Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Suami Revi, Suami Bening


"Hari ini, teman Bening mau berkunjung ke sini, Mas Gara, boleh?" tanya Bening kepada Gara sambil memasang dasi untuk suaminya itu.


"Temanmu yang namanya Nilam itu?" tanya Gara.


"Iya, Mas."


Gara tampak berpikir sebentar lalu dia menyibak rambut Bening ke belakang.


"Boleh, mau keluar juga rencananya?" tanya Gara. Bening mengerjapkan matanya.


"Memang boleh, Mas Gara?" tanya Bening ragu.


"Boleh, asal nanti bilang ya mau kemana. Kalau cuma sekedar jalan ke mall, gak masalah. Lagian temanmu kan perempuan, apalagi teman dari kecil."


"Makasih ya, Mas Gara. Palingan di rumah ajalah, enakkan masak-masak di sini. Bening sudah lama tak bertemu Nilam. Kangen, dia baik sekali."


Bening tak henti memuji sahabat dari semasa orok itu. Ia juga tak menyangka, sekian lama tak bertemu, Nilam akhirnya muncul lagi sebagai apa katanya? Oh, Bening ingat, sebagai asisten artis terkenal. Entah artis yang mana, Bening juga tidak paham.


"Sayang, Mas Gara berangkat ya. Hari ini tidak akan pulang telat. Jangan lupa minum vitamin dan susu ya."


"Iya, Mas Gara, Bening ingat semua rutinitas itu."


"Good, Mas Gara sayang kamu."


Bening tersenyum, setiap kali Gara mengucapkan kalimat itu. Hampir setiap hari ia dihujani kalimat-kalimat cinta menyejukkan hati. Bagaimana Bening tak kesemsem kalau pemilik rahimnya itu begitu lembut memperlakukan dirinya. Bening sungguh tak terpaksa, dia cinta Gara meski hanya sebagai istri kedua.


Bening mengantarkan Gara sampai ke depan pintu, tak lupa suaminya mendaratkan ciuman lama di bibir dan keningnya sebelum mereka berpisah. Bening melambaikan tangan, tersenyum bahagia. Kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, sejatinya sebenarnya sudah Bening dapatkan. Bahkan lebih dari ekspektasinya selama ini. Kalau dulu, semasa Bening kecil, dia sering bermain rumah-rumahan dengan teman sebaya, dimana Bening berperan jadi ibu dan temannya yang lain jadi ayah dan anak. Sungguh, sekarang setelah dewasa Bening bisa mewujudkan impian masa kecilnya.


Lewat pukul setengah satu siang, ketika zuhur sudah lewat dengan Bening yang baru saja melipat mukenanya, ia mendengar pintu rumahnya diketuk. Bening bergegas bangun, ia sumringah menyambut kedatangan Nilam.


"Bening!" Nilam melonjak gembira, memeluk Bening erat dan terkagum-kagum melihat rumah minimalis tapi mewah itu.


"Akhirnya kau datang, Lam." Bening segera merangkul Nilam masuk ke dalam rumah.


"Ya ampun, tau gak, aku masuk tadi pakai ojek online, dimintain KTP sama satpam. Gila, perumahan orang kayak begini banget ya," gumam Nilam tak percaya.


"Lain kali kau kasih tahu saja, kau teman Bening. Pasti pak satpam langsung kasih izin masuk."


"Hehehe, maaf ya Ning, habisan aku masih gak percaya kau jadi kaya begini," ungkap Nilam jujur.


"Gak papa, kok, Lam. Yang kaya bukan aku, tapi suami."


"Hush! Kamu tuh asal ngomong deh, Lam. Aku nikah resmi sama suami. Bukannya jadi simpanan sugar sugar kata kamu itu."


"Eh, beneran??? Aku kira kamu beneran jadi simpenan papi gula gitu."


"Aduh, apa lagi papi gula, Lam? Aku nikah resmi. Waktu mau kasih undangan, kau tak ada di kontrakan. Katanya kau udah pindah. Ibumu sampai nanyai aku sewaktu aku pulang ke desa, buat menikah."


"Eh serius kau kawinan di desa kita, Ning?!" Nilam hampir memekik tak percaya. Dia menggeleng-gelengkan kepala seolah tak habis pikir dengan apa yang didengarnya saat ini.


"Iya, kau kemana memangnya Lam, aku mencarimu. Kau tak ada. "


Nilam tiba-tiba murung. Bening yang menyadari hal itu segera mengajak Nilam duduk di ruang tengah. Dia sudah menyiapkan camilan untuk mereka berdua.


"Aku sengaja ngilang, Ning. Toni itu bajingan sekali. Aku mau dijualnya sama temannya waktu dia gak punya duit buat beli narkoba. Aku kabur, sembunyi kemana-mana sampai kerja jadi tukang ngantar minuman di kafe remang-remang. Sampai aku dengar dia ketangkap polisi baru aku berani keluar dari persembunyian."


"Ya Allah, kok begitu Lam. Tapi maaf ya, Lam, feeling ku tentang Toni itu udah gak baik dari awal. Aku pengen banget ajak kau pergi dari kontrakan itu kemarin tapi aku lihat kau betah sekali di sana,juga gak mau bikin kau benci sama aku kalau maksa buat pergi."


"Ya, Ning, salahku gak dengar kata-katamu. Tapi sudahlah, sekarang aku udah bebas. Sudah punya kerjaan juga."


"Eh iya, kau bilang kau asisten artis terkenal kan?"


"Iya, Ning. Atasanku artis beken, dia cantik banget sayang kisah cintanya tragis."


"Aku turut sedih mendengarnya, Lam."


Nilam mengangguk sesaat, lalu wajahnya terangkat, pandangannya berkeliling. Tiba saat matanya menangkap satu foto dalam ukuran bingkai yang sangat besar. Foto Bening dengan gaun pengantin sedang dipeluk seorang lelaki tampan. Nilam membulatkan matanya, itu bukannya lelaki dalam wallpaper ponsel atasannya?


Nilam sesak nafas, menunjuk foto pernikahan Bening yang terpampang manis seolah menertawakan dirinya.


"Ning, aku gak salah lihat kan? Itu suamimu??" tanya Nilam hampir kehilangan kesadaran.


"Ya .... Itulah suamiku, Lam."


"Namanya Ning, namanya siapa?" tanya Nilam semakin kehabisan oksigen.


"Mas Gara, Anggara Dewa."


Nilam geleng-geleng kepala, kepalanya berputar-putar. Jadi suami Revi adalah suami Bening? Sungguh, dunia benar tak selebar daun kelor.