Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Revi Siuman dan Kejujuran Gara


Kedatangan Bening dan Gara ke dokter kandungan juga nanti sekalian untuk melihat Revi. Sekarang keduanya sudah berada di dalam ruangan dokter kandungan. Bening sedang berbaring di atas ranjang pemeriksaan dengan perut yang sudah ditempeli alat milik dokter. Dokter itu tersenyum.


"Kandungannya sudah masuk usia tiga minggu. Jangan banyak bergerak dulu ya, mengingat usia kandungannya masih sangat muda. Nona Bening juga tergolong ke dalam kehamilan dengan ibu usia sangat muda, lebih rentan mengalami masalah. Tapi bukan berarti tidak boleh melakukan apapun juga. Hanya sedikit dibatasi."


Bening tersenyum lalu turun dari ranjang dibantu asisten dokter. Ia duduk di samping Gara yang sudah tersenyum melihatnya. Gara juga mengelus perutnya. Setelah mendapat penjelasan singkat dari dokter akhirnya Gara dan Bening keluar dari ruangan itu.


Gara tak hentinya menebar senyum, bahagia sekali rasanya ketika menyadari bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.


***


Gara dan Bening memang sedang merasakan kebahagiaan sekarang karena Bening yang sudah mengandung. Keluarga besar tuan Wibowo juga sangat berbahagia. Namun, saat ini Revi juga tak luput tetap jadi perhatian mereka. Bening bergantian dengan Gara menjaga Revi di rumah sakit.


Beberapa hari dirawat dan sempat koma, akhirnya Revi sadar. Ketika dia membuka mata, yang dilihatnya adalah sebuah cahaya lampu. Pupil matanya bereaksi dengan langsung mengecil dan menyipit.


"Nona Revi." Perawat segera mendekat.


"Aku dimana?" tanya Revi dengan raut kebingungan.


"Nona di rumah sakit, sudah tidak sadar hampir beberapa hari."


"Mana suamiku?" tanya Revi cepat. Perawat segera menenangkannya. Mereka segera menelepon Gara yang kebetulan memang sedang berada di rumah sakit yang sama.


"Revi sadar, ayo kita ke sana."


Bening segera mengangguk, ia mengikuti langkah Gara menuju ruang perawatan Revi. Sesampainya di dalam, Revi membuang muka, melihat Bening ada bersama Gara.


"Kenapa kau selalu membawanya di depanku?!" tanya Revi dengan nada kesal. Perawat yang masih berada di dalam ruangan hanya bisa menggeleng. Padahal pasien itu baru saja sadar, tetapi kemampuannya untuk memaki masih sangat hebat.


"Bening menunggu di luar saja, Mas Gara, Mbak Revi."


"Sejak kapan aku jadi Mbakmu. Lagipula kau tidak berhak memanggilku begitu! Ingat ya, kau itu hanya babu yang kebetulan rahimnya sudah dibeli oleh suamiku!"


"Jaga ucapanmu, Sela! Kau ini, dalam keadaan lemah begini pun masih saja punya tenaga untuk memaki Bening. Dan harus kau tahu, aku lah yang meminta Bening untuk mengganti panggilan untukmu! Jangan membantah karena itu sudah perintah dariku!" ujar Gara tegas.


Revi diam saja. Ia melihat Bening sudah keluar dari kamar perawatannya.


"Kenapa kamu membiarkan aku hidup?" tanya Revi dengan suara bergetar.


"Bukan aku, managermu yang membawamu ke rumah sakit dan kau selamat," ujar Gara apa adanya.


"Jadi maksudmu, kamu sendiri tak berharap aku masih hidup?"


"Gara, aku ini tersiksa! Aku tersiksa karena kamu menikahi perempuan lain. Kamu gak ngerti?" tanya Revi dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sudah nyaman dengan adanya Bening. Bahkan sekarang kebahagiaanku bertambah, Bening sudah hamil."


Revi menoleh, menatap Gara dengan pandangan terluka.


"Fokuslah pada kesembuhanmu, Sela, agar kau bisa kembali dengan pekerjaanmu. Masih banyak kontrak pemotretan dan syuting yang harus kau selesaikan. Bahkan kalau kau mau menambah masa kontrak menjadi lima puluh tahun lagi juga sekarang bukan masalah bagiku."


"Gara ...." Revi menghentikan kalimatnya.


"Katakan apa yang ingin kau katakan."


"Kau sudah jatuh cinta kepadanya?" tanya Revi dengan suara bergetar.


Gara diam untuk sesaat. Namun, kemudian dengan mantap dia mengangguk.


"Ya, aku sudah jatuh cinta kepada Bening. Apalagi setelah dia hamil, aku jatuh cinta sedalam-dalamnya."


Airmata Revi merembes begitu saja. Sakit sekali rasanya.


"Kalau kau tak kuat dimadu, mari kita berpisah." Gara berkata dengan tenang, sukses membuat Revi menoleh.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mau berpisah denganmu."


"Kalau begitu, terima saja takdir ini. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Selama ini aku selalu mengekang dan melarangmu, bukan? Sekarang kau sudah bebas, kau bebas pergi kemana saja, pemotretan dengan fotografer mana saja, bahkan bebas berciuman dengan mereka."


Revi menoleh lagi, dia tersentak. Gara tahu jika selama ini dia sering memberi sentuhan nakal pada fotografer yang sering memotretnya? Walau hanya sebuah ciuman? Tapi ia tahu itu sebuah kesalahan fatal.


"Gara ... Aku ..."


"Tenang saja, Sela. Cukup bodoh jika aku percaya bahwa kau tak pernah bermesraan dengan fotografer-fotografer itu. Aku hanya diam selama ini, melihat sejauh mana kau bisa mempermainkan pernikahan kita. Cukup adil pula bukan jika aku tak mengatakannya kepada mama dan papa? Kau masih ingin bilang bahwa aku jahat dan telah menyakitimu?"


Revi memandang nanar Gara yang bahkan tak mau lagi menatapnya.


"Gara, aku menerima Bening sebagai maduku, tapi tolong jangan pernah ceraikan aku."


Gara diam saja lalu keluar dari kamar itu menuju Bening yang masih dengan setia menunggu.