Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Bening Mau Kuliah?


"Mas Gara sudah rapi, sudah tampan. Hati-hati di jalan ya. Nanti jangan lupa istirahat ya di perusahaan." Bening merapikan kemeja Gara seraya memasangkan dasi. Pagi itu, mereka bangun dalam keadaan lebih segar, meski semalaman Gara pusing karena harus menuruti kemauan Revi, mengantarkannya berbelanja hingga berkumpul bersama teman-teman hedonisnya.


Revi bahkan mengajak Gara untuk pergi ke club malam, untungnya Gara tidak mabuk. Gara tahu, Revi sengaja menyita waktunya agar dia sendiri tak punya waktu untuk Bening. Namun, Gara tak sebodoh itu. Ketika Revi sudah tertidur pulas karena lelah sehabis mabuk, Gara bergegas menyusul Bening ke rumah mama. Meski Bening kerap melarang Gara, membiarkan suaminya itu untuk tetap menemani nyonya muda, tapi Gara tak tega, meninggalkan Bening untuk waktu yang lama akan membuat Gara jadi nelangsa.


"Bening Sayang, nanti mau Mas belikan apa? Selama kita menikah kurang lebih tiga minggu ini, kau tak pernah minta dibelikan ini itu. Mas kan bingung harus membelikanmu apa setiap pulang dari perusahaan." Gara menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Bening. Bening hanya menggeleng.


"Tidak ada, Mas Gara. Dengan Mas kembali dalam keadaan selamat saja, sudah merupakan hadiah bagi Bening."


Gara tersenyum, entah mengapa, meski Bening masih sangat muda, bahkan rentang usia mereka berjarak kurang lebih sepuluh tahun, tapi Bening sangat dewasa menyikapi segala hal. Sikapnya yang tenang dan mampu mengontrol amarah membuat Gara kagum.


"Baiklah, Mas Gara akan pergi bekerja ya. Kau jangan terlalu banyak bergerak. Beristirahatlah, jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah."


Bening hanya mengangguk. Ia memang tidak bisa jika hanya berdiam diri. Bening suka memasak, suka berkebun dan suka berkegiatan. Siang itu, dia dan nyonya besar berada di dalam ruangan pribadi mertuanya itu. Mereka sedang membahas novel luar negeri.


"Bening, apa sudah ada tanda-tanda?" tanya nyonya besar ketika Bening sedang memijat mertuanya itu seperti dulu.


"Tanda-tanda apa ya, Ma?"


"Kau sudah telat haid belum?" Mama bertanya lagi.


Bening mengingat-ingat.


"Ehmmmm ... Sudah, tapi baru dua hari. Tidak apa-apa, Ma, nanti akan dapat juga."


Nyonya besar seketika menoleh dengan antusias. Menantunya yang satu ini sikapnya memang dewasa tetapi juga amat polos.


"Mama berharap kau telat selama sembilan bulan, Bening."


"Ehmmmm ... " Bening menghentikan kalimatnya kala menyadari sesuatu.


Nyonya besar dan Bening saling bertatapan.


"Kalau begitu, kita tunggu sampai genap satu minggu."


Bening akhirnya mengangguk. Nyonya besar bisa merasakan kebahagiaan akan menimang cucu sebentar lagi. feeling-nya kuat sekali bahwa Bening pasti sudah hamil. Puteranya memang top cer! Sayang selama ini hanya salah lobang.


"Apa kita cek saja sekarang ya?" Nyonya besar kembali bertatapan dengan Bening.


"Jangan dulu ya, Ma. Lebih baik tunggu sampai genap satu minggu karena biasanya datang bulannya suka terlambat memang dari tanggal ini."


"Oke, baiklah. Mama sangat bersemangat, Bening. Semoga kau betulan sudah hamil ya."


Wajah mertuanya berbinar-binar bahagia. Bening ikut bahagia melihatnya. Bening juga mulai membayangkan, jika benar dia telah hamil, dia akan segera menjadi ibu di usia yang sangat muda itu. Tapi kemudian, senyum Bening tampak menghilang perlahan. Bukankah berdasarkan perjanjian, Bening akan meraih kebebasannya kembali setelah anaknya lahir? Anak yang rencananya akan diasuh oleh Gara dan Revi. Bening refleks mengelus perutnya. Apa itu artinya, dia dan Gara akan berpisah jika tiba saatnya kelak?


"Bening, kau mau kuliah?" tanya nyonya besar sembari memejamkan mata, menikmati pijatan di pundaknya dari Bening. "Jawab saja yang jujur, Bening."


Bening menunduk, terasa pijatan itu melemah. Sekarang Bening tidak lagi memikirkan itu, ia hanya ingin mengabdi kepada Gara yang sekarang masih suaminya.


"Dulu, tujuan Bening ke Jakarta memang untuk kuliah, Ma. Tapi karena Dewi harus operasi, jadi uang tabungan bapak habis. Tapi tidak apa-apa, begini saja Bening sudah bersyukur."


"Jadi masih mau kuliah atau tidak?" tanya nyonya besar sekali lagi.


Bening akhirnya mengangguk. Tentu saja dia ingin kuliah. Dia ingin melanjutkan pendidikan hingga menjadi sarjana. Bening sosok yang cerdas ketika di sekolah dan akan sangat disayangkan jika ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


"Ya sudah, besok Mama beritahu Gara, biar dia yang urus."


"Maksudnya, Ma?"


"Kau kuliah ya, Bening. Sayang, umurmu masih muda sekali. Kejar ilmu sampai ke negeri cina, gapai mimpi setinggi-tingginya. Mama dan Papa bisa hidup enak di masa tua begini juga karena dulu kami pintar dan rajin sekolah. Semua anak Mama juga kuliah. Kau juga kuliah ya, tidak masalah kuliah meski nanti perutmu sudah buncit."


Bening tak mampu menjawab lagi, ia hanya bisa mensyukuri semuanya. Nyonya besar yang kata orang cerewet itu nyatanya sangat baik hati. Kalau Gara mengizinkan, Bening mau melanjutkan kuliahnya. Semua tergantung Gara, kalau Gara menyetujui, maka dia akan melanjutkan lagi cita-citanya yang sempat tertunda selama ini.