Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Sudah Satu Bulan


"Sayang, sepertinya hari ini, Mas Gara ada meeting penting dengan perusahaan asing yang kemarin baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan. Jadi sepertinya, Mas Gara tidak bisa menemanimu pergi ke dokter kandungan atau kalau kau mau kita bisa mengganti jadwal pemeriksaannya dengan jam malam. Bagaimana?" ujar Gara pagi itu itu sebelum dia pergi mengantar Bening ke rumah kedua orang tuanya karena memang janjinya hari ini Bening akan membawa Abi untuk bermain ke rumah ibu mertuanya.


"Kalau begitu, biar Bening dan mama saja yang pergi, Mas Gara. Jadi Mas Gara tidak perlu buru-buru. Bening juga tahu dari papa kalau sekarang Mas Gara memang sedang sibuk-sibuknya di perusahaan. Jadi tidak apa-apa, Mas Gara fokus saja dengan pekerjaan dan Bening akan bersama mama pergi ke dokter kandungan hari ini."


Gaara tersenyum mendengar jawaban dan penuturan dari istrinya itu. Ia kemudian mengecup kening Bening dengan penuh kasih sayang. Istrinya memang pengertian, tak pernah menuntut ini dan itu, padahal akhir-akhir ini memang waktu Gara lebih banyak di perusahaan dibanding menemani Bening.


"Kau memang istri Mas Gara yang paling penurut dan juga paling pengertian. Terima kasih ya, Sayang, kalau begitu Bening pergi bersama mama saja ya, biar nanti Abi dititipkan ke pelayan di rumah mama."


"iya, Mas, nanti Bening dan mama akan pergi ke dokter kandungan. Lagi pula biasanya kalau pergi ke rumah mama, kita memang tidak bisa berdiam di rumah saja. Pasti mama akan bawa Bening pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan, jadi sekalian saja nanti kami akan langsung pergi ke dokter kandungan. Mas tidak usah khawatir." sahut Bening dengan sumringah.


Gara kemudian mengangguk setuju walaupun sebenarnya dia ingin sekali pergi bersama Bening untuk memeriksakan kandungan istrinya itu, karena ia ingin juga melihat keadaan anaknya di dalam perut istrinya saat ini, tetapi karena kesibukan di kantor yang benar-benar menguras waktu, akhirnya Gara setuju kalau Bening pergi bersama ibunya saja untuk memeriksa kandungan.


"Baiklah, Sayang, kalau begitu kita berangkat sekarang. Mas akan mengantarkanmu ke rumah mama baru Mas Gara pergi ke perusahaan."


"Bening bisa menyetir sendiri jika Mas Gara sudah diburu waktu,"


Gara menggeleng. "Biarkan Mas Gara yang antar kau dan anak kita."


Bening tersenyum lalu mengangguk juga. Bersama Abi ketiganya kemudian pergi keluar rumah setelah sebelumnya mereka mengunci pintu karena tidak ada orang sama sekali di rumah itu. Hari ini juga kebetulan Bening tidak ada perkuliahan karena dosen juga sedang tidak bisa masuk, jadi jam perkuliahan mungkin akan diganti lain hari. Ia mempunyai waktu yang cukup senggang untuk menemani mertuanya di rumah.


Ini adalah kali pertama Bening pergi periksa kandungan bersama ibu mertuanya, karena selama ini selalu bersama Gara. Keduanya bergandengan tangan di sepanjang koridor rumah sakit menuju ke ruangan dokter kandungan yang ternyata sudah menunggu mereka, karena ibu dari Gara itu sudah menelepon dokter kandungan bahwa nantinya akan melakukan pemeriksaan hari ini sebelumnya.


"Silahkan berbaring dulu, kita periksa kandungannya ya," ujar dokter kandungan itu dengan Bening yang menurut sesuai intruksi dari dokter kandungan, kemudian ia melihat dokter mulai memeriksa perutnya dengan menggerak-gerakkan alat pemeriksa kehamilan yang telah diolesi oleh gel.


"Bagaimana, Dokter, keadaan anak saya?" tanya Bening dengan antusias begitu juga dengan nyonya besar yang sedari tadi matanya tidak lepas dari monitor.


"Usianya sudah satu bulan satu minggu. Semuanya sehat, normal. Apa Nona Bening merasakan gejala-gejala seperti mual atau kelelahan akhir-akhir ini?" tanya dokter sembari membantu Bening beranjak dari ranjang penyiksaan dan duduk di depannya itu. Kemudian mulai menuliskan resep vitamin untuk menguatkan kandungan Bening.


"Kehamilan kedua ini sepertinya sama seperti kehamilan pertama Bening, Dokter, tidak ada mual sama sekali tetapi memang agak sedikit kelelahan."


"Tdak apa-apa, wajar di trimester pertama kehamilan memang seperti itu. Tapi nanti kondisi tubuh pasti menyesuaikan. Ini saya resepkan vitamin seperti kemarin untuk memperkuat kandungan juga membuat Nona Bening tidak terlalu merasa kecapean. Juga jangan terlalu diforsir karena kan memang sedang kuliah ya saat ini? Jadi kalau bisa, selesai kuliah jangan pergi kemana-mana, harus istirahat." Dokter kandungan menyahut dengan penuh kelembutan.


"Tenang saja, kalau menantu saya yang satu ini anaknya tidak neko-neko. Dia tidak pernah nongkrong tidak jelas seperti anak muda lainnya. Dia benar-benar kebanggaan kami, sepulang dari kuliah fokus di rumah. Istirahat ya, Bening. Ingat kata Dokter," timpal nyonya besar. Bening dan dokter itu tertawa kecil mendengarnya.


Bening dan nyonya juga besar akhirnya keluar dari ruangan dokter. Mereka berbinar-binar keluar dari ruangan itu sebab mengetahui usia kandungan penuh ternyata sudah satu bulan lebih. Bening akan benar-benar menjaga kandungannya seperti kemarin dia menjaga Abi ketika masih dalam perut. Walaupun Bening sering kelelahan di kehamilan kedua ini, tapi tidak apa-apa, dia akan tetap berusaha untuk berpikiran positif dan tidak pernah mengeluh tentang kehamilannya karena dia tidak ingin membebani Gara juga yang sudah lelah di perusahaan dan harus juga memikirkan dia yang sedang hamil. Ia ingin ketika Gara pulang, lelaki itu merasa disambut dengan suka cita oleh suaminya. Biasanya ketika mereka akan tidur, barulah Bening menceritakan keluhan-keluhan kecil yang ia rasakan, agar Gara bisa lebih tenang mendengarnya di saat Gara memang sudah beristirahat bersamanya.