Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Jangan Restui Mereka!


Hening.


Diam seribu bahas ketiganya. Suasana jadi tegang. Bening semakin menunduk dalam. Ia yakin setelah ini nyonya besar akan salah paham dengan dirinya.


"Bening." Suara nyonya besar memaksa Bening untuk segera mengangkat wajahnya.


"Ya, Nyonya." Bening menyahut lirih. Saat ini, bersuara saja seperti sebuah dosa bagi gadis cantik itu. Ia takut sekali.


"Kenapa kau gugup seperti itu?" tanya nyonya besar dengan segaris senyum kecil.


"Saya merasa lancang, Nyonya." Bening tertunduk lagi. Benar, dia sedang tak enak hati. Ia takut hubungan baik yang selama ini tercipta dengan nyonya besar akan rusak begitu saja karena keputusannya menerima tawaran Gara.


"Puteraku lah yang sudah lancang." Kali ini nyonya mengalihkan pandangannya kepada Gara yang masih diam dengan santai.


"Aku dan Bening sudah membicarakannya, Ma."


"Bukan karena kau paksa?" tuding nyonya besar membuat Gara menggaruk kepalanya.


"Sedikit, Ma." Lalu ia tertawa.


Nyonya besar menggelengkan kepalanya menatap Gara.


"Apa puteraku sudah menodaimu, Bening?"


Mendengar itu, Bening kembali mengangkat wajahnya, ia cepat menggeleng. Gara sendiri hanya menatap ibunya dengan kesal.


"Dia sangat brengsek di masa mudanya dulu, Bening. Aku takut, dia sudah memaksamu melakukan hal yang tidak-tidak."


"Mama! Aku tak separah itu," protes Gara yang segera disambut tawa oleh nyonya besar.


Bening mengerutkan dahi, apa nyonya besar tidak keberatan dengan rencana Gara yang akan menikahinya?


"Baiklah, karena aku melihat kalian sangat serius dan niat kalian juga baik, maka aku ..."


"Jangan! Hentikan! Jangan berikan restu kepada mereka, Ma! Aku tidak mau Gara menikahi pembantu kurang ajar itu!" Revi tiba-tiba masuk, rupanya tak lama dari Gara dan Bening pergi, ia juga langsung tancap gas dengan mobilnya.


Gara menggelengkan kepala melihat kelakukan istrinya yang nampak kesetanan saat ini. Tak menyangka pula bahwa Revi akan menguntit dan kemudian mengacaukan rencananya.


Nyonya besar juga hanya bisa menarik nafas panjang. Ia sudah beberapa kali memperingatkan Revi untuk lebih memperhatikan puteranya, tetapi Revi tetap saja mengabaikan. Jadi, kehadiran Revi saat ini, malah semakin membuat nyonya besar yakin dengan keputusannya.


Belum juga sempat menjawab, tuan Wibowo ikut masuk. Dengan jas yang tersampir di lengannya, ia berjalan mendekati nyonya besar lalu duduk di sampingnya. Tuan besar menatap ketiga orang di depannya dengan pandangan lelah.


"Tidak, Pa! Aku janji aku janji setelah tiga tahun ke depan, aku bakal lepasin semuanya. Karir aku, popularitas aku. Aku bakal fokus kasih Papa dan Mama cucu."


Tuan Wibowo menggeleng. Dia sudah sangsi. Janji Revi seperti buah jambu yang kemarin manis dan sekarang sudah busuk.


"Nikahkan saja Gara dengan Bening. Kau bisa bersama Gara dan Bening nanti mengurus anak mereka. Dan juga kau bisa semakin fokus dengan karirmu."


"Gak mau, Pa! Gara, batalkan!"


"Cukup! Aku sudah muak dengan semua kelakukanmu itu, Sela. Keputusanku sudah bulat. Dalam waktu kurang dari satu minggu ini, aku akan membawa kedua orangtuaku untuk melamar Bening. Jangan halangi niatku atau aku tidak segan-segan untuk mengucapkan talak kepadamu. Apa kau memang menginginkan itu?! Baik aku akan segera ..."


"Gara, jangan! Jangan, Gara. Aku sangat mencintaimu. Baiklah, aku ... aku akan merestui kalian." Revi terduduk lemas di atas lantai.


Bening menutup mulutnya, ia tak tega melihat Revi hancur seperti itu. Bening segera beranjak dari kursinya, bermaksud untuk memapah Revi yang sudah lemas. Namun, Revi menatapnya berang hingga Bening menghentikan langkahnya.


"Jangan sentuh aku!"


"Biarkan, Bening. Biarkan dia menangis dengan penyesalannya sendiri."


Bening menunduk dalam, ia tidak bisa membayangkan bagaimana tercabik-cabiknya hati Revi saat ini. Sebagai perempuan, dia juga tahu rasanya. Namun, semua sudah terjadi. Bening dan Gara juga sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.


"Aku mengizinkan Gara menikah dengan dia tapi dengan satu syarat."


"Apalagi, Sela?" Gara bertanya dengan nada jengah dan malas.


Revi mengangkat wajahnya yang pias.


"Aku tidak mau, pernikahan itu diliput oleh media seperti kita dulu. Aku tidak mau orang tahu kalau dia akan menjadi maduku. Aku ingin pernikahan itu dilakukan di desanya saja."


"Mengapa kau jadi mengatur begini?!"


"Gara, biarkan Revi menjelaskan dulu kepada kita." Tuan Wibowo menenangkan puteranya yang kembali berang.


"Kau bilang pernikahan ini hanya untuk menghadirkan keturunan, bukan? Jadi bukan karena hal lain. Aku hanya ingin semua orang tahu akulah istrimu satu-satunya. Aku ingin pernikahan itu dilakukan jauh dari Jakarta."


"Kau gila?! Aku tidak akan ... "


"Tuan Gara, aku setuju dengan Nyonya muda. Biarkan seperti itu saja."


Semua orang menatap Bening. Gara akhirnya duduk lagi dengan tenang lalu menatap kedua orangtuanya. Ia butuh pendapat keduanya sekarang juga.