Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Satu Hotel!


Revi baru saja menyelesaikan pemotretan dengan seorang model pria tampan asal Paris. Mereka mempromosikan sebuah brand pakaian ternama dengan berpose seksi.


Selesai melakukan pemotretan, Revi kembali mengenakan pakaiannya semula. Ia sebenarnya kesulitan membawa barang karena tak ada Nilam, sang jongos yang tidak mau membantunya mencelakai Bening.


Apalagi, Yuki baru bisa datang ke Paris besok. Revi menyesap wine, bersama model pria itu dia bersulang. Lelaki itu melihat Revi dengan tatapan lapar. Sebagai seorang model dan artis terkenal, banyak di antara bagian tubuh Revi yang sudah ditambah termasuk ukuran dada yang jadi lebih besar dari biasanya.


"Kau sangat cantik," puji model pria itu dalam aksen inggris yang begitu kental. Revi tersenyum lalu balas menatap pria asing itu dengan tatapan nakal.


"Terimakasih, kau juga tampan,"


"Apa aku boleh berkunjung ke hotel tempat kau menginap?" tanya lelaki itu lagi.


Revi memandangnya dengan pandangan menggoda lalu dia mengangguk.


"Tentu, aku akan menunggumu."


Lelaki itu tersenyum smirk dan kemudian pamit untuk pulang lebih dulu setelah mendapatkan alamat Revi menginap selama di Paris.


Revi sendiri kemudian pulang, menggunakan taksi dia menuju hotel tempatnya menginap. Tubuh seksinya terekspos begitu saja.


Ketika sedang melewati meja resepsionist, ia melihat Gara! Revi tersentak, bagaimana mungkin mereka bisa berada dalam satu hotel yang sama? Oh, Gara pasti ada pertemuan bisnis di Paris.


Revi segera bersembunyi di balik salah satu pilar yang ada di dalam lobby hotel terkenal itu. Setelah Gara menghilang dari balik lorong, ia segera menghampiri resepsionist.


"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya resepsionist itu.


"Apa lelaki tadi sudah mendapatkan kunci kamarnya?" tanya Revi.


"Ya, Tuan Anggara sudah mendapatkan kunci kamarnya."


"Oh, sayang sekali, dia pasti mengira bahwa aku tidak jadi datang hingga akhirnya menyewa kamar sendiri. Aku istrinya, dan berniat memberikan kejutan untuknya nanti malam. Apa kau bisa memberiku kartu cadangan agar aku bisa memberi kejutan itu nanti malam untuknya?" tanya Revi dengan wajah penuh harap.


"Tapi ..."


"Lihatlah, kami suami istri." Revi menunjukkan fotonya dan Gara, foto ketika mereka sedang bermesraan dahulu dan foto mereka ketika menikah.


Akhirnya, petugas resepsionist itu mengangguk. Ia segera memberikan kartu passcode yang sama dengan kamar Gara.


Revi tersenyum senang, tidak menyangka dewa Fortuna akan berpihak kepadanya hari ini. Ia akan memanfaatkan waktu dan tempat yang mendukung rencananya hari ini.


Revi masuk ke dalam kamarnya, merasakan euforia bahagia dan membayangkan akan berada di ranjang yang sama dengan Gara nanti malam, tanpa Bening!


"Akhirnya, Gara akan kembali kepadaku lagi!" Revi berbisik licik.


Ia melepaskan blazer yang menunjukkan tubuh indahnya. Pas pula, Yuki mengatakan baru bisa datang ke Paris dua hari lagi karena masih ada urusan keluarga. Padahal harusnya, Yuki sudah tiba di Paris hari ini.


Sementara di dalam kamarnya, Gara sedang menghempaskan tubuhnya. Rasanya lain sekali, tak ada Bening di sisinya saat ini. Ia juga harus menghadiri acara di club malam bersama para rekan bisnisnya. Tak datang rasanya tak enak.


Ketika Gara lelap, ia tak sadar Revi masuk diam-diam ke dalam kamar itu. Revi memandang Gara dengan hasrat yang sudah menggebu tapi bunyi ponsel membuatnya menghentikan diri sesaat. Ia melihat Gara yang tak bergeming, lelaki itu masih tidur. Ia melihat pesan yang baru saja dikirim oleh temannya yang mengatakan bahwa Gara tak boleh tak datang malam kelak ke club malam yang sudah mereka janjikan.


Revi tersenyum licik, sepertinya ia punya rencana yang lebih bagus lagi, jadi ia menahan diri untuk saat ini kembali ke luar lagi dari kamar Gara. Seakan tak ada yang terjadi, ketika terbangun, Gara meraih ponsel, melihat banyak sekali pesan yang masuk, termasuk dari temannya.


Gara kemudian menelepon Bening melalui sambungan panggilan video. Lelaki itu tersenyum sumringah melihat Bening sedang cantik-cantiknya.


"Sayang, kau sudah sedang bersama mama?" tanya Gara penuh perhatian.


"Ya, Mas Gara, mama sedang ke dapur mengambil buah."


Gara mengangguk-angguk. Ia menguap beberapa kali.


"Mas Gara istirahat saja ya,"


"Sebentar lagi ada acara bersama teman-teman bisnisku, Sayang."


"Ehmmmm, Mas Gara akan pergi?"


"Ya, tak enak tak hadir. Mas Gara akan ke club malam, boleh?" tanya Gara.


Bening nampak berpikir, ia tak mungkin akan melarangnya karena Gara pasti nanti tak enak bila menolak ajakan teman-teman bisnisnya.


"Pergilah, Mas Gara. Asal ingat waktu dan jangan mabuk ya."


Gara mengangguk kemudian memberikan ciuman jarak jauh untuk Bening. Setelah itu mereka melanjutkan perbincangan dengan Gara yang membuka pintu balkon kamar hotelnya. Setelah puas berbincang dan menuntaskan rindu walau hanya lewat sambungan ponsel, Gara mematikannya.


Sebenarnya Gara malas sekali untuk mengunjungi club malam, tapi demi menghargai teman bisnisnya, dia akan datang walau hanya sebentar. Sementara berselang beberapa pintu dari kamarnya, Revi sendiri telah bersiap, ia akan memanfaatkan moment itu untuk kembali meraih Gara.