
Menyenangkan sekaligus menggelikan melihat wajah Syifa yang tetap berusaha tersenyum angkuh di depan Bening beberapa waktu yang lalu. Menyenangkan sebab Gara jadi sering tertawa sendiri setiap ingat Bening yang polos menjawab pertanyaan-pertanyaan Syifa yang berujung perempuan itu jadi terdiam sendiri. Menggelikannya karena beberapa kali Syifa terlihat menunjukkan keseksiannya secara sengaja di depan Gara, entah itu menyilang kakinya yang berhias rok pendek, atau mengikat rambutnya agar dadanya tampak membusung, mungkin ia ingin Gara jadi membandingkan di antara dirinya dan Bening. Gerakan itu seolah-olah dibuatnya tanpa sengaja tetapi tentu Gara tak sebodoh itu.
Setibanya di dalam mobil saat mereka akan pulang, Bening hanya bisa geleng-geleng kepala mengingat kelakuan Syifa. Dia saja sebagai perempuan jadi berpikir keras mengapa Syifa bisa ngotot dan terobsesi sekali kepada Gara.
"Perempuan yang tengah jatuh cinta berat itu ternyata mengerikan ya, Mas." Bening terkekeh.
"Ya, tapi tak semua kok, Sayang. Ada orang-orang yang membawa dirinya dengan elegan, bahkan lebih baik menyimpan perasaan daripada menunjukkannya dengan terang-terangan. Tapi kalau perempuan tadi, memang sepertinya sudah tak tahu malu lagi."
"Mungkin Mas mirip dengan mantannya." Lagi, Bening terkekeh.
"Dia saja yang seperti ulat bulu. Tipikal gatal begitu, mudah didapatkan, mudah juga dibuang lelaki."
Bening tersenyum. Suaminya memang orang yang masa bodoh, setahu Bening, sedari dulu sebelum mereka menikah, Gara memang tidak begitu peduli dengan perempuan lain. Dia masih ingat bagaimana Gara sangat perhatian kepada Revi, sayang saja, perempuan itu menyia-nyiakan lelaki sesetia Gara hingga akhirnya Gara menemukan Bening dalam rasa yang sempat tersesat karena Revi dulu.
"Ya sudah, kita mau langsung pulang atau kau mau singgah di supermarket dulu, Sayang?" tanya Gara kepada Bening yang tampak berpikir.
"Ke supermarket ya, Mas. Bahan mpasi Mentari sudah mau habis."
"Baik, Sayang. Meluncur!"
Bening tersenyum, duduk tenang di samping Gara yang menyetir dengan santai pula. Setibanya di supermarket, tak sengaja bertemu dengan mbak Yuki. Bening berbincang dengan perempuan itu setelah memeluknya.
"Sehat kau, Bening, semakin cantik dan segar." Mbak Yuki menatap Bening dengan senyuman khasnya.
"Alhamdulillah, Mbak. Sudah punya dua anak, kebahagiaan pun terasa setiap hari."
"Ya ampun, sudah dua anak kalian rupanya." Mbak Yuki memekik. Bening tertawa mendengarnya. Sembari mendorong troli, mereka berbincang.
"Oh iya, Mbak, kabar Nilam bagaimana, sudah lama aku tak bertemu dia. Terakhir aku melihatnya main film layar lebar besutan sutradara terkenal."
"Nilam baik, Ning, memang jadwalnya padat sekali sekarang. Banyak tawaran main sinetron, layar lebar bahkan jadi bintang tamu di beberapa reality show."
"Pantas, Mbak. Aku turut senang. Aku pulang ke desa waktu itu, dan melihat rumahnya di kampung sudah direnovasi dan besar sekali."
"Ya, Ning, dia betulan laris sebagai aktris sekarang. Kau mau lihat dia sekarang? Aku punya fotonya."
"Wah, cantik sekali sahabatku, Mbak Yuki."
Yuki mengangguk, tapi kemudian wajahnya nampak murung.
"Tapi ku dengar, Nilam mau berhenti dari dunia entertainment, Ning. Oleh karena calon suaminya yang pengusaha itu ingin dia jadi ibu rumah tangga saja."
Bening diam, hampir persis seperti kisah Gara dan Revi dulu.
"Aku merasa calon suaminya tak sebaik yang dia pikir, Ning. Tapi aku pun tak bisa menahan jika dia betulan mau berhenti."
"Aku turut bahagia, Mbak, jika Nilam akan menikah. Dan semoga ada keputusan terbaik baginya," kata Bening.
"Ya, semoga saja kalaupun dia jadi berhenti total dari dunia entertainment yang membesarkan namanya, semoga calon suaminya sebaik Gara."
Bening mengangguk, akhirnya mereka berpisah karena harus membayar barang belanjaan masing-masing. Bening juga pasti selalu mendoakan kebaikan bagi Nilam.
Di tempat lain tepatnya di dalam apartemen Syifa, perempuan itu nampak kesal setengah mati. Tas tangannya ia banting hingga menghantam lantai. Maya cuma geleng-geleng. Dia sudah tak tahan, kalau begini, akan ada banyak proyek yang gagal karena ulah anak atasannya ini.
"Maaf, Pak, saya tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi. Mood nona Syifa sedang tak baik, semua pertemuan dengan perusahaan lain dia batalkan. Saya sampai tak enak dan sempat dimaki-maki oleh pimpinan perusahaan lain."
"Saya juga heran, May, itu bagaimana ceritanya Syifa bisa membuat perusahaan lain membatalkan kerjasama dengan kita. Dulu di Surabaya dia tidak seperti itu. Kerjanya bagus."
"Anak Bapak tidak profesional, kembalikan saja ke tempat asalnya, Pak. Saya lebih baik jadi asisten Bapak saja!"
Suara di seberang telepon terdengar berat lalu sambungan telepon itu mati. Maya geleng-geleng kepala melihat Syifa sedang melihat potret Gara di media sosialnya. Syifa sangat kekanakan, mana bisa jadi pemimpin kalau begini? Tinggal lah Maya pusing mengurus anak atasannya itu.
Bersambung
***
Gengs, aku bakal bikin cerita Nilam di novel baru mulai bulan depan ya tanggal 1 Juni. Ceritanya pasti menarik juga. Jangan lupa nanti kalian mampir ya kalau sudah up ceritanya. Terima kasih, gengs.