Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Bad Skenario!


Kabar resepsi besar-besaran yang akan diselenggarakan oleh Gara dan Bening akhirnya sampai ke teling Revi. Perempuan itu hampir terhuyung menghantam meja di ruang pribadinya ketika ia melihat berita pagi ini. Dia kira, Gara akan malu karena kemarin sudah banyak awak media mengkonfrontasi dirinya terus menerus mencari kebenaran tentang keberadaan istri kedua yang menjadi madu seorang model terkenal.


Cerita kini mulai simpang siur. Ada yang mulai meragukan semua pernyataan Revi kemarin-kemarin tapi tak banyak pula yang juga tetap menghujat Bening. Gara seolah menantang Revi untuk mengungkap identitas Bening secepatnya menjadi go publik dari yang tadinya tertutup dan sempat Revi manfaatkan sebagai ladang fitnah.


Jadi dengan kemarahan yang meledak-ledak, Revi pergi ke perusahaan Gara. Ia masuk ke dalam lift lalu setengah berlari menuju ruangan Gara dimana Gara tengah kedatangan tamu penting, rekan bisnisnya dari luar negeri.


"Maaf, Ibu, pak Gara sedang ada pertemuan penting dengan pihak asing di dalam ruangannya. Beliau meminta saya untuk melarang siapapun masuk ke dalam." Safira, sang sekretaris yang sekarang sudah lebih sopan dalam berpakaian berusaha menahan Revi yang sudah seperti orang kerasukan.


"Heh! Aku tak peduli bahkan jika yang berada di dalam sana adalah presiden sekalipun! Aku istri Gara, kamu jangan coba-coba melarangku!"


"Tapi ini perintah pak Gara, Bu. Mohon kesediaan Ibu Revi untuk menunggu dahulu."


"Menunggu kepalamu! Minggir, kalau tidak aku akan membuat kau kehilangan wajahmu hari ini juga!" Revi mengangkat jemarinya ayng berhias kuku panjang dan terawat, dia siap mencakar Safira yang masih saja berusaha menahan.


Revi nekat, ia menendang pintu hingga terkuak lebar, mata Gara seketika nyalang melihat Revi yang juga menatapnya dengan seribu kemarahan.


"I'm sorry sir, I need a minute to talk to her.please enjoy the light meal first.


Terpaksa Gara meminta izin untuk menghentikan sebentar pembahasannya dengan beberapa pria asing itu. Mereka mengangguk saja, membiarkan Gara pergi membawa Revi yang sudah mencoreng arang di mukanya.


"Sudah putus urat malumu?!" Gara menyentak Revi, membawanya menuju tempat lain yang jarang terjamah karyawan.


"Kau yang sudah putus urat malu, Gara! Apa maksudmu dengan mengadakan acara resepsi besar-besaran dengan mengundang banyak media?! Kau mau menunjukkan pada dunia bahwa ****** kampungan itu telah menjadi istrimu juga?!" tanta Revi dengan nada suara berapi-api karena marah.


"Ya! Dan jangan pernah menyebut Bening dengan sebutan serendah dirimu! Kau yang menantangku dengan skenario murahan yang kau buat beberapa hari belakangan ini! Jangan coba mengelak, Revi! Aku tahu betul siapa kau!"


Revi diam sesaat lalu ia memukul-mukul dada Gara, melampiaskan kemarahan juga kekalahannya karena sikap Gara yang tak juga mau menuruti keinginannya, kembali kepadanya.


"Aku hanya ingin kamu kembali! Kamu suamiku, aku tidak rela kamu berbagi hati dengannya!"


"Percuma, percuma kau merengek atau meminta atau bersujud di kakiku. Aku tidak hanya ingin anak dari Bening, aku juga sudah jatuh cinta betulan padanya! Jangan kira kau bisa menghalangi semua rencana yang sudah aku susun untuk pesta nanti."


"Revi, mau dipaksa bagaimanapun, kau dan aku tidak akan bisa bersatu lagi. Aku tidak mungkin bisa menjadi Gara yang dulu."


"Jangan berharap kamu bisa menceraikan aku dengan mudah, Gara! Sampai matipun kamu tetap suamiku."


Revi segera berlari, meninggalkan Gara yang hampir saja mengucap talak kepadanya. Revi mencengkram lengannya sendiri dengan kuat sampaj buku-buku jarinya terbenam di kulitnya yang seputih susu itu.


"Lihat saja, Bening, aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang! Kau berani merebut suamiku, maka jangan salahkan aku kelak akan aku rebut sesuatu yang akan lahir itu!"


Revi menghapus airmata kekalahannya. Ia keluar dari lift dan kembali menuju mobil menuju lokasi syuting yang sempat ditinggalkannya.


Ia melihat Nilam sedang membereskan peralatan.


"Kamu bukannya ingin sekali menjadi artis?" tanya Revi datar kepada Nilam yang lantas mendongak.


"Tidak lagi, Mbak, sudah kukubur dalam-dalam angan yang tinggi itu."


Revi tersenyum licik, ia mendekat, merangkul Nilam lalu memandang asistennya itu.


"Aku bisa memuluskan jalanmu untuk menjadi seorang artis. Memangnya, kau tak capek selalu jadi jongos artis seperti aku?"


Sejenak, Nilam diam tapi sejurus kemudian, Nilam menggeleng. Nilam berusaha untuk tidak memperdulikan rayuan Revi yang serupa bisikan setan itu.


"Aku bisa menjadikanmu model terkenal, punya uang banyak, kau bisa jadi artis seperti cita-citamu kemarin. Aku kenal banyak produser dan orang-orang terkenal di panggung hiburan."


Nilam menghentikan lagi kegiatannya, lalu dia memandang Revi serius.


"Memangnya apa yang Mbak inginkan dari saya?"


Revi tersenyum licik lalu membisikkan Nilam sesuatu. Nilam membulatkan matanya, Revi benar-benar sinting dan gila!