan oleh rekan-rekan bisnisnya. Namun, di dalam sana, dia tertegun karena yang hadir bukan hanya teman-temannya. Ada Revi! Bagaimana bisa?


"Gara, perempuan cantik ini berkata bahwa kau adalah suaminya, karena itu dia menyusul ke sini karena kau memintanya datang pula. Dia sangat cantik."


Kalimat dari salah satu rekan bisnisnya membuat Gara memandang tajam Revi yang kini sudah mendekatinya, menggamit lengannya manja lalu mencium mesra pipi Gara. Kalau saja tak ingat dengan reputasi baik yang sudah ia bangun sejak dulu sebagai pebisnis sukses dan jauh dari berita miring, tentu Gara akan memberi pelajaran habis-habisan kepada Revi.


Namun, Revi tentu percaya diri bahwa Gara tak akan pernah melakukan itu. Lelaki itu hanya diam, duduk dengan tetap mencoba tenang sembari meladeni teman-temannya berbicara. Revi juga berusaha memberikan minuman kepada Gara tetapi Gara menolaknya.


"Sedikit saja, Gara. Kita sudah lama tak bertemu, aku sudah memesan minuman terbaik di tempat ini untukmu."


Gara melihat minuman dalam genggaman lentik Revi yang masih memandangnya penuh arti itu.


"See? Kau tidak akan mengecewakan teman-temanmu bukan?"


Gara meraih kasar gelas itu lalu menenggaknya perlahan. Sayang, minuman itu telah diracik dalam kadar alkohol yang cukup banyak. Gara yang sudah lama tak menyentuh benda itu kini jadi cukup mabuk.


Revi memanfaatkan itu, menggelayut Gara dengan hasrat sudah di ubun-ubun. Ia mengendus leher Gara, berusaha membangkitkan gairah lelaki yang masih jadi suaminya itu.


"Bening ..."


Revi tersentak, meski dalam keadaan mabuk seperti itu, Gara malah masih menyebut nama Bening berkali-kali. Meski suara musik berdentum-dentum, tapi Revi masih bisa mendengar racauan Gara yang menggila, menyebut nama Bening berulang kali.


"Sial!" desis Revi murka.


Ia kemudian meminta izin kepada teman-teman Gara untuk kembali terlebih dahulu sambil memapah Gara yang hampir tumbang.


"Pergi kau, Sela! Aku tidak mau ada kau di sini!"


Gara berusaha tetap sadar tetapi Revi juga bertahan dengan terus menahan Gara di tubuhnya sendiri. Ia menyeret Gara, membawanya menuju keluar kelab malam. Mereka masuk ke dalam taksi.


"Sudahlah, Sayang. Lupakan Bening keparatmu itu! Kelinci kecil itu tidak akan bisa memilikimu lagi setelah ini. Aku akan menghangatkan ranjang kamar hotelmu malam ini, Gara. Kau ingat bukan betapa dulu kau selalu mencumbu tubuhku dengan begitu liar. Mari kita ulangi lagi malam ini, aku bersedia membuka pahaku lebar untukmu!"


Gara berusaha menjauh, tetapi Revi tetap sekuat tenaga menahan Gara yang memang sudah di puncak hasrat yang sama tapi hanya Bening yang ada di pikirannya sekarang.


Revi mengeluarkan kartu scan passcode lalu membuka pintu. Dalam kesadaran kesekian persen, Gara menatap nyalang Revi yang bisa membuka pintu kamarnya.


"Darimana kau mendapatkannya?!"


"Aku istrimu, Sayang. Tentu dengan mudah bisa mendapatkannya dari resepsionist." Revi tertawa kemudian menghempaskan tubuh Gara ke atas ranjang. Lalu ia membuka gaun yang dikenakannya hingga menyisakan bra dan bawahan yang senada.


Revi membenamkan wajah Gara di antara belahan dadanya. Gara melenguh, berusaha tetap sadar meski masih sekian persen.


"Gara, aku sangat menginginkannya," desis Revi lalu sambil mengambil ponsel ia mengambil video mereka berdua, terlihat Gara yang berusaha melepaskan diri namun jika terlihat dari video, yang nampak justru seperti Gars memberikan respon kepada Revi.


Namun, saat Revi ingin membuka celana Gara, Gara tiba-tiba membuka matanya, ia menatap nyalang Revi yang disadarinya bukan Bening. Lelaki itu menampar Revi keras membuat Revi jadi melepaskannya.


"Keluar!" Gara mendapatkan keberaniannya, ia mengambil vas bunga lalu melemparkannya sembarangan.


Revi mendelik, mendapat penolakan padahal sedikit lagi bisa menguasai Gara.


"Keluar!" bentak Gara sekali lagi.


Revi beringsut, sejujurnya ia selalu takut setiap kali Gara mengamuk. Ia keluar dari kamar itu dengan Gara yang langsung merebut kartu scan passcode dari tangan Revi.


Gara sendiri terduduk di atas ranjang, ia segera meraih air putih, berusaha tetap sadar setelah Revi pergi. Ia kemudian menghubungi resepsionist, bertanya kamar berapa Revi menginap.


Setelah hampir dua jam tetap memaksa sadar, ia pergi ke kamar perempuan itu. Gara mengetuk pintunya keras. Saat itu, yang membuka adalah seorang lelaki, model yang tadi siang sudah janjian dengan Revi.


Revi yang tak menyangka Gara datang hanya bisa menutup mulutnya dan berusaha mengusir lelaki itu agar Gara tak salah sangka.


"Bagus, tujuanku ke sini hanya satu, dan keberadaan lelaki itu memudahkan semuanya." Gara mengeluarkan ponselnya lalu tanpa bisa Revi cegah, Gara mengambil potret mereka berdua dengan lelaki itu yang masih bingung.


"Revi Sela Aryani binti Almarhum Jordi Harsinaga, mulai detik ini kau bukan istriku lagi! Aku menalakmu dengan sadar hingga terputuslah semua perkara atas dirimu. Aku akan menunggumu di pengadilan setelah ini."


Gara berlalu dengan tenang dengan Revi yang kemudian lunglai dan merasakan airmatanya jatuh satu-satu.