
Masih pagi sekali, matahari pun belumlah terlalu tinggi. Di dalam sebuah klinik persalinan dengan seorang bidan dan beberapa asistennya, Bening sedang berjuang. Beberapa kali rasanya hampir hilang kesadaran. Gara tetap berusaha kuat juga menguatkan.
Cicit burung di luar sana, yang hinggap di ranting pohon menemani Bening berjuang pagi ini. Ibu masuk, membantu Bening untuk memberi kekuatan agar kuat pula puterinya. Gara tak hentinya membisikkan kalimat-kalimat penyemangat bagi istrinya yang sedang berjuang itu.
"Sedikit lagi, Dek Bening." Bu bidan dengan kerudung putih itu ikut menyemangati.
Bening menatap sekeliling, genggaman jemarinya menguat. Kala mata bertatapan dengan ibu, saat airmata mengalir begitu saja mengingat perjuangan ibu melahirkannya dahulu. Oh, Bening memang bukan kali pertama melahirkan, tapi tetap saja, setiap kali terkenang perjuangan melahirkan seorang ibu, hatinya meleleh begitu saja.
"Berjuang, Nak, ayo ada Ibu di sini."
Betul, jika kemarin di Jakarta ia bisa melahirkan tanpa kehadiran ibunya, bukankah sekarang Tuhan sedang menitipkan rasa nikmat di sela rasa sakit itu karena ada ibu yang menemaninya saat ini?
"Bening pikir akan lebih mudah, Bu. Ternyata lebih sakit," desis Bening dengan lelehan airmata yang membuat Gara terenyuh melihatnya.
Gara mengusap kening istrinya dengan lembut, memberi sentuhan dan kecupan menenangkan di sana. Kemudian ditatapnya mata sang istri yang tengah terengah-engah setelah mengejan kesekian kali dengan bayi mereka yang belum juga keluar.
Gara juga mengusap perut istrinya, mencoba memberi pengertian kepada anak keduanya agar memudahkan proses kelahirannya sendiri saat ini.
"Marilah, Puteriku tercinta, kami sudah rindu sekali untuk bertemu denganmu."
Bening tersenyum kecil di sela helaan nafasnya yang berat. Ibu mengelap keringat yang jatuh bercucuran. Dan pagi itu, ketika usaha mengejan kesekian itu membuahkan hasil, terdengarlah lengkingan suara bayi perempuan tepat ketika mentari sedang naik dan meninggi, masuk lewat celah jendela kamar persalinan, melingkupi Gara yang sedang terharu dan menangis memeluk puteri dan istrinya. Sinarnya membuat semua yang di dalam sana merasakan hal yang sama, sebuah pemandangan yang begitu indah, dari dua manusia yang saling mencintai dan satu manusia baru.
"Mentari, namanya Mentari, Bu bidan." Gara menyerahkan puterinya kepada bidan itu lagi untuk dibersihkan setelah refleks menyebut nama puterinya begitu saja ketika melihat mentari melingkupi mereka pagi ini.
Bayi berkulit putih itu mulai dibersihkan oleh asisten bidan. Bening dan keluarga masih larut dalam haru yang rasanya tak pernah berkesudahan. Bapak mengangkat tangannya seraya menunduk dan mensyukuri atas nikmat yang Tuhan beri hari ini dengan kehadiran manusia baru di antara mereka.
Tak lama berselang, Dewi pun masuk, memberi ucapan selamat juga pelukan hangat bagi kakaknya yang sudah selesai berjuang di ranjang persalinan. Bersyukurlah di kelahiran kedua ini, tak ada tindakan episiotomi karena Bening bisa mengejan dengan baik meski dalam waktu yang juga cukup lama.
"Cantik sekali, seperti Bening," ujar ibu tersenyum saat melihat cucunya sudah selesai dibersihkan tetapi masih dalam perawatan asisten bidan.
"Oh iya, Nak Gara, apa kedua orangtuamu sudah dihubungi?" tanya bapak kepada Gara yang tiba-tiba jadi tersentak.
"Gara sampai lupa, Pak. Ya Allah, sangking fokusnya dengan kelahiran Mentari." Gara segera menjauh sedikit dari ruangan itu. Ia mulai menghubungi ibunya.
"Ma, Mentari sudah lahir."
"Apa, Gara? Mentari siapa ... Eh, cucuku sudah lahir begitu?" pekik nyonya besar di ujung telepon. Gara tersenyum mendengar ibunya yang baru sadar itu. "Ya ampun, pantas Mama deg-degan dari tadi. Ya sudah, Mama dan papa segera ke sana."
"Iya, Ma, hati-hati ya." Gara menyudahi sambungan telepon.
Iya bisa membayangkan bagaimana heboh dan bahagianya nanti kedua orangtuanya itu. Gara juga sudah mengabari bawahannya di perusahaan bahwa mungkin dia akan sedikit lebih lama lagi berada di desa istrinya. Anaknya sudah lahir dan kabar itu sudah menyebar ke seluruh penjuru perusahaannya.
"Apa, namanya hanya Mentari saja, Nak Gara?" tanya bapak penasaran.
Gara menoleh ke arah Bening yang saat ini sedang terpejam, pasti lelah istrinya itu. Gara mengangguk.
"Iya, Pak, Mentari, memang singkat, tapi punya makna yang dalam. Semesta pun tahu makna nama puteriku itu."
Bapak menepuk-nepuk pundak menantunya, ia tersenyum dan Gara membalasnya dengan hal yang sama. Mereka kini tinggal menunggu kedatangan kedua orangtua Gara yang akan sampai dalam beberapa jam ke depan. Sungguh, sepertinya Gara tidak ingin Bening melahirkan lagi, ia merasa cukup dengan dua anak. Sudah lengkap. Ia tak tega melihat Bening terus-terusan berjuang di ranjang persalinan meski ia tahu, Bening tak pernah bosan mengulang rasa sakit untuk tujuan mulia ini.