Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Mencari Pembenaran


"Kok lama di toiletnya?" tanya Gara setelah Bening kembali.


Bening tersenyum lalu menggamit mesra lengan Gara. "Tadi Bening bertemu teman lama, Mas Gara."


"Perempuan atau laki-laki, Sayang?" tanya Gara penuh selidik.


"Perempuan kok, Mas Gara. Teman Bening satu desa juga. Dulu waktu Bening ke Jakarta, perginya sama Nilam sempat satu kontrakan juga sebelum akhirnya diterima jadi pembantu mama."


"Oh, namanya Nilam?"


Bening mengangguk cepat. Gara juga mengangguk-angguk paham. Ia juga tidak lagi bertanya banyak hal setelah itu.


"Kita balik yuk, nanti kemaleman kalo kita lama di sini."


"Ayo, Mas."


Gara kemudian mengajak Bening keluar dari ballroom hotel setelah berbasa-basi sebentar dengan rekannya. Sebenarnya, banyak yang menanyakan keberadaan Bening yang bagi mereka masih asing sebab setahu mereka Gara punya istri seorang model terkenal, hanya saja mereka tidak mau merusak suasana dengan pertanyaan semacam itu.


Kebetulan setelah Gara dan Bening berlalu dengan mobil, Revi dan Nilam baru saja muncul ke tengah-tengah acara. Nilam kagum melihat banyaknya orang yang mendekat ke arah Revi setelah itu. Ia juga dengan senang hati membawakan semua barang Revi.


"Rev, tadi aku lihat Gara, aku kira dia bersamamu, tapi dia bersama perempuan lain."


Revi yang tadinya tak henti menebar senyum sekarang mulai kehilangan senyum lepasnya. Meski susah payah menahan bibirnya agar tetap senyum, tetap saja dia sekarang kembali benci. Kobaran kemarahan menelusup ke dalam hati Revi. Andai saja tadi dia lebih cepat datang, tentu akan dipermalukannya Bening di hadapan semua orang.


Sementara Nilam juga kaget bukan main, mendengar bahwa lelaki tampan yang sempat dilihatnya di wallpaper ponsel Revi saat itu datang pula ke tempat acara malam ini. Sungguh, ternyata cantik saja tak cukup membuat seorang lelaki jadi setia. Begitu pikir Nilam.


"Mbak Revi, mau air mineral?" tanya Nilam hati-hati sambil menyodorkan air mineral kepada Revi yang menerimanya dengan kasar.


Revi duduk dengan kesal, wajahnya tertekuk. Tentu saja! Nilam bisa merasakan sakitnya dikhianati suami sendiri. Sungguh tega perempuan yang sudah merebut suami atasannya yang cantik jelita itu.


"Kamu tahu gak, gadis kampung yang sekarang jadi istri kedua Gara itu gak ada apa-apanya dibanding aku!"


"Gara itu ..."


"Nama suamiku!" potong Revi cepat.


Revi menoleh, kemudian menggeleng. "Kamu bawa rokokku?" tanya Revi. Nilam mengangguk lalu mengeluarkan satu kotak rokok dengan brand ternama rasa mentol dan menyerahkannya kepada Revi.


Mereka sedang duduk di luar ballroom. Revi menyesap rokok itu perlahan lalu menghembuskan asapnya.


"Menurutmu, aku salah gak mau fokus ke karir dulu?"


"Tidak salah aku rasa, Mbak. "


"Ya, kan aku mau fokus ke karir dulu, bukan berarti aku gak mau kasih anak ke Gara. Dia gak mau nunggu. "


"Memangnya tidak pernah dibicarakan, Mbak?" tanya Nilam semakin tertarik.


"Udah, awalnya lima tahun menunggu, Gara oke oke aja. Terus aku tambah lagi jadi tiga tahun, Gara mulai ngamuk. Ibu mertuaku jadi sumbu kompornya, manas-manasin Gara biar ceraikan aku karena menolak sementara kasih anak."


Kali ini, Nilam menelan salivanya susah payah. Ya kalau begitu, kesalahan tentu saja ada di atasannya. Dia jadi garuk kepala, mau membenarkan tapi itu tak benar, mau menyalahkan itu juga tak mungkin. Bisa-bisa dia dipecat hari itu juga.


"Semoga Mbak bisa bersatu lagi sama suami Mbak."


"Mustahil, selama babu itu masih ada!"


"Babu, Mbak?"


"Ya, dia babu ibu mertuaku, terus menggoda suamiku dan akhirnya berhasil merebut suamiku. Ya kucing dikasih ikan asin, pasti ditangkap."


Semua fitnah itu tak langsung ditelan mentah-mentah oleh Nilam. Walau dia gadis desa tapi dia juga tak mudah percaya begitu saja. Namun, demi menghormati atasannya, dia tetap menimpali sekedarnya walau tidak membela atau menyalahkan.


"Kita pulang saja, pusing kepala aku jadinya. Hilang semangat juga mau gabung sama yang lain."


Nilam mengangguk lantas segera keluar bersama Revi dari area sekitar ballroom. Dia tidak mau ikut campur urusan Revi, dia hanya asisten yang membawakan alat-alat artisnya tapi tak punya keinginan untuk ikut campur urusan Revi terlalu dalam. Cukup lah jadi pendengar karena sekarang saja dia merasa ada yang janggal. Revi berkata seolah dirinya benar seratus persen padahal Nilam tak begitu yakin, walau dia membenci perselingkuhan, tapi dia belum tahu kisah yang sebenarnya.


Nilam lebih suka berbalas pesan dengan Bening, besok Bening bilang dia tidak ada mata kuliah jadi Bening mengundang Nilam ke rumahnya. Nilam tentu penasaran, sahabatnya kok jadi berubah semakin bersahaja. Kan kalau Bening punya akses buat dia dapat sugardady, dia juga mau. Maksudnya begitu.


"Biarin dah jadi simpanan orang kaya, yang penting hidup terjamin kayak Bening," gumam Nilam berbunga-bunga.