Laki-Laki Culun Psychopath

Laki-Laki Culun Psychopath
BAB 99 | S2


"Siapa kalian ?!"


Nadia bertanya dengan ekspresi terkejut di wajahnya melihat kondisi rumahnya. Terutama melihat dua orang bertopeng misterius dan melihat kondisi suaminya tak sadarkan diri dan terikat.


Jonathan yang mengenakan topeng, ia mamandang dingin ke arah Nadia. Isi kepalanya tiba-tiba teringat masa lalu pemilik tubuhnya. Lalu ia tersenyum dibalik topengnya.


"Ahh, anda benar-benar punya nyali untuk bertanya."


Nadia memandang salah satu dari mereka berdua yang membalas pertanyaannya. Nadien hanya bisa beridiri dibelakang Nadia. Jonathan yang melihat Nadien, ia sedikit terkejut.


Tapi ia segera menepis rasa terkejutnya melihat Gadis yang merupakan teman dari gadis yang ia pukul, namun ia menepis rasa terkejutnya.


"Apa mau kalian ? Dan kalian mau apakan suamiku ?" tanya Nadia dengan berani, meskipun dalam hatinya ia tak mencintai suaminya.


"Suamimu ya ?"


"Aku datang kesini hanya untuk bersenang-senang kepada suamimu ini, karena sudah berani memulainya." lanjutnya.


"Apa maksudmu ?" tanya Nadia.


"Intinya, Aku hanya ingin membalas semua perbuatan suamimu. Ahh,, aku juga ingin melakukan sesuatu padamu."


Nadia terdiam mendengarnya. Jantungnya berdetak kencang. Meski takut, ia harus berani, karena ia harus melindungi Putrinya.


Setelah mengatakan itu, Jonathan berbisik kepada Tony. Tony yang mendengarnya, segera menjalankan tugasnya. Ia berjalan melewati Jonathan, Nadia, dan Nadien.


Nadia yang melihat Tony yang berjalan menuju ruang kerja suaminya. "Kau mau apa ?"


Nadia segera bergerak untuk menghalanginya. Namun belum sempat bergerak, ia langsung urungkan niatnya saat mendengar ucapan Jonathan.


"Jika kamu berani melangkah dari tempatmu berdiri, aku tidak segan-segan membunuh putrimu."


Nadia menoleh dan memandang, seketika ia terbelalak melihat Jonathan menodongkan pistolnya ke arah Nadia dan Nadien. Nadien ya g berdiri di belakang Nadia hanya bisa bergetar ketakutan.


"Sebenarnya kamu siapa, dan apa yang kamu inginkan ?" tanya Nadia.


Saat akan menjawab, tiba-tiba Jonathan dikejutkan dibalik topengnya. Ia melihat seseorang yang berdiri jauh di belakang Nadia dan Nadien.


Orang itu berpakaian putih dan sedikit bercahaya. Yang membuat Jonathan terkejut, wajah orang itu sangat mirip dengannya. Orang itu tersenyum tulus padanya.


Jonathan menebak, kalau orang itu adalah arwah pemilik tubuhnya yang kini sedang melihat dirinya. Arwah pemilik tubuhnya perlahan tubuhnya memudar, dan menghilang.


Dan dia berkata sesuatu padanya. Meski terlihat seperti berbisik, tapi suaranya sangat jelas terdengar di telinganya. "Jangan sakiti ibuku, dan adikku."


Jonathan terdiam, lalu ia menurunkan pistolnya. Ia memandang dingin ke arah Nadia dan Nadien. Lalu ia membuka topeng konyolnya dan melemparnya sembarang. Nadia mengerut dahinya melihat sosok Jonathan yang sudah melepas topengnya. Namun untuk Nadien, ia terkejut melihatnya.


Nadien pun bersuara. "Kamu..!!"


Nadia menoleh dan memandang Putrinya. "Kamu mengenalnya ?"


"Dia yang 'ku ceritakan mah. Dia laki-laki yang sudah berani memukul wajah temanku." jawab Nadien.


Jonathan tersenyum menyeringai, lalu ia menjawab. "Kamu melaporkanku, aku tidak takut sama sekali. Apa yang kulakukan sekarang. Tidak ada hubungan dengan kejadian tadi siang."


Jonathan memandang sinis kepasa Jimmy yang masih belum sadarkan diri. Lalu Jonathan menampar keras di kepala Jimmy. Dan benar saja, Jimmy terbangun, dari raut wajahnya ia kesakitan di dahinya.


Jimmy melihat sekelilingnya, ia terkejut melihat Jonathan. Namun yang membuatnya lebih terkejut, dirinya terikat, dan mulutnya dilakban.


"Ahh, kamu sudah sadar Tuan Jimmy." kata Jonathan.


"Papah !!" ucap Nadien, dengan wajah sedihnya, dan disudut kedua matanya sudah ada cairan bening.


Disisi Jimmy, ia terkejut lagi melihat Nadia dan Nadien yang sedang menatap sedih padanya. Jimmy meronta, Nadia segera berjalan mendekatinya, Nadien pun mengekorinya.


Setelah mendekat, mereka berdua segera melepaskan ikatan tali yang mengikat kedua tangan dan kedua kakinya Jimmy. Jonathan membiarkankan mereka berdua melepaskan Jimmy.


Sebenarnya bukan membiarkannya, melainkan tubuhnya tidak bisa bergerak dari tempatnya untuk menghalangi mereka. Jelas sangat kesal, sudah ia ikat malah dilepas. Ia menduga kalau tubuhnya tidak bergerak karena masih ada arwah yang belum menghilang.


Jonathan menatap arwah yang masih berdiri tidak jauh darinya, melihat dirinya, dan semuanya. Arwah pemilik tubuhnya tersenyum melihat Nadia dan Nadien. Namun di balik senyumannya, Jonathan bisa ada kesedihan.


Dada Jonathan merasa sesak, bersamaan kepalanya terasa sakit. Tiba-tiba terlintas ada bayangan ingatan dari pemilik tubuhnya. Kesendiriannya setelah kematian ayahnya. Beberapa saat kemudian, rasa sakit dan sesaknya menghilang.


Jonathan terdiam, meski ia bukan pemilik dari tubuhnya, ia bisa merasakan rasa penderitaan yang dialami si pemilik tubuhnya. Lalu entah mengapa, air matanya pun. Ia segera mengusapnya.


Jonathan pun memandang ke arah tiga manusia. Nadia dan Nadien telah melepaskan ikatan tali yang mengikat Jimmy. Meski sudah terlepas, tubuh Jimmy masih lemas, mungkin karena masih ada efek bius. Ia dibantu berdiri oleh Nadia dan Nadien.


Jonathan menatap ke arah arwah yang masih berdiri tidak jauh darinya. Arwah pemilik tubuhnya, berwajah sedih melihat Pemandangannya itu. Lalu perlahan memudar dan menghilang.


Tatapan Jonathan pun beralih ke arah Nadia, Nadien, dan Jimmy. Ia tersenyum menyeringai. "Lihatlah keluarga ini, sungguh terlihat harmonis."


Jimmy memandang benci ke arah Jonathan. "Apa maksudmu, kau telah berani memperlakukanku seperti ini !!"


"Aku hanya memberimu sedikit pelajaran padamj, agar tidak mencari masalah padaku. Apa kamu kira aku tidak tau kalau kamu telah menyuruh seseorang untuk mencuri data-data perusahaanku ?" kata Jonathan tersenyum.


Jimmy terdiam membeku mendengar. Ia benar-benar tidak menyangka kalau laki-laki yang berdiri dihadapan bisa mengetahuinya. Jonathan kembali bersuara. "Tapi sungguh menyedihkan dirimu, orang kau suruh belum mendapat bayaran. Apa kamu sudah tidak punya uang ?"


Jimmy melotot ke arah Jonathan, ia benar-benar malu di katakan seperti itu. Apalagi ada Nadia dan Nadien di dekatnya dan mendengarnya. Sebenarnya perusahaannya masih berdiri, namun ia lakukan itu karena keserakahannya.


Nadia dan Nadien yang sedang merangkul Jimmy di sisi kanan kirinya. Menatap Jimmy bersamaan setelah mendengar kata-kata Jonathan. Jonathan tersenyum menyeringai melihatnya.


"Setelah apa yang telah kamu lakukan, kamu masih belum puas dengan apa yang kamu dapat ?" kata Jonathan tersenyum menyeringai.


"Jonathan, kita bisa bicarakan ini baik-baik." kata Jimmy.


Nadia terkejut mendengarnya, ia pun menoleh dan menatap ke arah Jonathan. Ia meneliti wajah dan sorot mata Jonathan. Beberapa detik kemudian, ia terbelalak.


"Joelian ?" ucap Nadia spontan.


Karena tatapan tajam milik Jonathan sangat mirip dengan mantan suaminya. Seakan ia melihat sosok Mantan suaminya pada diri Jonathan.


Jonathan menatap dingin ke arah Nadia. "Kamu tidak pantas menyebut nama ayahku."